Ekspor CPO Indonesia akan jatuh dalam 4 bulan
Kamis, 14 Februari 2013 - 16:43 WIB
Ekspor CPO Indonesia akan jatuh dalam 4 bulan
A
A
A
Sindonews.com - Ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia, diperkirakan menurun ke level terendah dalam empat bulan per Februari 2013. Hal tersebut terjadi akibat pembeli berpaling ke Malaysia menyusul perpanjangan bebas bea pengiriman yang diberlakukan pemerintah 'Negeri Jiran'.
Kebijakan Indonesia menaikkan bea ekspor minyak sawit menjadi 9 persen untuk pengiriman Februari 2013 sudah mulai memberikan keuntungan bagi Malaysia. Harga kontrak CPO di Malaysia Derivatives Exchange untuk pengiriman April naik 1,1 persen menjadi 2.471 ringgit (US $ 803) per metrik ton.
Menurut estimasi dari tiga perusahaan perkebunan sawit dan analis yang dilansir Bloomberg, Kamis (14/2/2013), ekspor CPO Indonesia akan turun 5,6 persen menjadi 1,51 juta metrik ton dari Januari 2013. Output dapat bergeser 8 persen menjadi 2 juta ton, sedangkan persediaan kontrak 14 persen menjadi 3 juta ton.
Malaysia, yang merupakan produsen CPO terbesar kedua minyak sawit, telah mengatur pajak ekspor 0 persen untuk Januari dan Februari setelah melakukan pembenahan tarif untuk menghabiskan cadangan minyak.
Kuala Lumpur, yang kehilangan 23 persen tahun lalu, naik 2,3 persen pada 2013. India sebagai pembeli teratas, memperkenalkan tarif impor bulan lalu, sementara Indonesia menaikkan pajak ekspor untuk Februari 2013.
"Malaysia lebih kompetitif. Kami terkena pajak ganda, dengan India memberlakukan tarif impor dan Indonesia menaikkan pajak ekspor," kata Eddy Martono, direktur PT Mega Karya Nusa, perusahaan perkebunan yang berbasis di Jakarta.
Diberitakan sebelumnya, pada akhir Desember 2012, stok CPO Malaysia tercatat sebesar 2,63 juta. Stok diperkirakan akan terserap ke pasar seiring langkah pemulihan ekspor dan penurunan produksi.
"Kenaikan pajak Indonesia tersebut berpihak pada produsen Malaysia. Kita bisa memperkirakan ekspor yang lebih tinggi di bulan Februari. Mereka telah kehilangan daya saing," kata Wakil Presiden Futures and Options OSK Investment Bank Bhd, Ryan Long.
Sementara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), akan merilis estimasi ekspor Januari pada akhir bulan ini, diikuti Februari dan Maret mendatang.
Kebijakan Indonesia menaikkan bea ekspor minyak sawit menjadi 9 persen untuk pengiriman Februari 2013 sudah mulai memberikan keuntungan bagi Malaysia. Harga kontrak CPO di Malaysia Derivatives Exchange untuk pengiriman April naik 1,1 persen menjadi 2.471 ringgit (US $ 803) per metrik ton.
Menurut estimasi dari tiga perusahaan perkebunan sawit dan analis yang dilansir Bloomberg, Kamis (14/2/2013), ekspor CPO Indonesia akan turun 5,6 persen menjadi 1,51 juta metrik ton dari Januari 2013. Output dapat bergeser 8 persen menjadi 2 juta ton, sedangkan persediaan kontrak 14 persen menjadi 3 juta ton.
Malaysia, yang merupakan produsen CPO terbesar kedua minyak sawit, telah mengatur pajak ekspor 0 persen untuk Januari dan Februari setelah melakukan pembenahan tarif untuk menghabiskan cadangan minyak.
Kuala Lumpur, yang kehilangan 23 persen tahun lalu, naik 2,3 persen pada 2013. India sebagai pembeli teratas, memperkenalkan tarif impor bulan lalu, sementara Indonesia menaikkan pajak ekspor untuk Februari 2013.
"Malaysia lebih kompetitif. Kami terkena pajak ganda, dengan India memberlakukan tarif impor dan Indonesia menaikkan pajak ekspor," kata Eddy Martono, direktur PT Mega Karya Nusa, perusahaan perkebunan yang berbasis di Jakarta.
Diberitakan sebelumnya, pada akhir Desember 2012, stok CPO Malaysia tercatat sebesar 2,63 juta. Stok diperkirakan akan terserap ke pasar seiring langkah pemulihan ekspor dan penurunan produksi.
"Kenaikan pajak Indonesia tersebut berpihak pada produsen Malaysia. Kita bisa memperkirakan ekspor yang lebih tinggi di bulan Februari. Mereka telah kehilangan daya saing," kata Wakil Presiden Futures and Options OSK Investment Bank Bhd, Ryan Long.
Sementara Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), akan merilis estimasi ekspor Januari pada akhir bulan ini, diikuti Februari dan Maret mendatang.
(dmd)
Lihat Juga :