Kredit BRI ke BUMN Rp46 T
Jum'at, 30 November 2012 - 10:21 WIB
Kredit BRI ke BUMN Rp46 T
A
A
A
Sindonews.com - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menargetkan kredit korporasi yang disalurkan ke badan usaha milik negara (BUMN) mencapai Rp46 triliun hingga akhir tahun ini. Per September 2012, kredit perseroan kepada BUMN mencapai Rp45,39 triliun.
Direktur Bisnis dan Kelembagaan BRI Asmawi Syam mengungkapkan, tahun depan pihaknya menargetkan tambahan sebesar Rp25 triliun untuk penyaluran kredit BUMN yang porsinya mencapai 14,27 persen dari total portofolio kredit per September 2012.
“Prediksi tahun depan secara industri sama saja. BUMN selain ke induk juga ke anak usaha. Tahun depan dinaikkan lagi, dengan pipeline Rp25 triliun,” ungkap Asmawi usai perjanjian kredit Investasi dengan Perum Peruri di Jakarta kemarin.
Menurut dia, sektor penyaluran kredit kepada 68 perusahaan yang terdiri dari BUMN Induk dan Anak perusahaan BUMN ini paling banyak di sektor infrastruktur, telekomunikasi, maupun energi, baik itu untuk ketahanan pangan, energi dan yang mendorong pertumbuhan ekonomi termasuk menyukseskan program MP3EI.
“Transportasi darat, laut, udara semua kita dukung. Kalau sudah dibiayai, tujuannya memperlancar arus barang dan domestik. Efeknya tentu menurunkan biaya tinggi di logistik,” tuturnya.
Asmawi mengungkapkan, dari total pinjaman yang diperoleh BUMN tersebut, sekitar 70 persennya merupakan pinjaman investasi. Penyaluran kredit ini sendiri dilakukan baik secara bilateral (antara bank dengan kreditur) maupun secara sindikasi.
“Kalau sindikasi itu, umumnya untuk proyek besar. Kalau bilateral itu, kaitannya dengan Batas Minimum Pemberian Kredit (BMPK) yang 30 persen dari modal. Secara umum rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) di kredit ini tidak ada,” paparnya.
Pada kesempatan sama, BRI menyalurkan kredit senilai total Rp500 miliar kepada Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri). Jika dijabarkan secara rinci, pinjaman ini dibagi dalam dua skema.
Pertama sebesar Rp250 miliar untuk pendanaan investasi mesin-mesin perusahaan. Pendanaan tersebut secara spesifik dibagi lagi menjadi dua, untuk memenuhi kebutuhan pendanaan investasi mesin percetakan uang tahun 2012 sebesar Rp209,3 miliar serta refinancing mesin-mesin percetakan uang tahun 2009–2011 sebesar Rp40,7 miliar dengan jangka waktu masing- masing selama 11 tahun dan 8 tahun.
Selain itu, BRI memberikan fasilitas noncash loan berupa fasilitas Bank Garansi sebesar Rp200 miliar, fasilitas penangguhan jaminan impor/LC sebesar Rp40 miliar serta fasilitas forex line sebesar Rp10 miliar untuk mendukung operasional Perum Peruri.
Pada kesempatan sama BRI juga mengucurkan Rp127 miliar kepada PT Geo Dipa Energi (Persero) untuk pendanaan atas investasi perusahaan di tahun 2012.
Pendanaan dengan jangka waktu 6 tahun tersebut secara spesifik dimaksudkan untuk program revitalisasi dan optimalisasi fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi di sisi hulu dan hilir untuk PLTP Unit Dieng, Jawa Tengah.
Ditemui di tempat yang sama, Direktur UMKM BRI Djarot Kusumajakti mengaku akan mengalokasikan kredit untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebesar 75–80 persen dari total portofolio kredit.
“Tahun ini sekitar 78 persen. Saya mencoba mempertahankan dan itu memang tidak mudah karena untuk cari volume kita harus cari nasabah yang banyak,” tuturnya.
Direktur Bisnis dan Kelembagaan BRI Asmawi Syam mengungkapkan, tahun depan pihaknya menargetkan tambahan sebesar Rp25 triliun untuk penyaluran kredit BUMN yang porsinya mencapai 14,27 persen dari total portofolio kredit per September 2012.
“Prediksi tahun depan secara industri sama saja. BUMN selain ke induk juga ke anak usaha. Tahun depan dinaikkan lagi, dengan pipeline Rp25 triliun,” ungkap Asmawi usai perjanjian kredit Investasi dengan Perum Peruri di Jakarta kemarin.
Menurut dia, sektor penyaluran kredit kepada 68 perusahaan yang terdiri dari BUMN Induk dan Anak perusahaan BUMN ini paling banyak di sektor infrastruktur, telekomunikasi, maupun energi, baik itu untuk ketahanan pangan, energi dan yang mendorong pertumbuhan ekonomi termasuk menyukseskan program MP3EI.
“Transportasi darat, laut, udara semua kita dukung. Kalau sudah dibiayai, tujuannya memperlancar arus barang dan domestik. Efeknya tentu menurunkan biaya tinggi di logistik,” tuturnya.
Asmawi mengungkapkan, dari total pinjaman yang diperoleh BUMN tersebut, sekitar 70 persennya merupakan pinjaman investasi. Penyaluran kredit ini sendiri dilakukan baik secara bilateral (antara bank dengan kreditur) maupun secara sindikasi.
“Kalau sindikasi itu, umumnya untuk proyek besar. Kalau bilateral itu, kaitannya dengan Batas Minimum Pemberian Kredit (BMPK) yang 30 persen dari modal. Secara umum rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) di kredit ini tidak ada,” paparnya.
Pada kesempatan sama, BRI menyalurkan kredit senilai total Rp500 miliar kepada Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri). Jika dijabarkan secara rinci, pinjaman ini dibagi dalam dua skema.
Pertama sebesar Rp250 miliar untuk pendanaan investasi mesin-mesin perusahaan. Pendanaan tersebut secara spesifik dibagi lagi menjadi dua, untuk memenuhi kebutuhan pendanaan investasi mesin percetakan uang tahun 2012 sebesar Rp209,3 miliar serta refinancing mesin-mesin percetakan uang tahun 2009–2011 sebesar Rp40,7 miliar dengan jangka waktu masing- masing selama 11 tahun dan 8 tahun.
Selain itu, BRI memberikan fasilitas noncash loan berupa fasilitas Bank Garansi sebesar Rp200 miliar, fasilitas penangguhan jaminan impor/LC sebesar Rp40 miliar serta fasilitas forex line sebesar Rp10 miliar untuk mendukung operasional Perum Peruri.
Pada kesempatan sama BRI juga mengucurkan Rp127 miliar kepada PT Geo Dipa Energi (Persero) untuk pendanaan atas investasi perusahaan di tahun 2012.
Pendanaan dengan jangka waktu 6 tahun tersebut secara spesifik dimaksudkan untuk program revitalisasi dan optimalisasi fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi di sisi hulu dan hilir untuk PLTP Unit Dieng, Jawa Tengah.
Ditemui di tempat yang sama, Direktur UMKM BRI Djarot Kusumajakti mengaku akan mengalokasikan kredit untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebesar 75–80 persen dari total portofolio kredit.
“Tahun ini sekitar 78 persen. Saya mencoba mempertahankan dan itu memang tidak mudah karena untuk cari volume kita harus cari nasabah yang banyak,” tuturnya.
(rna)
Lihat Juga :