Masyarakat diminta manfaatkan skema KPR FLPP
Jum'at, 07 Desember 2012 - 18:19 WIB
Masyarakat diminta manfaatkan skema KPR FLPP
A
A
A
Sindonews.com - Masyarakat diminta memanfaatkan skema kredit pemilikan rumah (KPR) fasilitas likuiditas pemilikan perumahan (FLPP) yang digulirkan pemerintah.
Menurut Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah VI Jabar dan Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan, masyarakat yang berencana memiliki rumah bisa memanfaatkan skema FLPP. Skema ini mendapat keringan bunga serta patokan harga perumahan yang relatif standar.
"Kami berharap, masyarakat bisa memamnfaatkan fasilitas KPR bersubsidi (FLPP) yang disiapkan pemerintah," jelas Lucky Fathul Aziz Hadibrata di Bandung, Jumat (7/12/2012).
Menurut dia, posisi jual perumahan KPR bersubsidi juga telah ditentukan pemerintah. Sehingga mengurangi potensi penggelembungan harga perumahan.
Bank Indonesia, lanjut Lucky, juga telah memberi imbauan kepada perbankan agar menyalurkan KPR kepada masyarakat menggunakan skema FLPP. Skema ini diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk rumah di bawah tipe 36. Harga rumah tipe 36 yang disepakati pemerintah sebesar Rp88 juta.
Lebih lanjut Lucky menjelaskan, pemanfaatan FLPP oleh masyarakat, juga diharapkan mampu mengcounter potensi buble (penggelumbungan harga) di Jawa Barat. Diakui Lucky, pertumbuhan penyaluran kredit KPR perbankan di Jabar mencapai 30-42%. Pertumbuhan sebesar itu mesti diikuti langkah kehati hatian perbankan terhadap spekulan properti.
Potensi bable, lanjut dia, disebabkan pengembang dan penjual perumahan perorangan menentukan harga jual berdasarkan pertimbangan sendiri. Sehingga, perumahan di Jabar di jual cukup tinggi, melebihi harga jual semestinya yang didasarkan pada ongkos produksi.
"Saya berharap, pengembang atau masyarakat lainnya menjual rumah berdasarkan harga yang wajar. Kalau terlalu tinggi tidak akan terserap. Ini justru berpotensi menimbulkan buble," lanjut dia. Tidak sedikit, lanjut Lucky penjual perumahan mengambil margin sampai 80%.
Lucky berharap, perbankan bisa mempertimbangkan kredit untuk perumahan cluster. Harga jual perumahan ini cukup tinggi, sedangkan pemasarannya lambat. Menurut dia, pemasaran tipe cluster tidak semudah perumahan tipe lainnya.
"Kami sudah ingatkan perbankan. Pertumbuhan kredit sudah over hit. Ini mesti menjadi perhatian serius," pungkas dia.
Ketika disinggung potensi krisis ekonomi, lanjut Lucky, masyarakat tidak perlu khawatir. Karena inflasi sektor properti tidak terlalu berdampak signifikan.
Ketua Rel Estate Indonesia (REI) Jabar Yana Mulyana Suparjo yakin, penjualan rumah untuk MBR sampai akhir tahun bisa tembus di angka 5000 unit. Tahun depan, pihaknya optimistis bisa menyalurkan perumahan FLPP lebih besar lagi.
"Hampir selama semester I/2012 penjualan rumah MBR terhenti. Tahun depan kami berharap penjualan properti bisa maksimal," jelas dia.
Menurut Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah VI Jabar dan Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan, masyarakat yang berencana memiliki rumah bisa memanfaatkan skema FLPP. Skema ini mendapat keringan bunga serta patokan harga perumahan yang relatif standar.
"Kami berharap, masyarakat bisa memamnfaatkan fasilitas KPR bersubsidi (FLPP) yang disiapkan pemerintah," jelas Lucky Fathul Aziz Hadibrata di Bandung, Jumat (7/12/2012).
Menurut dia, posisi jual perumahan KPR bersubsidi juga telah ditentukan pemerintah. Sehingga mengurangi potensi penggelembungan harga perumahan.
Bank Indonesia, lanjut Lucky, juga telah memberi imbauan kepada perbankan agar menyalurkan KPR kepada masyarakat menggunakan skema FLPP. Skema ini diberikan kepada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk rumah di bawah tipe 36. Harga rumah tipe 36 yang disepakati pemerintah sebesar Rp88 juta.
Lebih lanjut Lucky menjelaskan, pemanfaatan FLPP oleh masyarakat, juga diharapkan mampu mengcounter potensi buble (penggelumbungan harga) di Jawa Barat. Diakui Lucky, pertumbuhan penyaluran kredit KPR perbankan di Jabar mencapai 30-42%. Pertumbuhan sebesar itu mesti diikuti langkah kehati hatian perbankan terhadap spekulan properti.
Potensi bable, lanjut dia, disebabkan pengembang dan penjual perumahan perorangan menentukan harga jual berdasarkan pertimbangan sendiri. Sehingga, perumahan di Jabar di jual cukup tinggi, melebihi harga jual semestinya yang didasarkan pada ongkos produksi.
"Saya berharap, pengembang atau masyarakat lainnya menjual rumah berdasarkan harga yang wajar. Kalau terlalu tinggi tidak akan terserap. Ini justru berpotensi menimbulkan buble," lanjut dia. Tidak sedikit, lanjut Lucky penjual perumahan mengambil margin sampai 80%.
Lucky berharap, perbankan bisa mempertimbangkan kredit untuk perumahan cluster. Harga jual perumahan ini cukup tinggi, sedangkan pemasarannya lambat. Menurut dia, pemasaran tipe cluster tidak semudah perumahan tipe lainnya.
"Kami sudah ingatkan perbankan. Pertumbuhan kredit sudah over hit. Ini mesti menjadi perhatian serius," pungkas dia.
Ketika disinggung potensi krisis ekonomi, lanjut Lucky, masyarakat tidak perlu khawatir. Karena inflasi sektor properti tidak terlalu berdampak signifikan.
Ketua Rel Estate Indonesia (REI) Jabar Yana Mulyana Suparjo yakin, penjualan rumah untuk MBR sampai akhir tahun bisa tembus di angka 5000 unit. Tahun depan, pihaknya optimistis bisa menyalurkan perumahan FLPP lebih besar lagi.
"Hampir selama semester I/2012 penjualan rumah MBR terhenti. Tahun depan kami berharap penjualan properti bisa maksimal," jelas dia.
(gpr)
Lihat Juga :