Jumlah hotel kritis di Jabar makin mengkhawatirkan

Rabu, 13 Februari 2013 - 15:23 WIB
Jumlah hotel kritis...
Jumlah hotel kritis di Jabar makin mengkhawatirkan
A A A
Sindonews.com - Jumlah hotel kritis di Jawa Barat terutama di kabupaten/kota semakin mengkhawatirkan. Minimnya okupansi menjadi penyebab utama.

Hal tersebut dikemukakan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar Herman Muhtar menanggapi kasus pembunuhan salah seorang manajemen salah satu hotel di Ciamis, belum lama ini. Menurut dia, okupansi hotel di daerah sangat mengkhawatirkan. Akibatnya, manajemen hotel banyak yang rugi.

Di Ciamis saja, rata rata okupansi hotel 29 persen. Selain Ciamis, tidak sedikit hotel di kabupaten/kota lainnya yang mengalami penurunan okupansi.

"Untuk menutup biaya operasional, okupansi hotel harus di atas 40 persen. Apabila kurang dari itu, kita menghadapi posisi sulit. Dan tidak sedikit yang kritis," jelas Herman kepada wartawan di Bandung, Rabu (13/2/2013).

Rendahnya okupansi hotel di daerah, menyebabkan kerugian di kalangan manajemen hotel. Padahal, mereka mesti membayar gaji karyawan, biaya operasional, dan perlengkapan lainnya. Apabila kondisi tersebut dibiarkan, tidak sedikit manajemen hotel yang menanggung kerugian.

Ketika ditanya jumlah hotel di Jabar yang kritis, Herman belum bisa menyebutkan secara pasti jumlah hotel yang kritis. Namun, hotel yang kritis yaitu hotel dengan okupansi sangat rendah dan tidak bisa melakukan penyesuaian terhadap perkembangan pariwisata.

"Kalau mereka tidak melakukan penyesuaian, seperti perbaikan pelayanan, fasilitas kamar, dan lainnya pasti akan kalah bersaing," pungkas dia.

Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di daerah, tapi juga kota/kabupaten tujuan wisata seperti Bandung, Pangandaran, Sukabumi, dan lainnya. Menurut dia, upaya menaikkan kunjungan wisatawan ke daerah tidak hanya dilakukan pelaku usaha. Pemerintah perlu men-drive dengan berbagai upaya dan regulasi, agar wisatawan berkunjung ke daerah.

"Insfrastruktur ke tempat wisata harus diperbaiki. Bagaimana mereka akan berkunjung kalau jalannya rusak," jelas dia.

Selain itu, lanjut dia, pertumbuhan hotel di Jawa Barat sangat tidak sebanding dengan jumlah wisatawan. Saat ini, jumlah hotel di Jabar lebih dari 1.500 buah. Dalam satu tahun terakhir, bertambah sekitar 100 unit. Pertumbuhan hotel tanpa diiringi peningkatan kunjungan wisatawan mengancam kelangsungan hotel lainnya.

"Pemerintah harusnya menyesuaian izin pembangunan hotel dengan rata-rata wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah. Dengan begitu, bisnis hotel tidak menghadapi ancaman kebangkrutan akibat minimnya okupansi," beber dia.

Sementara saat ini, pembangunan hotel cenderung tanpa batasan. Seperti di kawasan wisata Pangandaran, pasca tsunami yang terjadi beberapa waktu lalu, pembangunan hotel terus terjadi. Sementara musim liburan tidak terjadi setiap waktu. Akibatnya pada hari kerja, okupansinya sangat rendah.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
PHI Group dengan Perhutani...
PHI Group dengan Perhutani Alam Wisata Teken Kerjasama Pengembangan Wisata
Nemuru Hotel Ciputat,...
Nemuru Hotel Ciputat, Destinasi Penginapan Baru di Selatan Jakarta dengan Nuansa Jepang yang Kental
New Years Eve, Aerotel...
New Years Eve, Aerotel Smile Hotel Usung Street Food Festival
Injak Usia ke-7, Alma...
Injak Usia ke-7, Alma Corp dan The Silk Dago Bandung Jalin Kerja Sama
Artotel Group dan Winner...
Artotel Group dan Winner Group Kerja Sama Garap Tiga Proyek Hotel Baru di Batam
Bisnis Perhotelan dan...
Bisnis Perhotelan dan Restoran Berisiko Tingkatkan Kredit Macet
Berita Terkini
Harga Emas Antam dan...
Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Turun Rp20.000 per Gram, Ini Rinciannya
25 menit yang lalu
Perkuat Tata Kelola...
Perkuat Tata Kelola Keamanan Informasi, MNC Sekuritas Perpanjang Sertifikasi ISO/IEC 27001:2022
34 menit yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,17% ke 5.934
1 jam yang lalu
MSIG Life Kolaborasi...
MSIG Life Kolaborasi dengan Bank Sinarmas Meluncurkan Smile Critical Prime
2 jam yang lalu
Takeda Investasi Rp542...
Takeda Investasi Rp542 Miliar Bangun Ekosistem Plasma di Indonesia
3 jam yang lalu
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Serang, Harga Minyak Dunia Melesat Lebih 3%
3 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved