Capital inflow dan prospek go public

Selasa, 27 November 2012 - 10:04 WIB
Capital inflow dan prospek...
Capital inflow dan prospek go public
A A A
Indonesia kian menarik sebagai tempat bersemayamnya dana asing. Hal ini bisa disimak dari pernyataan Bank Indonesia (BI) yang mengatakan bahwa pada beberapa kuartal ke depan aliran dana asing (capital inflow) ke Indonesia semakin deras.

Dana asing itu semakin betah menetap di Indonesia karena fundamental ekonomi makro Indonesia sangat baik dengan tingkat pertumbuhan antara 6,3–6,5 persen. Secara kuantitatif, indikasi masih derasnya aliran capital inflow ini tercermin pada kenaikan kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) yang cukup tinggi.

Dana Kementerian Keuangan sejak Juli hingga akhir pekan kedua November 2012 memperlihatkan adanya lonjakan kepemilikan oleh asing di SBN sebesar Rp33 triliun, yaitu dari Rp224,4 triliun menjadi Rp257,1 triliun. Bukan hanya itu,berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), selama kuartal III/2012, investor asing sudah mencatat posisi beli bersih (nett buying) sebesar Rp14,355 triliun. Jumlah ini bahkan mengalahkan posisi nett buying asing selama semester I.

Pada kuartal I/2012 posisi nett buying asing mencapai Rp10 triliun, sedangkan pada kuartal II/2012, investor asing mencatatkan nett sell sebesar Rp8,198 triliun. Jika dijumlahkan, nilai nett buying asing selama kuartal III/2012 (hingga akhir September) telah mencapai Rp16,178 triliun. Banyak kalangan memprediksi lonjakan capital inflow itu belum akan berhenti.

Alasannya, selain fundamental ekonomi Indonesia cukup stabil dan mampu memberikan return yang menarik, Amerika Serikat (AS) – pascaterpilihnya kembali Barack Obama sebagai Presiden AS untuk masa jabatannya yang kedua – juga ikut memberikan andil yang signifikan. AS kemungkinan besar akan kembali menggelontorkan likuiditas dalam program lanjutan Quantitative Easing III.

Program ini jelas akan meningkatkan likuiditas global. Apalagi jika AS jadi memperpanjang kebijakan fiscal cliff, yakni pengurangan pajak penghasilan. BI sendiri selaku otoritas moneter melihat bahwa pada November dan Desember mendatang aliran capital inflow ke sistem keuangan Indonesia akan semakin deras. Meski tidak bisa diprediksi berapa besaran dana asing yang masih akan masuk, tetapi masuknya dana asing ini menjadi bukti bahwa investor asing masih menaruh kepercayaan cukup besar terhadap pasar modal Indonesia.

Dana asing ini umumnya menyasar saham-saham blue chips dan berkapitalisasi besar. Tidak heran jika pergerakan harga saham-saham unggulan selama kuartal III ini kemudian mencatatkan kenaikan yang cukup tinggi. Begitu pula pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama kuartal III/2012, beberapa kali mencatatkan adanya rekor baru. Memasuki kuartal IV pun IHSG masih mencetak rekor baru.

Rekor terakhir terjadi pada 30 Oktober 2012, tepatnya di posisi 4.364,60. Dengan derasnya capital inflow tadi, mayoritas pelaku pasar yakin bahwa hingga akhir Desember nanti IHSG masih akan menciptakan rekor baru. Apalagi, dari hasil publikasi kinerja kuartalan, umumnya emiten unggulan berhasil membukukan peningkatan kinerja yang cukup tinggi selama kuartal III tahun ini. Diprediksi, kinerja emiten sepanjang 2012 juga mencatat pertumbuhan yang baik.

Antisipasi


Meski arus capital inflow cukup deras, sebaiknya pelaku pasar tidak terlena. Sebab, ada sisi negatif dari capital inflow tersebut. Bagaimanapun, capital inflow ini adalah dana panas (hot money), dana jangka pendek yang sewaktu-waktu dapat melenggang keluar. Jika capital inflow yang kini sedang bersemayam itu keluar bersamaan, maka yang terjadi adalah capital outflow atau reversal. Hal seperti ini tentu akan menimbulkan shock bagi perekonomian, terutama nilai tukar rupiah.

Dari sisi BI, untuk jangka panjang langkah antisipasi yang dilakukan antara lain akan menaikkan bunga fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi). Untuk jangka pendek, BI masih belum mengungkapkan kebijakan apa yang akan diterapkan dalam rangka menyerap kelebihan likuiditas itu. Ada beberapa instrumen pasar yang bisa diandalkan untuk itu, antara lain operasi moneter reverse repo, menaikkan giro wajib minimum, dan menaikkan bunga acuan BI Rate.

Prospek go public

Selain antisipasi dari sisi moneter,sebenarnya pasar modal juga memiliki peluang untuk menyerap likuiditas yang berlimpah tadi. Misalnya, dengan menciptakan instrumen investasi yang lebih bervariasi. Dari sisi mikro, perusahaan yang membutuhkan dana untuk ekspansi atau kebutuhan lainnya bisa menjadikan derasnya capital inflow ini sebagai momentum yang baik untuk melakukan penawaran umum Perdana saham alias go public.

Dengan begitu, kelebihan likuiditas itu terserap ke korporasi dan bisa dimanfaatkan untuk pengembangan usaha. Perusahaan yang sudah siap masuk pasar, sebaiknya tidak menunda-nunda niat untuk segera melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Sebab,jika ditunda- tunda bisa kehilangan momentum. Jika perusahaan memiliki fundamental yang stabil, prospek usaha yang baik,dan dikelola dengan manajemen profesional maka bisa jadi saham yang ditawarkan akan diminati oleh investor publik, termasuk investor asing.

Bahkan, banjirnya capital inflow ini juga menjadi momentum yang baik bagi emiten-emiten untuk meningkatkan likuiditasnya melalui penambahan modal dengan menerbitkan saham baru (rights issue) atau menerbitkan surat utang atau obligasi. Dengan begitu, capital inflow tadi bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kegiatan usaha emiten. Tim BEI
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
BEI Tutup Kode Domisili...
BEI Tutup Kode Domisili Investor, Intip Penjelasannya!
Daftar 10 Emiten Ini...
Daftar 10 Emiten Ini Disuspensi BEI selama 1 Tahun
Grand Launching ASEAN...
Grand Launching ASEAN Investment Challenge 2023
Besok 5 Perusahaan Ini...
Besok 5 Perusahaan Ini Berebutan Cari Duit di Pasar Modal
Rapor Bursa Sepekan,...
Rapor Bursa Sepekan, Kapitalisasi Pasar Naik Jadi Rp9.563 Triliun
Melantai Perdana di...
Melantai Perdana di Bursa, Saham PT Segar Kumala Indonesia Melonjak 24,74 Persen
Berita Terkini
Warga India Gila Emas,...
Warga India 'Gila' Emas, Perusahaan Gadai Rusia Bidik Pasar Rp89.038 Triliun
1 menit yang lalu
Asabri Dorong Transformasi...
Asabri Dorong Transformasi Layanan Berbasis ESG, Kepuasan Peserta Capai 96,03%
2 jam yang lalu
Distribusi BBM di Kota...
Distribusi BBM di Kota Medan Makin Lancar, Antrean di SPBU Mulai Normal
2 jam yang lalu
Jebakan Ilusi PDB, Mantan...
Jebakan Ilusi PDB, Mantan Menkeu Fuad Bawazier Ungkap Fakta di Balik Utang RI Rp8.000 Triliun
3 jam yang lalu
AKPY-BPDP Latih Pekebun...
AKPY-BPDP Latih Pekebun Sawit di Paser Tingkatkan Nilai Jual TBS
3 jam yang lalu
Minat Berkurang, Harga...
Minat Berkurang, Harga Patokan Ekspor Emas Turun di Periode Juli 2026
5 jam yang lalu
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved