Daging sapi mahal, telur & ikan gantinya
Kamis, 29 November 2012 - 15:58 WIB
Daging sapi mahal, telur & ikan gantinya
A
A
A
Sindonews.com - Melonjaknya daging sapi saat ini disebabkan ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi. Untuk menyiasatinya, Pemerintah Kota Depok mengkampanyekan gerakan masyarakat gemar memakan telur dan ikan.
"Kelangkaan daging sapi ini diawali dari Pemerintah yang menstop daging impor. Karena itu importir menjerit dan akhirnya terjadi lah kelangkaan daging sapi. Tapi sebenarnya bisa diatasi jika daging itu digantikan dengan telur dan ikan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Depok, Zalfinus Irwan di Balai Kota Depok, Kamis (29/11/2012).
Menurut Zalfinus, stok telur dan daging di Kota Depok aman jika warga Depok ramai-ramai makan telur dan ikan. Pasokan telur ke Depok dikirim dari wilayah Jawa Barat. Baik itu dari Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Dari Jawa Timur Depok mendapatkan pasokan telur.
Saat ini konsumsi telur di Depok mencapai 9 kg per kapita pertahun, sedangkan konsumsi ikan 25 kg per kapita pertahun. Sementara itu standar konsumsi pangan hewani itu 240 kilo kalori per kapita per hari, sedangkan Depok sudah 245 kilo kalori per kapita per hari.
"Konsumsi telur dan ikan di Depok standar namun jika diakumulasi konsumsi pangan hewani di Depok saat ini 245 kilo kalori. Ini sudah di atas normal," tandasnya.
Sementara itu, Zalvinus menyatakan bahwa saat ini pihaknya tetap memerintahkan Rumah Potong Hewan (RPH) Tapos tetap beroperasi. Kebutuhan daging di Depok 6.5 ton per hari, sedangkan produksi RPH 8 ton per hari.
Anggota Komisi B DPRD Kota Depok, Suparyono mendukung upaya Pemkot Depok mengkampanyekan makan telur, ikan dan susu. Sebab hal itu sebagai salah satu upaya melakukan diversifikasi pangan.
"Banyak protein hewani yang bisa di dapat masyarakat. Bisa dari daging ayam, telur, dan ikan. Jadi tidak harus dari daging sapi. Ikan itu memiliki Omega yang tinggi dan bagus buat perkembangan otak anak," imbuhnya.
"Kelangkaan daging sapi ini diawali dari Pemerintah yang menstop daging impor. Karena itu importir menjerit dan akhirnya terjadi lah kelangkaan daging sapi. Tapi sebenarnya bisa diatasi jika daging itu digantikan dengan telur dan ikan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Depok, Zalfinus Irwan di Balai Kota Depok, Kamis (29/11/2012).
Menurut Zalfinus, stok telur dan daging di Kota Depok aman jika warga Depok ramai-ramai makan telur dan ikan. Pasokan telur ke Depok dikirim dari wilayah Jawa Barat. Baik itu dari Bogor, Cianjur, dan Sukabumi. Dari Jawa Timur Depok mendapatkan pasokan telur.
Saat ini konsumsi telur di Depok mencapai 9 kg per kapita pertahun, sedangkan konsumsi ikan 25 kg per kapita pertahun. Sementara itu standar konsumsi pangan hewani itu 240 kilo kalori per kapita per hari, sedangkan Depok sudah 245 kilo kalori per kapita per hari.
"Konsumsi telur dan ikan di Depok standar namun jika diakumulasi konsumsi pangan hewani di Depok saat ini 245 kilo kalori. Ini sudah di atas normal," tandasnya.
Sementara itu, Zalvinus menyatakan bahwa saat ini pihaknya tetap memerintahkan Rumah Potong Hewan (RPH) Tapos tetap beroperasi. Kebutuhan daging di Depok 6.5 ton per hari, sedangkan produksi RPH 8 ton per hari.
Anggota Komisi B DPRD Kota Depok, Suparyono mendukung upaya Pemkot Depok mengkampanyekan makan telur, ikan dan susu. Sebab hal itu sebagai salah satu upaya melakukan diversifikasi pangan.
"Banyak protein hewani yang bisa di dapat masyarakat. Bisa dari daging ayam, telur, dan ikan. Jadi tidak harus dari daging sapi. Ikan itu memiliki Omega yang tinggi dan bagus buat perkembangan otak anak," imbuhnya.
(gpr)
Lihat Juga :