IHSG diprediksi menguat terbatas
Selasa, 12 Februari 2013 - 07:53 WIB
IHSG diprediksi menguat terbatas
A
A
A
Sindonews.com - Indeks harga saham gabungan (IHSG) terus didongkrak oleh berbagai sentimen positif yang berhembus. Sayangnya, tidak terlalu kuatnya sentimen yang ada membuat penguatan yang terjadi masih terbatas.
Begitupun pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan akan berada pada support 4.475-4.501 dan resistance 4.521-4.530.
Berpola bullish harami cross di bawah upper bollinger bands (UBB). MACD cenderung melemah dengan histogram positif yang sedikit turun. RSI, William's %R, dan Stochastic upreversal tipis pada area overbought.
"Masih tercatatnya penguatan meski tipis menunjukkan masih adanya dorongan beli pada IHSG, sehingga tidak mengalami pelemahan," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Selesa (12/2/2013).
Sayangnya, volume dan nilai transaksi yang menurun menyebabkan IHSG gagal mendekati target resisten. Dengan minimnya sentimen, diperkirakan IHSG masih akan bergerak variatif.
"Jikapun terjadi kenaikan maka kemungkinan masih akan terbatas karena posisi dari IHSG yang memang sudah berada di area overbought-nya," ujar Reza.
Pada perdagangan sebelumnya, tampak IHSG mendapat berkah dengan adanya Tahun Baru Imlek dimana menutup perdagangan Senin (11/2/2013) di zona hijau meski masih dibawah target resisten.
Namun demikian, pencapaian ini jauh lebih baik jika dibandingkan rerata tahun-tahun sebelumnya, dimana H-1 dan H+1 saat Imlek mencatatkan pelemahan. Dari observasi selama lima tahun terakhir (2008-2012), IHSG untuk H-1 jelang Imlek, sebanyak tiga kali turun dan dua kali naik, dimana penurunan terdalam saat 2008 yang turun 2,41 persen.
Untuk H+1, sebanyak dua kali turun dan tiga kali naik, dimana penurunan terdalam saat 2008 juga yang turun 1,88 persen. Untuk tahun ini, H-1 turun 0,26 persen dan H+1 naik 0,27 persen.
"Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.514,12 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.496,02 (level terendahnya) jelang preclosing dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.503,25," papar Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi menurun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah menguat seperti biasa jelang pengumuman BI rate oleh Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan memutuskan ada atau tidaknya perubahan BI rate dari level saat ini, 5,75 persen. Meski Bi rate diperkirakan tetap, namun pelaku pasar berharap adanya kenaikan pada suku bunga FASBI sebesar 25 bps dari posisi saat ini 3,75 persen.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu langkah BI terkait penyelesaian transaksi berjangka (forward) rupiah yang biasa dilakukan di luar negeri agar dapat dilakukan di dalam negeri. Apresiasi rupiah juga didukung laju Euro yang kembali menguat seiring positifnya data produksi industri Perancis yang angkanya masih di atas estimasi.
Bursa saham Asia mayoritas libur antara lain China, Hong Kong, KorSel, Taiwan, Vietnam, dan Malaysia. Sementara untuk bursa-bursa saham Asia yang buka, antara lain Dubai dan Rusia berhasil mencatatkan kenaikan.
"Meski demikian, pelaku pasar tetap memperhatikan sentimen yang ada, terutama dari Eropa terkait pertemuan para Menkeu Uni Eropa pada awal pekan ini," tuturnya.
Begitupun pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan akan berada pada support 4.475-4.501 dan resistance 4.521-4.530.
Berpola bullish harami cross di bawah upper bollinger bands (UBB). MACD cenderung melemah dengan histogram positif yang sedikit turun. RSI, William's %R, dan Stochastic upreversal tipis pada area overbought.
"Masih tercatatnya penguatan meski tipis menunjukkan masih adanya dorongan beli pada IHSG, sehingga tidak mengalami pelemahan," terang Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada, Selesa (12/2/2013).
Sayangnya, volume dan nilai transaksi yang menurun menyebabkan IHSG gagal mendekati target resisten. Dengan minimnya sentimen, diperkirakan IHSG masih akan bergerak variatif.
"Jikapun terjadi kenaikan maka kemungkinan masih akan terbatas karena posisi dari IHSG yang memang sudah berada di area overbought-nya," ujar Reza.
Pada perdagangan sebelumnya, tampak IHSG mendapat berkah dengan adanya Tahun Baru Imlek dimana menutup perdagangan Senin (11/2/2013) di zona hijau meski masih dibawah target resisten.
Namun demikian, pencapaian ini jauh lebih baik jika dibandingkan rerata tahun-tahun sebelumnya, dimana H-1 dan H+1 saat Imlek mencatatkan pelemahan. Dari observasi selama lima tahun terakhir (2008-2012), IHSG untuk H-1 jelang Imlek, sebanyak tiga kali turun dan dua kali naik, dimana penurunan terdalam saat 2008 yang turun 2,41 persen.
Untuk H+1, sebanyak dua kali turun dan tiga kali naik, dimana penurunan terdalam saat 2008 juga yang turun 1,88 persen. Untuk tahun ini, H-1 turun 0,26 persen dan H+1 naik 0,27 persen.
"Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG menyentuh level 4.514,12 (level tertingginya) di awal sesi 1 dan menyentuh level 4.496,02 (level terendahnya) jelang preclosing dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.503,25," papar Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi menurun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan kenaikan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah menguat seperti biasa jelang pengumuman BI rate oleh Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan memutuskan ada atau tidaknya perubahan BI rate dari level saat ini, 5,75 persen. Meski Bi rate diperkirakan tetap, namun pelaku pasar berharap adanya kenaikan pada suku bunga FASBI sebesar 25 bps dari posisi saat ini 3,75 persen.
Selain itu, pelaku pasar juga menunggu langkah BI terkait penyelesaian transaksi berjangka (forward) rupiah yang biasa dilakukan di luar negeri agar dapat dilakukan di dalam negeri. Apresiasi rupiah juga didukung laju Euro yang kembali menguat seiring positifnya data produksi industri Perancis yang angkanya masih di atas estimasi.
Bursa saham Asia mayoritas libur antara lain China, Hong Kong, KorSel, Taiwan, Vietnam, dan Malaysia. Sementara untuk bursa-bursa saham Asia yang buka, antara lain Dubai dan Rusia berhasil mencatatkan kenaikan.
"Meski demikian, pelaku pasar tetap memperhatikan sentimen yang ada, terutama dari Eropa terkait pertemuan para Menkeu Uni Eropa pada awal pekan ini," tuturnya.
(rna)
Lihat Juga :