IHSG menanti 'kado' Natal
Rabu, 26 Desember 2012 - 08:08 WIB
IHSG menanti 'kado' Natal
A
A
A
Sindonews.com - Memasuki perdagangan perdana pascalibur Natal, indeks harga saham gabungan (IHSG) diharapkan mendapatkan penyegaran setelah pada perdagangan akhir pekan lalu sempat ditutup negatif.
"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.215-4.243 dan resistance 4.275-4.288," terang Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (26/12/2012).
Berpola lower long spinning dan di bawah lower bollinger bands (LBB). MACD bergerak turun dengan histogram negatif yang masih memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic menyentuh area oversold.
Meski secara teknikal seharusnya dengan posisi yang telah menyentuh area oversold akan ada pembalikan arah, namun dengan sentimen pasar yang belum sepenuhnya positif akan sulit mewujudkan kondisi tersebut.
"Diharapkan setelah liburan Natal, sentimen negatif bisa berkurang, sehingga bisa memberikan angin segar bagi IHSG," ujar Reza.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG seolah benar-benar tidak menunjukkan keinginannya untuk menguat. Harapan akan terjadinya Santa rally pun kian sirna. Bahkan perkiraan window dressing juga tidak terlihat di tengah sentimen negatif dari ketidakpastian penyelesaian fiscal cliff setelah perseteruan antar kedua kubu makin meruncing.
Kali ini, pelaku pasar merasa kecewa dan harus menahan kesal seiring tidak adanya kado Natal yang diberikan IHSG. Kekesalan pelaku pasar karena ketidakpastian sentimen berujung pada aksi jual, sehingga membuat IHSG anjlok. Bahkan pembukaan pasar saham Eropa dan perkiraan negatifnya bursa saham AS di akhir pekan kemarin semakin menderaskan aksi jual.
Sepanjang perdagangan, IHSG akhir pekan lalu menyentuh level 4.276,90 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.235,32 (level terendahnya) jelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.254,82. Volume perdagangan tercatat turun dan nilai total transaksi tercatat naik.
Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy. Pergerakan nilai tukar rupiah masih cenderung melemah setelah sentimen negatif dari fiscal cliff AS, dimana pimpinan Partai Republik John Boehner menarik kembali proposalnya karena tidak cukup suara untuk meloloskan proposalnya melalu Kongres AS.
Ekspektasi pelaku pasar berubah dengan kebuntuan tersebut. Padahal, pasar sempat berharap negosiasi itu akan mencapai kata sepakat sebelum libur Natal seperti yang pernah dijanjikan Presiden Obama. Pasar melihat, tidak mungkin tercapai kesepakatan dengan sempitnya waktu yang tersisa jelang penutupan 2012.
Di sisi lain, sentimen dari Eropa tidak begitu positif setelah S&P memangkas peringkat kredit Cyprus dari BB+ menjadi CCC+ dan juga turunnya tingkat kepercayaan konsumen Inggris dan turunnya indeks sentimen konsumen Jerman.
Bursa saham Asia di akhir pekan anjlok setelah Partai Republik membatalkan rencana untuk pemungutan suara pada pajak, sehingga memicu kekhawatiran akan gagalnya kesepakatan seiring dengan tenggat waktu pembicaraan anggaran. Sementara saham-saham di bursa China turun setelah pemerintah berencana membahas pembatasan properti.
Bursa saham Eropa turun di akhir pekan setelah penarikan kembali proposal yang diajukan Partai Republik, dikenal dengan “ Plan B ”, terutama setelah Presiden Obama mengancam akan memveto proposal tersebut. Di sisi lain, turunnya Gfk Consumer Climate Jerman turut menambah sentimen negatif.
Bursa saham AS berbalik negatif dengan pembatalan proposal Partai Republik tersebut, sehingga merontokkan saham-saham di akhir pekan. Anggota DPR dan senator tidak akan voting untuk anggaran akhir tahun hingga setelah Natal, namun memberi waktu kurang dari seminggu untuk mencapai kesepakatan jurang fiskal.
"Pada perdagangan hari ini, diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.215-4.243 dan resistance 4.275-4.288," terang Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Rabu (26/12/2012).
Berpola lower long spinning dan di bawah lower bollinger bands (LBB). MACD bergerak turun dengan histogram negatif yang masih memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic menyentuh area oversold.
Meski secara teknikal seharusnya dengan posisi yang telah menyentuh area oversold akan ada pembalikan arah, namun dengan sentimen pasar yang belum sepenuhnya positif akan sulit mewujudkan kondisi tersebut.
"Diharapkan setelah liburan Natal, sentimen negatif bisa berkurang, sehingga bisa memberikan angin segar bagi IHSG," ujar Reza.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, IHSG seolah benar-benar tidak menunjukkan keinginannya untuk menguat. Harapan akan terjadinya Santa rally pun kian sirna. Bahkan perkiraan window dressing juga tidak terlihat di tengah sentimen negatif dari ketidakpastian penyelesaian fiscal cliff setelah perseteruan antar kedua kubu makin meruncing.
Kali ini, pelaku pasar merasa kecewa dan harus menahan kesal seiring tidak adanya kado Natal yang diberikan IHSG. Kekesalan pelaku pasar karena ketidakpastian sentimen berujung pada aksi jual, sehingga membuat IHSG anjlok. Bahkan pembukaan pasar saham Eropa dan perkiraan negatifnya bursa saham AS di akhir pekan kemarin semakin menderaskan aksi jual.
Sepanjang perdagangan, IHSG akhir pekan lalu menyentuh level 4.276,90 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.235,32 (level terendahnya) jelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.254,82. Volume perdagangan tercatat turun dan nilai total transaksi tercatat naik.
Investor asing mencatatkan nett sell dengan kenaikan nilai transaksi beli dan nilai transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett buy. Pergerakan nilai tukar rupiah masih cenderung melemah setelah sentimen negatif dari fiscal cliff AS, dimana pimpinan Partai Republik John Boehner menarik kembali proposalnya karena tidak cukup suara untuk meloloskan proposalnya melalu Kongres AS.
Ekspektasi pelaku pasar berubah dengan kebuntuan tersebut. Padahal, pasar sempat berharap negosiasi itu akan mencapai kata sepakat sebelum libur Natal seperti yang pernah dijanjikan Presiden Obama. Pasar melihat, tidak mungkin tercapai kesepakatan dengan sempitnya waktu yang tersisa jelang penutupan 2012.
Di sisi lain, sentimen dari Eropa tidak begitu positif setelah S&P memangkas peringkat kredit Cyprus dari BB+ menjadi CCC+ dan juga turunnya tingkat kepercayaan konsumen Inggris dan turunnya indeks sentimen konsumen Jerman.
Bursa saham Asia di akhir pekan anjlok setelah Partai Republik membatalkan rencana untuk pemungutan suara pada pajak, sehingga memicu kekhawatiran akan gagalnya kesepakatan seiring dengan tenggat waktu pembicaraan anggaran. Sementara saham-saham di bursa China turun setelah pemerintah berencana membahas pembatasan properti.
Bursa saham Eropa turun di akhir pekan setelah penarikan kembali proposal yang diajukan Partai Republik, dikenal dengan “ Plan B ”, terutama setelah Presiden Obama mengancam akan memveto proposal tersebut. Di sisi lain, turunnya Gfk Consumer Climate Jerman turut menambah sentimen negatif.
Bursa saham AS berbalik negatif dengan pembatalan proposal Partai Republik tersebut, sehingga merontokkan saham-saham di akhir pekan. Anggota DPR dan senator tidak akan voting untuk anggaran akhir tahun hingga setelah Natal, namun memberi waktu kurang dari seminggu untuk mencapai kesepakatan jurang fiskal.
(rna)
Lihat Juga :