Desember, Pemerintah Jabar datangkan ribuan sapi
Rabu, 28 November 2012 - 16:27 WIB
Desember, Pemerintah Jabar datangkan ribuan sapi
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah berencana mendatangkan ribuan sapi impor dan domestik untuk memasok kelangkaan sapi di Jabar.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar Ferry Sofwan Arif menjelaskan, pemerintah melalui Departemen Perdagangan akan mendatangkan 5000 ekor sapi dari Nusat Tengga Barat (NTB) dan 20.000 ekor sapi ekor.
"Ribuan sapi itu akan dispulai ke Jakarta dan Jabar pada bulan Desember ini," jelas Ferry di Bandung, Rabu (28/11/2012).
Menurut dia, ribuan sapi itu didatangkan untuk memasok kelangkaan daging sapi di pasaran. Selain itu, ribuan sapi itu diharapkan bisa menstabilkan harga daging sapi jelang Natal dan Tahun Baru 2013.
Diakui Ferry, kebijakan impor sapi merupakan keputusan sulit. Biasanya, kebijakan ini kurang menguntungkan peternak. Namun demikian, langkah tersebut mesti diambil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Serta menstabilkan harga sapi menjelang akhir tahun.
Karena, menurut Ferry, kelangkaan sapi di Jabar tidak lepas dari ulah spekulan sapi yang ingin ambil untung jelang akhir tahun. "Kami memprediksi, spekulan ingin ambil untung di akhir tahun jelang Natal dan Tahun Baru 2013. Mereka menahan pasokan sapi untuk tidak dipotong saat ini," beber Ferry.
Menurut Ferry, berdasarkan data dari Dinas Pertanian Jabar, pasokan sapi dari daerah lain seperti Jawa Tengah ke Jawa Barat mencukupi. Di beberapa cek poin, sapi sapi tersebut telah sesuai dengan pendistribusiannya. Namun demikian, sapi tersebut kemungkinan besar tidak di potong. Tapi di simpan. "Cek poin di Banjar dan Losari, semua sesuai kebutuhan," pungkas dia.
Ferry memperkirakan, spekulan ingin ambil untung di penghujung tahun 2012. Mereka menahan pasokan sapi, untuk dijual pada Natal dan Tahun Baru 2013. Bukti bermainnya spekulan tak lepas dari permainan harga sejak awal November sampai saat ini. Menurut dia, sejak awal November, harga sapi terus mengalami kenaikan.
Dijelaskan Ferry, pada 5 November 2012, harga daging sapi berkisar Rp84.000 per kg. Satu minggu kemudian, harga sapi tembus di angka Rp84.000 per kg. Pada pekan ini, harga daging sapi rata rata di atas 90.000 per kg. Harga tersebut diperkirakan akan terus merangkak naik sampai akhir tahun 2012. "Ada kemungkinan, spekulan mengacu harga sapi di Jakarta," imbuh dia.
Apabila harga daging sapi di Jabar mengacu ke Jakarta, maka harga daging sapi akan sangat mahal. Diakui dia, satu satunya cara yang bisa dilakukan yaitu segera mendatangkan sapi impor dan dari NTB. Harapannya, harga dan pasokan sapi lebih stabil.
Walaupun demikian, Ferry berharap, para spekulan segera melepas sapi sapinya dan segera di pasarkan. Karena, imbas dari kelangkaan sapi berdampak pada industri pengolah sapi di Jabar.
"Industri bakso, dendeng, dan abon yang paling terkena dampaknya. Mereka harus menggunakan daging sapi segar," jelas dia.
Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, kelangsungan industri pengolahan sapi akan terancam. Untuk diketahui, kebutuhan sapi di Jabar mencapai 500.000 ekor sapi per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 70%-nya masuk sektor industri. Sedangkan untuk kepentingan konsumsi hanya terserap 30 persen.
"Kalau untuk kepentingan konsumsi, masyarakat bisa beralih menggunakan sumber protein lainnya. Tapi kalau untuk industri, sulit dialihkan," tegas Ferry. Beberapa industri pengolahan sapi di Jabar juga mulai bergejolak. Beberapanya bahkan telah berhenti beroperasi untuk sementara waktu.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar Ferry Sofwan Arif menjelaskan, pemerintah melalui Departemen Perdagangan akan mendatangkan 5000 ekor sapi dari Nusat Tengga Barat (NTB) dan 20.000 ekor sapi ekor.
"Ribuan sapi itu akan dispulai ke Jakarta dan Jabar pada bulan Desember ini," jelas Ferry di Bandung, Rabu (28/11/2012).
Menurut dia, ribuan sapi itu didatangkan untuk memasok kelangkaan daging sapi di pasaran. Selain itu, ribuan sapi itu diharapkan bisa menstabilkan harga daging sapi jelang Natal dan Tahun Baru 2013.
Diakui Ferry, kebijakan impor sapi merupakan keputusan sulit. Biasanya, kebijakan ini kurang menguntungkan peternak. Namun demikian, langkah tersebut mesti diambil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Serta menstabilkan harga sapi menjelang akhir tahun.
Karena, menurut Ferry, kelangkaan sapi di Jabar tidak lepas dari ulah spekulan sapi yang ingin ambil untung jelang akhir tahun. "Kami memprediksi, spekulan ingin ambil untung di akhir tahun jelang Natal dan Tahun Baru 2013. Mereka menahan pasokan sapi untuk tidak dipotong saat ini," beber Ferry.
Menurut Ferry, berdasarkan data dari Dinas Pertanian Jabar, pasokan sapi dari daerah lain seperti Jawa Tengah ke Jawa Barat mencukupi. Di beberapa cek poin, sapi sapi tersebut telah sesuai dengan pendistribusiannya. Namun demikian, sapi tersebut kemungkinan besar tidak di potong. Tapi di simpan. "Cek poin di Banjar dan Losari, semua sesuai kebutuhan," pungkas dia.
Ferry memperkirakan, spekulan ingin ambil untung di penghujung tahun 2012. Mereka menahan pasokan sapi, untuk dijual pada Natal dan Tahun Baru 2013. Bukti bermainnya spekulan tak lepas dari permainan harga sejak awal November sampai saat ini. Menurut dia, sejak awal November, harga sapi terus mengalami kenaikan.
Dijelaskan Ferry, pada 5 November 2012, harga daging sapi berkisar Rp84.000 per kg. Satu minggu kemudian, harga sapi tembus di angka Rp84.000 per kg. Pada pekan ini, harga daging sapi rata rata di atas 90.000 per kg. Harga tersebut diperkirakan akan terus merangkak naik sampai akhir tahun 2012. "Ada kemungkinan, spekulan mengacu harga sapi di Jakarta," imbuh dia.
Apabila harga daging sapi di Jabar mengacu ke Jakarta, maka harga daging sapi akan sangat mahal. Diakui dia, satu satunya cara yang bisa dilakukan yaitu segera mendatangkan sapi impor dan dari NTB. Harapannya, harga dan pasokan sapi lebih stabil.
Walaupun demikian, Ferry berharap, para spekulan segera melepas sapi sapinya dan segera di pasarkan. Karena, imbas dari kelangkaan sapi berdampak pada industri pengolah sapi di Jabar.
"Industri bakso, dendeng, dan abon yang paling terkena dampaknya. Mereka harus menggunakan daging sapi segar," jelas dia.
Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, kelangsungan industri pengolahan sapi akan terancam. Untuk diketahui, kebutuhan sapi di Jabar mencapai 500.000 ekor sapi per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 70%-nya masuk sektor industri. Sedangkan untuk kepentingan konsumsi hanya terserap 30 persen.
"Kalau untuk kepentingan konsumsi, masyarakat bisa beralih menggunakan sumber protein lainnya. Tapi kalau untuk industri, sulit dialihkan," tegas Ferry. Beberapa industri pengolahan sapi di Jabar juga mulai bergejolak. Beberapanya bahkan telah berhenti beroperasi untuk sementara waktu.
(gpr)
Lihat Juga :