2013, tidak ada pelemahan permintaan mineral
Jum'at, 14 Desember 2012 - 17:08 WIB
2013, tidak ada pelemahan permintaan mineral
A
A
A
Sindonews.com - Indonesian Mining Association (IMA) memproyeksikan tidak ada pelemahan permintaan komoditas mineral pada tahun depan.
Hal tersebut dikarenakan pasokan mineral di pasar internasional mengalami pengurangan sehingga tahun depan permintaan diprediksi justru mengalami peningkatan.
Wakil Ketua IMA Tony Wenas menuturkan, tahun depan bukanlah tahun yang sulit di sektor mineral. Walaupun banyak pihak yang mengatakan harga komoditas mineral tahun depan diprediksi tertekan akibat belum pulihnya krisis Eropa maupun perlambatan ekonomi China.
“Namun saya kebalikannya, harga bahan mineral justru mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan karena pertumbuhan di China tinggi, India juga naik, Amerika oke. Sedangkan angka makro ekonominya memang belum menjanjikan tetapi performnya luar biasa,” kata Toni saat ditemui di Restoran Penang Bistro, Jakarta, Jumat (14/12/2012).
Dia menambahkan, konsumsi barang mineral akan meningkat meskipun beberapa bulan belakangan ini konsumsi banyak yang mengalami penurunan. Akibatnya, banyak perusahaan kecil berhenti produksi.
Namun, lanjutnya, dengan berhentinya para pengusaha-pengusaha kecil ini justru membuat harga komoditas mineral mengalami kenaikan. “Dua minggu lalu harga nikel Rp15 ribu sekarang Rp17.500. Itu menunjukkan tren naik, batu bara juga demikian, permintaan tidak meningkat drastis, tapi suplai berkurang maka harga akan rebound,” kata dia.
Sementara Direktur Eksekutif IMA, Sayhrir AB menuturkan hal berbeda, tahun depan merupakan tahun sulit di sektor mineral, karena terjadi pelemahan permintaan mineral. Adapun penyebabnya adalah belum pulihnya krisis Eropa maupun perlambatan ekonomi China.
Menurutnya, pelemahan permintaan akan berimbas pada harga jual mineral di pasar internasional sehingga memberikan dampak ke kinerja perusahaan tambang mineral di dalam negeri.
“Kalau dilihat melambatnya perbaikan ekonomi global, China dan Eropa, belum kelihatan tanda-tanda membaik. Jadi kami memprediksi sampai pertengahan tahun depan akan seperti itu,” ungkap dia.
Hal tersebut dikarenakan pasokan mineral di pasar internasional mengalami pengurangan sehingga tahun depan permintaan diprediksi justru mengalami peningkatan.
Wakil Ketua IMA Tony Wenas menuturkan, tahun depan bukanlah tahun yang sulit di sektor mineral. Walaupun banyak pihak yang mengatakan harga komoditas mineral tahun depan diprediksi tertekan akibat belum pulihnya krisis Eropa maupun perlambatan ekonomi China.
“Namun saya kebalikannya, harga bahan mineral justru mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan karena pertumbuhan di China tinggi, India juga naik, Amerika oke. Sedangkan angka makro ekonominya memang belum menjanjikan tetapi performnya luar biasa,” kata Toni saat ditemui di Restoran Penang Bistro, Jakarta, Jumat (14/12/2012).
Dia menambahkan, konsumsi barang mineral akan meningkat meskipun beberapa bulan belakangan ini konsumsi banyak yang mengalami penurunan. Akibatnya, banyak perusahaan kecil berhenti produksi.
Namun, lanjutnya, dengan berhentinya para pengusaha-pengusaha kecil ini justru membuat harga komoditas mineral mengalami kenaikan. “Dua minggu lalu harga nikel Rp15 ribu sekarang Rp17.500. Itu menunjukkan tren naik, batu bara juga demikian, permintaan tidak meningkat drastis, tapi suplai berkurang maka harga akan rebound,” kata dia.
Sementara Direktur Eksekutif IMA, Sayhrir AB menuturkan hal berbeda, tahun depan merupakan tahun sulit di sektor mineral, karena terjadi pelemahan permintaan mineral. Adapun penyebabnya adalah belum pulihnya krisis Eropa maupun perlambatan ekonomi China.
Menurutnya, pelemahan permintaan akan berimbas pada harga jual mineral di pasar internasional sehingga memberikan dampak ke kinerja perusahaan tambang mineral di dalam negeri.
“Kalau dilihat melambatnya perbaikan ekonomi global, China dan Eropa, belum kelihatan tanda-tanda membaik. Jadi kami memprediksi sampai pertengahan tahun depan akan seperti itu,” ungkap dia.
(gpr)
Lihat Juga :