Bunga kredit UMKM mestinya di bawah 10%
Kamis, 20 Desember 2012 - 17:42 WIB
Bunga kredit UMKM mestinya di bawah 10%
A
A
A
Sindonews.com - Bunga kredit perbankan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dinilai masih terlalu besar. Mestinya, bunga kredit UMKM di bawah 10 persen.
Wakil Ketua Kadin Jabar bidang KUMKM Iwan Gunawan mengatakan, bunga kredit perbankan terhadap UMKM tidak realistis. Saat ini, bunga kredit UMKM rara rata di atas 14 persen. Bahkan ada bunga kredit di atas 22 persen.
"Bunga di atas 10 persen sangat memberatkan UMKM. Apalagi untuk sektor produksi. Tak heran, UMKM lebih memilih menggarap sektor jasa seperti perdagangan daripada produksi," jelas Iwan Gunawan di Bandung, Kamis (20/12/2012).
Menurut Iwan, tingginya bunga bank menyebabkan turunnya daya saing produk UMKM. Mereka terpaksa membebankan bunga bank kepada produk. Akibatnya, harga produk menjadi tinggi. Sementara, saat ini, produk impor banyak beredar di pasaran. Akibatnya produk lokal kalah bersaing.
Kondisi tersebut, tentu berbeda dengan di luar negeri. Bunga kredit perbankan sangat rendah. Seperti di Singapura, bunga bank pada kisaran 4 persen. Sebagai perbandingan, pinjaman kredit di Indonesia senilai Rp25 juta, harus dibayar sekitar Rp34 juta. Begitu juga dengan bunga kredit usaha rakyat (KUR) yang dipatok antara 18-22 persen.
Iwan berharap, Bank Indonesia bisa membuat regulasi dan aturan jelas terkait bunga bank untuk UMKM. Jangan sampai, sektor UMKM yang digadang gadang tonggak ekonomi bangsa, justru di tekan dengan bunga bank tinggi.
Pada kesempatan tersebut, Iwan mewanti wanti para pelaku UMKM terutama pengusaha baru agar menghindari pinjaman ke perbankan. Dia berharap, pelaku UMKM mengumpulkan dana lalu memulai usaha. "Untuk pengusaha pemula, lebih baik jangan pinjam bank dulu," imbuh dia.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) wilayah VI Jabar Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan, pertumbuhan kredit perbankan bagi UMKM di Jabar cukup tinggi.
"Selama periode Januari-Oktober 2012, kredit UMKM tumbuh sekitar 35 persen dengan total kredit sekitar Rp30 triliun lebih," jelas Lucky.
Jumlah tersebut cukup signfikan. Sementara total penyaluran kredit di Jabar sekitar Rp193,83 triliun. Artinya, komposisi kredit untuk UMKM tergolong tinggi.
Walaupun, apabila dihitung secara persentase, kredit UMKM belum mencapai 20 persen dari total kredit. Untuk menggenjot kredit UMKM, tahun depan pihaknya akan mewajibkan perbankan menyalurkan kredit minimal 20 persen dari total kredit di bank tersebut.
"Melalui aturan itu, kami berharap penetrasi kredit ke UMKM bisa maksimal," pungkas dia.
Wakil Ketua Kadin Jabar bidang KUMKM Iwan Gunawan mengatakan, bunga kredit perbankan terhadap UMKM tidak realistis. Saat ini, bunga kredit UMKM rara rata di atas 14 persen. Bahkan ada bunga kredit di atas 22 persen.
"Bunga di atas 10 persen sangat memberatkan UMKM. Apalagi untuk sektor produksi. Tak heran, UMKM lebih memilih menggarap sektor jasa seperti perdagangan daripada produksi," jelas Iwan Gunawan di Bandung, Kamis (20/12/2012).
Menurut Iwan, tingginya bunga bank menyebabkan turunnya daya saing produk UMKM. Mereka terpaksa membebankan bunga bank kepada produk. Akibatnya, harga produk menjadi tinggi. Sementara, saat ini, produk impor banyak beredar di pasaran. Akibatnya produk lokal kalah bersaing.
Kondisi tersebut, tentu berbeda dengan di luar negeri. Bunga kredit perbankan sangat rendah. Seperti di Singapura, bunga bank pada kisaran 4 persen. Sebagai perbandingan, pinjaman kredit di Indonesia senilai Rp25 juta, harus dibayar sekitar Rp34 juta. Begitu juga dengan bunga kredit usaha rakyat (KUR) yang dipatok antara 18-22 persen.
Iwan berharap, Bank Indonesia bisa membuat regulasi dan aturan jelas terkait bunga bank untuk UMKM. Jangan sampai, sektor UMKM yang digadang gadang tonggak ekonomi bangsa, justru di tekan dengan bunga bank tinggi.
Pada kesempatan tersebut, Iwan mewanti wanti para pelaku UMKM terutama pengusaha baru agar menghindari pinjaman ke perbankan. Dia berharap, pelaku UMKM mengumpulkan dana lalu memulai usaha. "Untuk pengusaha pemula, lebih baik jangan pinjam bank dulu," imbuh dia.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) wilayah VI Jabar Banten Lucky Fathul Aziz Hadibrata mengatakan, pertumbuhan kredit perbankan bagi UMKM di Jabar cukup tinggi.
"Selama periode Januari-Oktober 2012, kredit UMKM tumbuh sekitar 35 persen dengan total kredit sekitar Rp30 triliun lebih," jelas Lucky.
Jumlah tersebut cukup signfikan. Sementara total penyaluran kredit di Jabar sekitar Rp193,83 triliun. Artinya, komposisi kredit untuk UMKM tergolong tinggi.
Walaupun, apabila dihitung secara persentase, kredit UMKM belum mencapai 20 persen dari total kredit. Untuk menggenjot kredit UMKM, tahun depan pihaknya akan mewajibkan perbankan menyalurkan kredit minimal 20 persen dari total kredit di bank tersebut.
"Melalui aturan itu, kami berharap penetrasi kredit ke UMKM bisa maksimal," pungkas dia.
(gpr)
Lihat Juga :