Kemendag ragu kuota impor daging 2013 cukup
Jum'at, 07 Desember 2012 - 14:51 WIB
Kemendag ragu kuota impor daging 2013 cukup
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Perdagangan ragu kuota impor daging sapi untuk tahun 2013 sebesar 80 ribu ton yang telah disepakati dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kemenko Perekonomian akan mencukupi.
"Kalau melihat di Kemenko kesepakatannya, dari itu kemudian para menteri concern melihat kenaikan harga terus, ini harus dilihat kenapa naik terus. Padahal, sudah ditetapkan jumlah sebelumnya," terang Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (7/12/2012).
Namun, Bachrul tidak ingin buru-buru menjustifikasi bahwa kekurangan suplai daging sapi tersebut terjadi akibat kuota impor yang terlalu kecil. Ada berbagai kemungkinan lain yang menyebabkan krisis daging sapi, seperti kurang lancarnya distribusi daging dari dalam negeri, atau kurangnya komponen dalam kalkulasi.
"Barangkali justru di dalam negerinya kurang lancar, mesti dilihat. Perlu ada beberapa faktor yang perlu dimasukan dalam hitungan baru, barangkali belum kehitung," paparnya.
Salah satu komponen yang luput dari perhitungan kebutuhan daging sapi, lanjut dia, adalah konsumsi dari para ekspatriat dan turis asing yang datang ke Indonesia.
"Itu salah satunya turis yang datang ke Indoensia itu kan makan daging. Kalau lihat orang Korea makan siang dan sore itu makan daging, jadi itu nggak bisa dihitung hanya 80.000 ton. Jadi itu yang perlu di-adjustment," simpul Bachri.
"Kalau melihat di Kemenko kesepakatannya, dari itu kemudian para menteri concern melihat kenaikan harga terus, ini harus dilihat kenapa naik terus. Padahal, sudah ditetapkan jumlah sebelumnya," terang Plt Dirjen Perdagangan Luar Negeri Bachrul Chairi di Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (7/12/2012).
Namun, Bachrul tidak ingin buru-buru menjustifikasi bahwa kekurangan suplai daging sapi tersebut terjadi akibat kuota impor yang terlalu kecil. Ada berbagai kemungkinan lain yang menyebabkan krisis daging sapi, seperti kurang lancarnya distribusi daging dari dalam negeri, atau kurangnya komponen dalam kalkulasi.
"Barangkali justru di dalam negerinya kurang lancar, mesti dilihat. Perlu ada beberapa faktor yang perlu dimasukan dalam hitungan baru, barangkali belum kehitung," paparnya.
Salah satu komponen yang luput dari perhitungan kebutuhan daging sapi, lanjut dia, adalah konsumsi dari para ekspatriat dan turis asing yang datang ke Indonesia.
"Itu salah satunya turis yang datang ke Indoensia itu kan makan daging. Kalau lihat orang Korea makan siang dan sore itu makan daging, jadi itu nggak bisa dihitung hanya 80.000 ton. Jadi itu yang perlu di-adjustment," simpul Bachri.
(gpr)
Lihat Juga :