Ini alasan proposal Bakrie belum diputuskan
Rabu, 05 Desember 2012 - 06:00 WIB
Ini alasan proposal Bakrie belum diputuskan
A
A
A
Sindonews.com - Penyelesaian tindak lanjut Proposal tukar guling kepemilikan saham Bumi PLC dengan saham PT Bumi Resource Tbk (BUMI) terus memberikan perkembangan yang tidak terduga.
Dari informasi yang berhasil dihimpun Sindonews, proses tersebut ternyata masih terganjal pada proses persetujuan oleh para pemilik saham BUMI Plc atas Proposal yang diajukan Grup Bakrie tersebut.
Direktur utama PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), Rosan P Roeslani menerangkan, keputusan atas Proposal yang diajukan Grup Bakrie harus disepakati oleh para pemegang saham.
Hanya saja, masalah kemudian timbul ketika hak suara (voting rise) yang dimiliki masing-masing pemegang saham ternyata tidak secara otomatis disesuaikan dengan porsi saham yang dimiliki masing-masing investor.
Hal tersebut terlihat dari, porsi hak suara yang dimiliki Nathaniel Philip Victor James Rothscild (Nat Rothscild) lebih besar dari hak suara yang dimiliki Samin Tan dan Grup Bakrie. Padahal, Porsi kepemilikan saham yang dipegang Rothscild tak lebih dari 10 persen dari saham Bumi Plc.
"Selama ini dilihat saya dan bakrie tidak terafiliasi, kalau pemegang saham melakukan pilihan (voting) klien saya nggak bisa voting," terang Rosan saat ditemui usai menggelar Paparan Publik di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, kemarin.
Lebih lanjut diakuinya, permasalahan hak suara tersebut saat itu sendiri tengah diaudit oleh UK Panel, sebuah lembaga yang bertugas mengawasi aktivitas Perusahaan Terbuka di UK meliputi proses akuisisi, merger bisnis dan sebagainya.
"Ini sedang dipelajari oleh UK Panel, semua dipanggil dan tanya jawab. Ini tidak terbatas pada pihak Bakrie saja, tapi juga Borneo (pihak Samin Tan) dan lain-lain," sambung dia.
Saat ini, porsi kepemilikan atas saham BUMI Plc adalah, 10 persen dipegang oleh Nat Rothscild. 9,8 persen oleh Rosan P Roeslani sebagai Recapital, 23,8 persen oleh Samin Tan, 23,8 persen oleh Bakrie Group dan 32,6 persennya oleh Publik.
Namun demikian, hak voting yang dimiliki Samin Tan dan Bakrie, bila digabungkan hanya 30 persen dari porsi hak suara keseluruhan. "Itulah audit yang dilakukan," tegas dia.
Sementara, sambil menunggu hasil audit yang dilakukan tersebut, diakui Rosan, pihak Bakrie sendiri tengah melakukan bergaining terhadap pihak-pihak yang dianggap memiliki pemahaman yang sama terkait proposal pertukaran saham yang disampaikan ke BUMI Plc tersebut.
Dengan demikian, akan semakin sulit proposal yang diajukan Bakrie untuk dapat disetujui. "Itulah audit yang dilakukan (UK Panel). Masih lihat dulu, kalau diketemukan concerted party (pihak-pihak yang memiliki pemahaman yang sama), kita akan kembali lagi melakukan voting," tandasnya.
Seperti diketahui, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ternyata cuma dilibatkan dalam tahap I dari proposal yang diajukan Grup Bakrie kepada Bumi Plc.
Proposal tersebut berisi penawaran Grup Bakrie untuk keluar dari Bumi Plc, dan mengambil alih seluruh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dari Bumi Plc.
"Proposal ini sedang dipelajari oleh manajemen Bumi plc, dan keterlibatan BNBR akan terbatas hanya pada langkah I dan saat ini BNBR tengah mempertimbangkan untuk tidak berpartisipasi pada langkah-langkah transaksi lainnya," jelas perseroan dalam keterangan tertulisnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara, Nathaniel Rothschild resmi memberikan 'perlawanan' atas rencana Grup Bakrie untuk mengambilalih PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).
Bumi Plc menyatakan telah menerima proposal dari Nathaniel Rothschild. Proposal ini adalah proposal tandingan untuk proposal yang diajukan oleh Grup Bakrie untuk mengambil alih PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) senilai USD1,2 miliar.
Dari informasi yang berhasil dihimpun Sindonews, proses tersebut ternyata masih terganjal pada proses persetujuan oleh para pemilik saham BUMI Plc atas Proposal yang diajukan Grup Bakrie tersebut.
Direktur utama PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU), Rosan P Roeslani menerangkan, keputusan atas Proposal yang diajukan Grup Bakrie harus disepakati oleh para pemegang saham.
Hanya saja, masalah kemudian timbul ketika hak suara (voting rise) yang dimiliki masing-masing pemegang saham ternyata tidak secara otomatis disesuaikan dengan porsi saham yang dimiliki masing-masing investor.
Hal tersebut terlihat dari, porsi hak suara yang dimiliki Nathaniel Philip Victor James Rothscild (Nat Rothscild) lebih besar dari hak suara yang dimiliki Samin Tan dan Grup Bakrie. Padahal, Porsi kepemilikan saham yang dipegang Rothscild tak lebih dari 10 persen dari saham Bumi Plc.
"Selama ini dilihat saya dan bakrie tidak terafiliasi, kalau pemegang saham melakukan pilihan (voting) klien saya nggak bisa voting," terang Rosan saat ditemui usai menggelar Paparan Publik di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, kemarin.
Lebih lanjut diakuinya, permasalahan hak suara tersebut saat itu sendiri tengah diaudit oleh UK Panel, sebuah lembaga yang bertugas mengawasi aktivitas Perusahaan Terbuka di UK meliputi proses akuisisi, merger bisnis dan sebagainya.
"Ini sedang dipelajari oleh UK Panel, semua dipanggil dan tanya jawab. Ini tidak terbatas pada pihak Bakrie saja, tapi juga Borneo (pihak Samin Tan) dan lain-lain," sambung dia.
Saat ini, porsi kepemilikan atas saham BUMI Plc adalah, 10 persen dipegang oleh Nat Rothscild. 9,8 persen oleh Rosan P Roeslani sebagai Recapital, 23,8 persen oleh Samin Tan, 23,8 persen oleh Bakrie Group dan 32,6 persennya oleh Publik.
Namun demikian, hak voting yang dimiliki Samin Tan dan Bakrie, bila digabungkan hanya 30 persen dari porsi hak suara keseluruhan. "Itulah audit yang dilakukan," tegas dia.
Sementara, sambil menunggu hasil audit yang dilakukan tersebut, diakui Rosan, pihak Bakrie sendiri tengah melakukan bergaining terhadap pihak-pihak yang dianggap memiliki pemahaman yang sama terkait proposal pertukaran saham yang disampaikan ke BUMI Plc tersebut.
Dengan demikian, akan semakin sulit proposal yang diajukan Bakrie untuk dapat disetujui. "Itulah audit yang dilakukan (UK Panel). Masih lihat dulu, kalau diketemukan concerted party (pihak-pihak yang memiliki pemahaman yang sama), kita akan kembali lagi melakukan voting," tandasnya.
Seperti diketahui, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) ternyata cuma dilibatkan dalam tahap I dari proposal yang diajukan Grup Bakrie kepada Bumi Plc.
Proposal tersebut berisi penawaran Grup Bakrie untuk keluar dari Bumi Plc, dan mengambil alih seluruh saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dari Bumi Plc.
"Proposal ini sedang dipelajari oleh manajemen Bumi plc, dan keterlibatan BNBR akan terbatas hanya pada langkah I dan saat ini BNBR tengah mempertimbangkan untuk tidak berpartisipasi pada langkah-langkah transaksi lainnya," jelas perseroan dalam keterangan tertulisnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara, Nathaniel Rothschild resmi memberikan 'perlawanan' atas rencana Grup Bakrie untuk mengambilalih PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).
Bumi Plc menyatakan telah menerima proposal dari Nathaniel Rothschild. Proposal ini adalah proposal tandingan untuk proposal yang diajukan oleh Grup Bakrie untuk mengambil alih PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) senilai USD1,2 miliar.
(gpr)
Lihat Juga :