Pengusaha terancam kuota daging sapi
Selasa, 04 Desember 2012 - 12:51 WIB
Pengusaha terancam kuota daging sapi
A
A
A
Sindonews.com - Kebijakan pemerintah dalam menetapkan kuota impor daging sapi terus mendapat protes dari kalangan pengusaha karena dianggap tidak memperhatikan kebutuhan kalangan pelaku usaha.
"Puluhan ribu usaha kecil menengah (UKM) yang membutuhkan supply daging sapi setiap hari akan sangat terancam kelangsungan usahanya," ujar Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang saat dihubungi Sindonews, Selasa (4/12/2012).
Kebijakan pemerintah yang dimaksud tersebut menetapkan, kuota impor daging sapi sebesar 80 ribu yang terdiri dari 60 persen dalam bentuk sapi bakalan sekitar 48 ribu ton atau setara dengan 288 ribu ekor.
Sisanya adalah dalam bentuk daging sapi beku sebesar 32 ribu ton secara nasional akan sangat mengancam kelangsungan dunia usaha di Jakarta.
Sarman memandang, kebijakan tersebut sangat tidak sesuai dengan kenyataan dimana kebutuhan daging sapi untuk kegiatan produksi yang dilakukan UKM-UKM di jakarta jauh di atas kuota yang ditetapkan pemerintah tersebut.
Dirinya khawatir, bila tidak dicermati, maka berpotensi menimbulkan gejolak pada iklim industri di ibukota negara ini. Bahkan, kata dia, pada tahun 2012 saja sudah terjadi gejolak pasar hampir tiga kali karena Pemerintah yang menurunkan kuota impor daging sapi menjadi 34 ribu ton.
"Dengan kuota sebesar 32 ribu ton secara nasional maka dipastikan gejolak harga/krisis daging di Jakarta dipastikan akan terjadi tahun 2013 dan akan sangat berpengaruh terhadap nasib puluhan ribu UKM," simpul dia.
"Puluhan ribu usaha kecil menengah (UKM) yang membutuhkan supply daging sapi setiap hari akan sangat terancam kelangsungan usahanya," ujar Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta, Sarman Simanjorang saat dihubungi Sindonews, Selasa (4/12/2012).
Kebijakan pemerintah yang dimaksud tersebut menetapkan, kuota impor daging sapi sebesar 80 ribu yang terdiri dari 60 persen dalam bentuk sapi bakalan sekitar 48 ribu ton atau setara dengan 288 ribu ekor.
Sisanya adalah dalam bentuk daging sapi beku sebesar 32 ribu ton secara nasional akan sangat mengancam kelangsungan dunia usaha di Jakarta.
Sarman memandang, kebijakan tersebut sangat tidak sesuai dengan kenyataan dimana kebutuhan daging sapi untuk kegiatan produksi yang dilakukan UKM-UKM di jakarta jauh di atas kuota yang ditetapkan pemerintah tersebut.
Dirinya khawatir, bila tidak dicermati, maka berpotensi menimbulkan gejolak pada iklim industri di ibukota negara ini. Bahkan, kata dia, pada tahun 2012 saja sudah terjadi gejolak pasar hampir tiga kali karena Pemerintah yang menurunkan kuota impor daging sapi menjadi 34 ribu ton.
"Dengan kuota sebesar 32 ribu ton secara nasional maka dipastikan gejolak harga/krisis daging di Jakarta dipastikan akan terjadi tahun 2013 dan akan sangat berpengaruh terhadap nasib puluhan ribu UKM," simpul dia.
(gpr)
Lihat Juga :