Krisis daging sapi, 17 ribu pengusaha kuliner resah
Senin, 24 Desember 2012 - 10:17 WIB
Krisis daging sapi, 17 ribu pengusaha kuliner resah
A
A
A
Sindonews.com - Kelangkaan daging sapi saat ini menyebabkan kenaikan harga. Saat ini, harga daging sapi di pasar menembus harga Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram (kg).
Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya Sarman Simanjorang mengatakan saat ini pemerintah belum siap melakukan swasembada daging sapi. Ia menambahkan, jika akan melakukan swasembada maka pemerintah harus melakukan pengembangan dengan memiliki peternakan besar untuk memenuhi kebutuhan daging sapi.
"Jadi peternakan dikelola secara industri, bukan secara tradisi seperti saat ini," ungkapnya kepada wartawan di Cimanggis Square, Minggu (23/12/2012) petang.
Sarman menuturkan, setidaknya untuk kawasan Jakarta, ada 17 ribu pengusaha kuliner, restoran, katering, dan penjual bakso yang membutuhkan daging sapi. Ditambah dari sektor hotel yang mencapai 5.700 unit usaha.
Secara global, Jakarta memerlukan antara 1.000-1.500 ton atau 2.000 ekor sapi per hari. Yang terjadi saat ini, lanjutnya, keran impor dikurangi namun peternak lokal tak mampu memenuhi kebutuhan.
"Ini yang menjadikan harga daging tinggi dan langka hingga ada oknum yang berbuat nakal dengan mengoplos daging. Indonesia adalah negara tertinggi yang menjual daging sapi, bahkan hingga tembus di harga Rp 120 ribu. Di negara lain masih di bawah Rp70 ribu per kilogram," tuturnya.
Pihaknya juga meminta kebijakan pada pemerintah untuk menambah kuota daging sapi impor. Kebutuhannya mencapai 50 ribu ton per tahun. "Dengan catatan kalau lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan. Tapi kalau lokal dapat memenuhi tentu kami mendukung swasembada," tukas Sarman.
Dibeberkan dia, 80 persen daging imporr diserap di kawasan Jabodetabek karena tidak memiliki peternakan sendiri. Berbeda dengan daerah lain sepeti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Saat ini saja, daerah-daerah itu melarang sapi-sapinya keluar daerah.
Ketua Komite Daging Sapi Jakarta Raya Sarman Simanjorang mengatakan saat ini pemerintah belum siap melakukan swasembada daging sapi. Ia menambahkan, jika akan melakukan swasembada maka pemerintah harus melakukan pengembangan dengan memiliki peternakan besar untuk memenuhi kebutuhan daging sapi.
"Jadi peternakan dikelola secara industri, bukan secara tradisi seperti saat ini," ungkapnya kepada wartawan di Cimanggis Square, Minggu (23/12/2012) petang.
Sarman menuturkan, setidaknya untuk kawasan Jakarta, ada 17 ribu pengusaha kuliner, restoran, katering, dan penjual bakso yang membutuhkan daging sapi. Ditambah dari sektor hotel yang mencapai 5.700 unit usaha.
Secara global, Jakarta memerlukan antara 1.000-1.500 ton atau 2.000 ekor sapi per hari. Yang terjadi saat ini, lanjutnya, keran impor dikurangi namun peternak lokal tak mampu memenuhi kebutuhan.
"Ini yang menjadikan harga daging tinggi dan langka hingga ada oknum yang berbuat nakal dengan mengoplos daging. Indonesia adalah negara tertinggi yang menjual daging sapi, bahkan hingga tembus di harga Rp 120 ribu. Di negara lain masih di bawah Rp70 ribu per kilogram," tuturnya.
Pihaknya juga meminta kebijakan pada pemerintah untuk menambah kuota daging sapi impor. Kebutuhannya mencapai 50 ribu ton per tahun. "Dengan catatan kalau lokal tidak dapat memenuhi kebutuhan. Tapi kalau lokal dapat memenuhi tentu kami mendukung swasembada," tukas Sarman.
Dibeberkan dia, 80 persen daging imporr diserap di kawasan Jabodetabek karena tidak memiliki peternakan sendiri. Berbeda dengan daerah lain sepeti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali. Saat ini saja, daerah-daerah itu melarang sapi-sapinya keluar daerah.
(gpr)
Lihat Juga :