Tiga bank investasi siap suntik Sony Corp
Kamis, 29 November 2012 - 09:28 WIB
Tiga bank investasi siap suntik Sony Corp
A
A
A
Sindonews.com – Perusahaan elektronik raksasa Sony Corp sedang melakukan pendekatan kepada tiga bank investasi terkait rencana penjualan unit bisnis baterainya. Langkah tersebut dilakukan di tengah upaya melepas aset noninti dan fokus menghidupkan kembali bisnis consumer elektronik yang sedang lesu.
Sumber perbankan yang dikutip Reuters kemarin mengatakan, penjualan unit bisnis yang mempekerjakan 2.700 orang itu akan membantu Sony memangkas biaya karena telah melakukan restrukturisasi pada operasionalnya. Tahun lalu unit bisnis baterai Sony membukukan penjualan USD1,74 miliar.
Seperti diberitakan sebelumnya, perusahaan yang menghasilkan berbagai gadget inovatif pada era 1970–1980 tersebut kini tengah terpukul oleh lemahnya permintaan di sektor televisi karena ketatnya persaingan.
Bisnis televisi Sony mengalami kerugian besar sehingga nilai pasar perusahaan telah merosot ke bawah USD10 miliar. Pekan lalu lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan peringkat atas utang Sony ke status sampah “junk”.
Sebelumnya Chief Executive Officer (CEO) Sony Kazuo Hirai berjanji membangun kembali perusahaan di bisnis permainan, digital imaging, dan perangkat mobile. Sony juga bertekad meningkatkan usaha baru di bidang perangkat medis.
Lebih lanjut sumber terdekat mengungkapkan, selain tiga bank investasi, pembeli potensial unit baterai Sony Energy Devices Corp itu termasuk Taiwan Hon Precision Industry Hai dan BYD Co Ltd. “Saat ini Hon Hai juga tengah melakukan negosiasi untuk menjadi pemegang saham produsen televisi terbesar Jepang Sharp Corp,” ujar sumber dikutip Reuters kemarin.
Sumber tersebut menambahkan, kendati terdapat penguatan yen, ketertarikan membeli unit bisnis baterai Sony terutama datang dari pembeli asing. Juru Bicara Sony George Boyd menolak berkomentar mengenai kemungkinan penjualan bisnis yang memproduksi baterai lithium-ion untuk smartphone, tablet dan personal computer (PC) oleh perusahaan.
“Dalam pengumuman strategi bisnis perusahaan kami pada April lalu, kami telah mengatakan akan mengeksplorasi kerja sama dalam bisnis baterai kendaraan dan penyimpanan baterai,” imbuh Boyd.
Menurut riset IHS iSuppli, saat ini Sony tengah berjuang untuk bersaing dengan perusahaan saingan asal Korea Selatan (Korsel) dalam bisnis baterai yang bernilai USD18 miliar per tahun. Menanggapi hal itu sumber perbankan mengutarakan, bisnis baterai merupakan contoh utama dari kerugian aset perusahaan yang tidak diinginkan, sehingga tidak masuk akal untuk perusahaan tetap mempertahankannya.
Sekadar informasi, Sony memproduksi 74 juta baterai litium pada Juli–September, hampir 40 persen lebih sedikit dibandingkan pada kuartal pertama 2008 lalu, ketika output melampaui Samsung SDi Co Ltd dan LG Chem Ltd.
Sumber perbankan yang dikutip Reuters kemarin mengatakan, penjualan unit bisnis yang mempekerjakan 2.700 orang itu akan membantu Sony memangkas biaya karena telah melakukan restrukturisasi pada operasionalnya. Tahun lalu unit bisnis baterai Sony membukukan penjualan USD1,74 miliar.
Seperti diberitakan sebelumnya, perusahaan yang menghasilkan berbagai gadget inovatif pada era 1970–1980 tersebut kini tengah terpukul oleh lemahnya permintaan di sektor televisi karena ketatnya persaingan.
Bisnis televisi Sony mengalami kerugian besar sehingga nilai pasar perusahaan telah merosot ke bawah USD10 miliar. Pekan lalu lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan peringkat atas utang Sony ke status sampah “junk”.
Sebelumnya Chief Executive Officer (CEO) Sony Kazuo Hirai berjanji membangun kembali perusahaan di bisnis permainan, digital imaging, dan perangkat mobile. Sony juga bertekad meningkatkan usaha baru di bidang perangkat medis.
Lebih lanjut sumber terdekat mengungkapkan, selain tiga bank investasi, pembeli potensial unit baterai Sony Energy Devices Corp itu termasuk Taiwan Hon Precision Industry Hai dan BYD Co Ltd. “Saat ini Hon Hai juga tengah melakukan negosiasi untuk menjadi pemegang saham produsen televisi terbesar Jepang Sharp Corp,” ujar sumber dikutip Reuters kemarin.
Sumber tersebut menambahkan, kendati terdapat penguatan yen, ketertarikan membeli unit bisnis baterai Sony terutama datang dari pembeli asing. Juru Bicara Sony George Boyd menolak berkomentar mengenai kemungkinan penjualan bisnis yang memproduksi baterai lithium-ion untuk smartphone, tablet dan personal computer (PC) oleh perusahaan.
“Dalam pengumuman strategi bisnis perusahaan kami pada April lalu, kami telah mengatakan akan mengeksplorasi kerja sama dalam bisnis baterai kendaraan dan penyimpanan baterai,” imbuh Boyd.
Menurut riset IHS iSuppli, saat ini Sony tengah berjuang untuk bersaing dengan perusahaan saingan asal Korea Selatan (Korsel) dalam bisnis baterai yang bernilai USD18 miliar per tahun. Menanggapi hal itu sumber perbankan mengutarakan, bisnis baterai merupakan contoh utama dari kerugian aset perusahaan yang tidak diinginkan, sehingga tidak masuk akal untuk perusahaan tetap mempertahankannya.
Sekadar informasi, Sony memproduksi 74 juta baterai litium pada Juli–September, hampir 40 persen lebih sedikit dibandingkan pada kuartal pertama 2008 lalu, ketika output melampaui Samsung SDi Co Ltd dan LG Chem Ltd.
(rna)
Lihat Juga :