Rapat bahas MRT, Jokowi-Ahok jadi pendiam
Rabu, 28 November 2012 - 17:04 WIB
Rapat bahas MRT, Jokowi-Ahok jadi pendiam
A
A
A
Sindonews.com - Sudah lewat dari satu jam pemaparan dan penjelasan terkait mega proyek MRT dimulai. Namun Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Wakil Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama masih belum mengeluarkan suara sedikitpun.
Rapat diketahui dimulai sejak pukul 15.15 WIB sampai saat ini. Rapat dimulai dengan pemaparan dari Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tribudi Rahardjo yang cukup singkat kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.
Sehabis pemaparan, rapat diilanjutkan dengan mendengarkan aspirasi maupun pendapat dari perwakilan warga yang tinggal di wilayah Fatmawati.
Ternyata, waktu lebih banyak terbuang untuk mendengarkan aspirasi dari warga tersebut. Bahkan, salah seorang warga Fatmawati menyampaikan keberatannya dengan pembangunan MRT.
"Dalam waktu 3 atau 5 menit lewat kereta betapa bisingnya kereta lewat.
Tolong diperhatikan dan dipikirkan, Fatmawati ke Panglima Polim sudah berbentuk usaha industri," kata salah satu warga dalam rapat terbuka tersebut.
Selain itu, warga yang mengaku dari komunitas pasar tradisional wilayah Fatmawati dan Panglima Polim juga menyatakan rasa perihatinnya apabila mega proyek MRT tetap dilanjutkan.
Namun, warga itu tetap mendukung pembangunan MRT, tapi MRT yang berada di bawah tanah.
"Kami sangat prihatin, Pasar Blok A, Pasar Mende, Pasar Cipete akan berdampak. Disitu akan berdampak berapa banyak yang akan di PHK. Tetapi kami mendukung proyek MRT di bawah tanah," tukas warga tersebut.
Gubernur dan Wakil Gubernur terlihat hanya diam memperhatikan, dan sesekali menunduk mendengarkan aspirasi warga itu satu persatu.
Rapat diketahui dimulai sejak pukul 15.15 WIB sampai saat ini. Rapat dimulai dengan pemaparan dari Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tribudi Rahardjo yang cukup singkat kepada Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.
Sehabis pemaparan, rapat diilanjutkan dengan mendengarkan aspirasi maupun pendapat dari perwakilan warga yang tinggal di wilayah Fatmawati.
Ternyata, waktu lebih banyak terbuang untuk mendengarkan aspirasi dari warga tersebut. Bahkan, salah seorang warga Fatmawati menyampaikan keberatannya dengan pembangunan MRT.
"Dalam waktu 3 atau 5 menit lewat kereta betapa bisingnya kereta lewat.
Tolong diperhatikan dan dipikirkan, Fatmawati ke Panglima Polim sudah berbentuk usaha industri," kata salah satu warga dalam rapat terbuka tersebut.
Selain itu, warga yang mengaku dari komunitas pasar tradisional wilayah Fatmawati dan Panglima Polim juga menyatakan rasa perihatinnya apabila mega proyek MRT tetap dilanjutkan.
Namun, warga itu tetap mendukung pembangunan MRT, tapi MRT yang berada di bawah tanah.
"Kami sangat prihatin, Pasar Blok A, Pasar Mende, Pasar Cipete akan berdampak. Disitu akan berdampak berapa banyak yang akan di PHK. Tetapi kami mendukung proyek MRT di bawah tanah," tukas warga tersebut.
Gubernur dan Wakil Gubernur terlihat hanya diam memperhatikan, dan sesekali menunduk mendengarkan aspirasi warga itu satu persatu.
(gpr)
Lihat Juga :