IHSG diprediksi berpeluang terkoreksi
Kamis, 31 Januari 2013 - 08:09 WIB
IHSG diprediksi berpeluang terkoreksi
A
A
A
Sindonews.com - Kendati dihujani sentimen positif pada perdagangan kemarin, namun indeks harga saham gabungan (IHSG) bisa saja jatuh pada perdagangan hari ini bila tidak didukung volume perdagangan yang lebih bergairah.
"Lagi-lagi IHSG kembali membentuk hammer yang menggambarkan adanya pola penahan untuk daya beli, sehingga kenaikan IHSG pun belum dapat dikatakan signifikan," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Kamis (31/1/2013).
Pada perdagangan Kamis (31/1), lanjut Reza diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.424-4.442 dan resistance 4.465-4.472.
Berpola hammer di atas middle bollinger bands (MBB). MACD bergerak mendatar dengan histogram positif yang sedikit memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali mencoba menyentuh area overbought.
"Dengan penurunan volume perdagangan yang diikuti dengan turunnya aktivitas pelaku pasar asing, maka IHSG bisa saja 'jatuh' bila tidak ada penopang yang cukup kuat sebagai sandaran bertahan," tegas dia.
Pada perdagangan kemarin, IHSG dihujani banyak sentimen positif dari pasar global. Tak tanggung-tanggung, kabar gembira dari pasar China sampai menguatnya Bursa Eropa yang tengah tergopoh-gopoh, turut mewarnai perdagangan hari Rabu kemarin.
"Naiknya indeks harga perumahan AS yang diiringi sentimen positif dari Eropa berupa rilis kenaikan Gfk Consumer Climate Jerman dan turunnya yield obligasi Italia tenor 6 bulan serta rilis kinerja para emiten yang melampui pasar ternyata menjadi angin segar dan berimbas positif bagi IHSG," terang Reza.
Bahkan, lanjut dia, kenaikan data-data ekonomi dari wilayah Asia Pasifik semakin menambah sentimen positif, sehingga IHSG pun bisa bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan meskipun pada pembukaan tercatat melemah. "Tak ketinggalan, pembukaan pasar saham Eropa yang naik tipis juga berimbas positif pada IHSG," sambung Reza lagi.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.456,93 (level tertingginya) di pertengahan sesi 1 dan menyentuh level 4.433,65 (level terendahnya) jelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.452,98.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih di teritori negatif cenderung terkonsolidasi karena pelaku pasar menunggu laporan data PDB AS dan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Untuk FOMC, pelaku pasar mengekspektasikan belum ada yang berubah dari arah kebijakan The Fed yang masih akan mempertahankan kebijakan moneter longgarnya.
Sementara untuk PDB AS, diprediksi hanya naik 1,1 persen dari kuartal sebelumnya 3,1 persen. Adanya penilaian, jika PDB AS dirilis di bawah 1 persen, akan memperkuat USD seiring naiknya permintaan mata uang save haven.
Selain itu, banyaknya spekulasi di pasar offshore Singapura membuat rupiah juga mendapat tekanan negatif dari aksi tersebut.
Bursa saham Asia menghijau dengan didukung positifnya bursa saham AS dan Eropa sebelumnya dan kenaikan sejumlah data di atas estimasi antara lain industrial production Korea Selatan, retail sales Jepang, dan building consents New Zealand.
Rilis kinerja emiten yang sejauh ini melampui estimasi dan adanya spekulasi bahwa The Fed akan memperbarui komitmen pembelian aset cukup berimbas positif bagi pasar saham Asia. Kondisi ini dimanfaatkan bursa saham Asia untuk memperbaiki pencapaian level indeksnya.
"Lagi-lagi IHSG kembali membentuk hammer yang menggambarkan adanya pola penahan untuk daya beli, sehingga kenaikan IHSG pun belum dapat dikatakan signifikan," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Kamis (31/1/2013).
Pada perdagangan Kamis (31/1), lanjut Reza diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.424-4.442 dan resistance 4.465-4.472.
Berpola hammer di atas middle bollinger bands (MBB). MACD bergerak mendatar dengan histogram positif yang sedikit memanjang. RSI, William's %R, dan Stochastic kembali mencoba menyentuh area overbought.
"Dengan penurunan volume perdagangan yang diikuti dengan turunnya aktivitas pelaku pasar asing, maka IHSG bisa saja 'jatuh' bila tidak ada penopang yang cukup kuat sebagai sandaran bertahan," tegas dia.
Pada perdagangan kemarin, IHSG dihujani banyak sentimen positif dari pasar global. Tak tanggung-tanggung, kabar gembira dari pasar China sampai menguatnya Bursa Eropa yang tengah tergopoh-gopoh, turut mewarnai perdagangan hari Rabu kemarin.
"Naiknya indeks harga perumahan AS yang diiringi sentimen positif dari Eropa berupa rilis kenaikan Gfk Consumer Climate Jerman dan turunnya yield obligasi Italia tenor 6 bulan serta rilis kinerja para emiten yang melampui pasar ternyata menjadi angin segar dan berimbas positif bagi IHSG," terang Reza.
Bahkan, lanjut dia, kenaikan data-data ekonomi dari wilayah Asia Pasifik semakin menambah sentimen positif, sehingga IHSG pun bisa bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan meskipun pada pembukaan tercatat melemah. "Tak ketinggalan, pembukaan pasar saham Eropa yang naik tipis juga berimbas positif pada IHSG," sambung Reza lagi.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.456,93 (level tertingginya) di pertengahan sesi 1 dan menyentuh level 4.433,65 (level terendahnya) jelang akhir sesi 2 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.452,98.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi tercatat turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah masih di teritori negatif cenderung terkonsolidasi karena pelaku pasar menunggu laporan data PDB AS dan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Untuk FOMC, pelaku pasar mengekspektasikan belum ada yang berubah dari arah kebijakan The Fed yang masih akan mempertahankan kebijakan moneter longgarnya.
Sementara untuk PDB AS, diprediksi hanya naik 1,1 persen dari kuartal sebelumnya 3,1 persen. Adanya penilaian, jika PDB AS dirilis di bawah 1 persen, akan memperkuat USD seiring naiknya permintaan mata uang save haven.
Selain itu, banyaknya spekulasi di pasar offshore Singapura membuat rupiah juga mendapat tekanan negatif dari aksi tersebut.
Bursa saham Asia menghijau dengan didukung positifnya bursa saham AS dan Eropa sebelumnya dan kenaikan sejumlah data di atas estimasi antara lain industrial production Korea Selatan, retail sales Jepang, dan building consents New Zealand.
Rilis kinerja emiten yang sejauh ini melampui estimasi dan adanya spekulasi bahwa The Fed akan memperbarui komitmen pembelian aset cukup berimbas positif bagi pasar saham Asia. Kondisi ini dimanfaatkan bursa saham Asia untuk memperbaiki pencapaian level indeksnya.
(rna)
Lihat Juga :