Jamkrida diminta sasar sektor produktif
Rabu, 19 Desember 2012 - 18:18 WIB
Jamkrida diminta sasar sektor produktif
A
A
A
Sindonews.com - Lembaga penjamin kredit daerah (Jamkrida) diminta mengedepankan penjaminan kredit untuk sektor produktif usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) seperti pertanian dan perikanan.
Penjaminan kredit untuk sektor produktif, akan berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat. Demikian dikemukakan Wakil Ketua Kadin Jabar bidang KUMKM Iwan Gunawan di sela-sela seminar UKM di Universitas Padjadjaran (Unpad) Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Rabu (19/12/2012).
“Selama ini, sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan belum mendapat perhatian serius dari perbankan. Kami berharap, Jamkrida bisa menyasar segmen itu, agar penetrasi kredit lebih merata,” kata Iwan Gunawan kepada wartawan.
Menurut dia, multiplier effect sektor pertanian dan perikanan, dinilai lebih besar ketimbang sektor lainnya. Bisnis pada sektor perikanan misalnya, akan menyerap tenaga kerja. Begitupun dengan sektor pertanian.
Semestinya, Jamkrida meminimalisir penjaminan kredit di sektor perdagangan. Volume kredit pada sektor ini, dinilai sudah cukup besar. Sementara penetrasi kreditnya, terpisat di kota kota besar.
Di tempat yang sama, Direktur Komersial Bank BJB Acu Kusnandar mengatakan, Jamkrida dijadwalkan mulai digulirkan di awal 2013. Bank BJB, lanjut dia, telah melakukan penandatangan memorandum off understanding (MoU) dengan Jamkrida untuk penjaminan kredit UMKM Bank BJB.
“Pelaksanaannya, tergantung kesiapan mereka. Kalau mereka siap, kami tinggal melaksanakan,” jelas Acu Kusnandar. Dia berharap, Jamkrida mampu meningkatkan penetrasi kredit kepada sektor UMKM di Jabar. Pemanfaatan Jamkrida tidak hanya untuk kredit cinta rakyat (KCR) tapi juga program kredit UMKM Bank BJB lainnya.
Ketika disinggung soal jumlah jaminan, Acu mengakui, Jamkrida hanya akan menjamin pinjaman pada kisaran tertentu. Artinya, masih ada aggunan yang mesti ditanggung debitur. Pelaku UMKM tidak menutup kemungkinan, terbebas dari semua aggunan, tergantung kondisi dan keberlangsungan usahanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) wilayah VI Jabar dan Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata menjelaskan, kehadiran Jamkrida diharapkan bisa menjembatani permasalah sektor UMKM dan perbankan, terutama soal aggunan. “Saya berharap, ini bisa menjembatani persoalan UMKM dan perbankan,” jelas Lucky.
Bank Indonesia, lanjut dia, akan mendorong perbankan dan UMKM memanfaatkan Jamkrida semaksimal mungkin. Terutama UMKM yang ada di daerah. Mereka masih memerlukan suntikan modal untuk usahanya. Jamkrida, lanjut dia, telah dinantikan sejumlah pengusaha kecil di daerah.
Hadirnya lembaga tersebut, lanjut Lucky, diharapkan mampu meningkatkan ekspansi kredit perbankan terhadap sektor UMKM. Terutama pada sektor mikro, yang saat ini komposisi kreditnya masih di bawah 20%. Terlebih, Bank Indonesia mensyaratkan komposisi kredit perbankan untuk UMKM minimal 20 persen di 2013.
Penjaminan kredit untuk sektor produktif, akan berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat. Demikian dikemukakan Wakil Ketua Kadin Jabar bidang KUMKM Iwan Gunawan di sela-sela seminar UKM di Universitas Padjadjaran (Unpad) Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung, Rabu (19/12/2012).
“Selama ini, sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan belum mendapat perhatian serius dari perbankan. Kami berharap, Jamkrida bisa menyasar segmen itu, agar penetrasi kredit lebih merata,” kata Iwan Gunawan kepada wartawan.
Menurut dia, multiplier effect sektor pertanian dan perikanan, dinilai lebih besar ketimbang sektor lainnya. Bisnis pada sektor perikanan misalnya, akan menyerap tenaga kerja. Begitupun dengan sektor pertanian.
Semestinya, Jamkrida meminimalisir penjaminan kredit di sektor perdagangan. Volume kredit pada sektor ini, dinilai sudah cukup besar. Sementara penetrasi kreditnya, terpisat di kota kota besar.
Di tempat yang sama, Direktur Komersial Bank BJB Acu Kusnandar mengatakan, Jamkrida dijadwalkan mulai digulirkan di awal 2013. Bank BJB, lanjut dia, telah melakukan penandatangan memorandum off understanding (MoU) dengan Jamkrida untuk penjaminan kredit UMKM Bank BJB.
“Pelaksanaannya, tergantung kesiapan mereka. Kalau mereka siap, kami tinggal melaksanakan,” jelas Acu Kusnandar. Dia berharap, Jamkrida mampu meningkatkan penetrasi kredit kepada sektor UMKM di Jabar. Pemanfaatan Jamkrida tidak hanya untuk kredit cinta rakyat (KCR) tapi juga program kredit UMKM Bank BJB lainnya.
Ketika disinggung soal jumlah jaminan, Acu mengakui, Jamkrida hanya akan menjamin pinjaman pada kisaran tertentu. Artinya, masih ada aggunan yang mesti ditanggung debitur. Pelaku UMKM tidak menutup kemungkinan, terbebas dari semua aggunan, tergantung kondisi dan keberlangsungan usahanya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) wilayah VI Jabar dan Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata menjelaskan, kehadiran Jamkrida diharapkan bisa menjembatani permasalah sektor UMKM dan perbankan, terutama soal aggunan. “Saya berharap, ini bisa menjembatani persoalan UMKM dan perbankan,” jelas Lucky.
Bank Indonesia, lanjut dia, akan mendorong perbankan dan UMKM memanfaatkan Jamkrida semaksimal mungkin. Terutama UMKM yang ada di daerah. Mereka masih memerlukan suntikan modal untuk usahanya. Jamkrida, lanjut dia, telah dinantikan sejumlah pengusaha kecil di daerah.
Hadirnya lembaga tersebut, lanjut Lucky, diharapkan mampu meningkatkan ekspansi kredit perbankan terhadap sektor UMKM. Terutama pada sektor mikro, yang saat ini komposisi kreditnya masih di bawah 20%. Terlebih, Bank Indonesia mensyaratkan komposisi kredit perbankan untuk UMKM minimal 20 persen di 2013.
(gpr)
Lihat Juga :