SPBU perumahan elite akan stop jual premium
Rabu, 28 November 2012 - 08:57 WIB
SPBU perumahan elite akan stop jual premium
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah berencana untuk menghentikan penjualan premium di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), yang berlokasi atau berdekatan dengan perumahan mewah.
"Di tempat-tempat rumah mewah, di tempat yang sekelilingnya adalah orang yang cukup (kaya), di situ ada SPBU yang jelas pertamax-nya ada. Ditutup saja penjualan premiumnya," ucap Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini saat ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (27/11/2012) malam.
Rencana ini, sambung Rudi, bertujuan agar penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi tepat sasaran. Pasalnya, saat ini sebagian besar BBM subsidi justru dinikmati kalangan mampu. "Untuk komplek rumah elite pantaslah premium tidak perlu diadakan," tambah dia.
Lebih lanjut, Rudi meminta masyarakat golongan mampu agar dengan sadar tidak membeli BBM subsidi yang sebenarnya ditujukan bagi kalangan menengah kebawah.
"Orang yang mobilnya bagus, yang CC-nya besar, terutama dapat saudara lihat mobil yang injection, yang pakai itu semua harus menggunakan oktan tinggi yang nonsubsidi," ujar Rudi.
Sebelumnya, Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (IKA ITS) mengungkapkan, 70 persen lebih BBM subsidi dinikmati oleh golongan yang sebenarnya tidak layak disubsidi.
"Mayoritas pengguna BBM subsidi itu, lebih dari 70 persen adalah orang yang masuk kategori golongan mampu dan tidak pantas untuk disubsidi,” terang Ketua Umum IKA ITS Irnanda Laksanawan beberapa waktu lalu.
"Di tempat-tempat rumah mewah, di tempat yang sekelilingnya adalah orang yang cukup (kaya), di situ ada SPBU yang jelas pertamax-nya ada. Ditutup saja penjualan premiumnya," ucap Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini saat ditemui di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (27/11/2012) malam.
Rencana ini, sambung Rudi, bertujuan agar penyaluran bahan bakar minyak (BBM) subsidi tepat sasaran. Pasalnya, saat ini sebagian besar BBM subsidi justru dinikmati kalangan mampu. "Untuk komplek rumah elite pantaslah premium tidak perlu diadakan," tambah dia.
Lebih lanjut, Rudi meminta masyarakat golongan mampu agar dengan sadar tidak membeli BBM subsidi yang sebenarnya ditujukan bagi kalangan menengah kebawah.
"Orang yang mobilnya bagus, yang CC-nya besar, terutama dapat saudara lihat mobil yang injection, yang pakai itu semua harus menggunakan oktan tinggi yang nonsubsidi," ujar Rudi.
Sebelumnya, Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (IKA ITS) mengungkapkan, 70 persen lebih BBM subsidi dinikmati oleh golongan yang sebenarnya tidak layak disubsidi.
"Mayoritas pengguna BBM subsidi itu, lebih dari 70 persen adalah orang yang masuk kategori golongan mampu dan tidak pantas untuk disubsidi,” terang Ketua Umum IKA ITS Irnanda Laksanawan beberapa waktu lalu.
(rna)
Lihat Juga :