Mandiri genjot transaksi e-money
Senin, 26 November 2012 - 08:34 WIB
Mandiri genjot transaksi e-money
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menargetkan transaksi e-money meningkat hingga 100–150 persen pada 2013. Hingga akhir 2012 transaksi e-money perseroan ditargetkan mencapai Rp10 juta per bulan.
Sedangkan pada September 2012 transaksi e-money tersebut sudah mencapai Rp7,5 juta per bulan. Direktur Retail and Micro Bankin BMRI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, perseroan ingin peningkatan e-money juga terjadi dari sisi jumlah pengguna kartu yang diharap mencapai lebih dari tiga juta orang.
“Kami berharap pengguna e-money bisa bertambah 600.000 tahun depan. Sementara saat ini, sudah 2,5 juta orang,” katanya di sela-sela Media Gathering Bank Mandiri di Batam akhir pekan lalu.
Dia mengungkapkan, untuk meningkatkan kinerja tersebut, perseroan berencana memperluas pelayanan hingga ke sektor transportasi di beberapa daerah. “Kita akan menggandeng 10 BPD untuk mengembangkan e-money di sektor transportasi,” katanya.
Dalam waktu dekat perseroan akan menggaet Bank DKI untuk memfasilitasi e-money Transjakarta. Di Jakarta, ungkap Budi, kemudahan pembayaran melalui kartu ini baru dilayani oleh Bank DKI melalui produknya bernama JakCard. Namun, penetrasinya belum menyentuh seluruh pengguna Transjakarta.
“Sehingga perseroan tertarik untuk mengembangkan produk baru yang bisa melayani pengguna Transjakarta,” ujarnya.
Selain memperluas pelayanan hingga ke sektor transportasi, peningkatan e-money ini juga terjadi karena ada dorongan dari Bank Indonesia (BI). Pekan lalu BI akhirnya menyetujui ada aturan branchless banking. Dengan aturan tersebut, transaksi perbankan bisa dilakukan tanpa melibatkan perbankan.
Penerbitan aturan ini didasarkan pada penetrasi perbankan yang masih rendah. Budi menyebutkan, saat ini jumlah pemilik rekening perbankan baru sekitar 60 juta orang.
Padahal, jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta orang. Hal senada dikatakan Direktur Finance and Strategic Bank Mandiri Pahala N Mansury. Dia mengatakan, dari delapan kebijakan baru yang diambil Bank Indonesia, aturan soal branchless banking adalah yang paling berdampak luas.
“Branchless banking memungkinkan segmen yang tadinya tidak tersentuh oleh jasa keuangan, 40 juta jumlah kartu SIM. Mungkin jumlah orang yang bisa mendapatkan akses keuangan bisa menjadi dua kali lipat lagi,” ungkapnya.
Sedangkan pada September 2012 transaksi e-money tersebut sudah mencapai Rp7,5 juta per bulan. Direktur Retail and Micro Bankin BMRI Budi Gunadi Sadikin mengatakan, perseroan ingin peningkatan e-money juga terjadi dari sisi jumlah pengguna kartu yang diharap mencapai lebih dari tiga juta orang.
“Kami berharap pengguna e-money bisa bertambah 600.000 tahun depan. Sementara saat ini, sudah 2,5 juta orang,” katanya di sela-sela Media Gathering Bank Mandiri di Batam akhir pekan lalu.
Dia mengungkapkan, untuk meningkatkan kinerja tersebut, perseroan berencana memperluas pelayanan hingga ke sektor transportasi di beberapa daerah. “Kita akan menggandeng 10 BPD untuk mengembangkan e-money di sektor transportasi,” katanya.
Dalam waktu dekat perseroan akan menggaet Bank DKI untuk memfasilitasi e-money Transjakarta. Di Jakarta, ungkap Budi, kemudahan pembayaran melalui kartu ini baru dilayani oleh Bank DKI melalui produknya bernama JakCard. Namun, penetrasinya belum menyentuh seluruh pengguna Transjakarta.
“Sehingga perseroan tertarik untuk mengembangkan produk baru yang bisa melayani pengguna Transjakarta,” ujarnya.
Selain memperluas pelayanan hingga ke sektor transportasi, peningkatan e-money ini juga terjadi karena ada dorongan dari Bank Indonesia (BI). Pekan lalu BI akhirnya menyetujui ada aturan branchless banking. Dengan aturan tersebut, transaksi perbankan bisa dilakukan tanpa melibatkan perbankan.
Penerbitan aturan ini didasarkan pada penetrasi perbankan yang masih rendah. Budi menyebutkan, saat ini jumlah pemilik rekening perbankan baru sekitar 60 juta orang.
Padahal, jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta orang. Hal senada dikatakan Direktur Finance and Strategic Bank Mandiri Pahala N Mansury. Dia mengatakan, dari delapan kebijakan baru yang diambil Bank Indonesia, aturan soal branchless banking adalah yang paling berdampak luas.
“Branchless banking memungkinkan segmen yang tadinya tidak tersentuh oleh jasa keuangan, 40 juta jumlah kartu SIM. Mungkin jumlah orang yang bisa mendapatkan akses keuangan bisa menjadi dua kali lipat lagi,” ungkapnya.
(rna)
Lihat Juga :