Ibu rumah tangga pun keluhkan kenaikan tarif listrik
Rabu, 26 Desember 2012 - 21:29 WIB
Ibu rumah tangga pun keluhkan kenaikan tarif listrik
A
A
A
Sindonews - Rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) pada 2013, menghadapi banyak penolakan. Mulai dari ibu rumah tangga hingga aktivis mengeluhkan rencana pemerintah tersebut.
Ida (31), ibu rumah tangga asal Kreo Selatan, Tangerang mengatakan, dirinya harus memeras otak jika kenaikan TDL jadi diterapkan pemerintah. Hanya bergantung pada penghasilan suami, dia harus memeras otak agar kebutuhan sehari-hari terpenuhi.
Ibu dua anak itu, juga kecewa dengan pelayanan PLN. “Waduh harus gimana lagi ya. Memang listrik saya 1.300 watt, tapi bukannya kaya memang kita kebutuhan. Yang lebih kesal lagi di tempat saya listriknya sering mati tanpa pemberitahuan ,” ujar Ida.
Jamilah (45), warga Cinere, Jakarta Selatan, juga harus menyisihkan uang dapur untuk membayar listrik bulanan. "Saya kan punya warung kecil-kecilan. Tapi, saya juga punya anak yang masih sekolah. Susah kalau listrik naik lagi," kata janda tiga anak itu.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), DKI Jakarta, Ujang Muhammad memandang, pemerintah seharusnya mencari solusi untuk menyediakan sumber energi murah, bukan menaikkan TDL.
"Kami tidak sepakat bila TDL dinaikkan, karena berefek sangat luas terhadap kondisi masyarakat di bawah," ujar Ujang saat dihubungi Sindonews, Rabu (26/12/2012).
Menurut Ujang, hal yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah menemukan solusi mencari sumber energi alternatif yang mudah dijangkau masyarakat kecil.
"Menurut kami bukan tarifnya yang dinaikan melainkan harus ada solusi pembangkit listrik yang murah dan efisien terhadap listrik, sehingga PLN tidak membebani negara. Misalnya, PLN menggunakan pembangkit non bahan bakar, bisa menggunakan geotermal, tenaga air dan nuklir," terang Ujang.
Ida (31), ibu rumah tangga asal Kreo Selatan, Tangerang mengatakan, dirinya harus memeras otak jika kenaikan TDL jadi diterapkan pemerintah. Hanya bergantung pada penghasilan suami, dia harus memeras otak agar kebutuhan sehari-hari terpenuhi.
Ibu dua anak itu, juga kecewa dengan pelayanan PLN. “Waduh harus gimana lagi ya. Memang listrik saya 1.300 watt, tapi bukannya kaya memang kita kebutuhan. Yang lebih kesal lagi di tempat saya listriknya sering mati tanpa pemberitahuan ,” ujar Ida.
Jamilah (45), warga Cinere, Jakarta Selatan, juga harus menyisihkan uang dapur untuk membayar listrik bulanan. "Saya kan punya warung kecil-kecilan. Tapi, saya juga punya anak yang masih sekolah. Susah kalau listrik naik lagi," kata janda tiga anak itu.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), DKI Jakarta, Ujang Muhammad memandang, pemerintah seharusnya mencari solusi untuk menyediakan sumber energi murah, bukan menaikkan TDL.
"Kami tidak sepakat bila TDL dinaikkan, karena berefek sangat luas terhadap kondisi masyarakat di bawah," ujar Ujang saat dihubungi Sindonews, Rabu (26/12/2012).
Menurut Ujang, hal yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah menemukan solusi mencari sumber energi alternatif yang mudah dijangkau masyarakat kecil.
"Menurut kami bukan tarifnya yang dinaikan melainkan harus ada solusi pembangkit listrik yang murah dan efisien terhadap listrik, sehingga PLN tidak membebani negara. Misalnya, PLN menggunakan pembangkit non bahan bakar, bisa menggunakan geotermal, tenaga air dan nuklir," terang Ujang.
(dmd)