Peraturan baru China 'pukul' saham real estate

Senin, 04 Maret 2013 - 12:57 WIB
Peraturan baru China...
Peraturan baru China 'pukul' saham real estate
A A A
Sindonews.com - Saham properti China hari ini jatuh sebagai dampak dari kekhawatiran pengembang atas langkah pemerintah mengendalikan harga rumah yang diumumkan pekan lalu.

Dilansir Global Post, Senin (4/3/2013), Dewan Kabinet menetapkan pemilik rumah yang menjual properti harus membayar pajak keuntungan modal sebesar 20 persen. Sebelumnya, China juga mengenakan pajak pemilik rumah satu hingga dua persen dari harga jual.

Tidak hanya itu, pemerintah mendorong bank sentral untuk menaikkan uang muka dan tingkat hipotek pinjaman bagi pembeli rumah kedua di beberapa kota. Pemerintah daerah juga membatasi non-penduduk membeli lebih dari satu rumah.

Pada awal 2011, Dewan Negara menetapkan uang muka minimum untuk rumah kedua sebesar 60 persen dari harga pembelian sebagai bagian dari upaya mengendalikan harga properti.

Tak heran, jika harga properti menjadi isu sensitif di China dan pihak berwenang dalam tiga tahun terakhir, mulai dari langkah-langkah pembatasan pembelian rumah kedua dan ketiga, uang muka minimum yang lebih tinggi, dan pajak di beberapa kota untuk pemilik non lokal.

Saham Poly Real Estate dan pengembang Gemdale anjlok hampir 10 persen pada Senin pagi. Para analis mengatakan, langkah baru pemerintah dapat meredam sentimen terhadap sektor jangka pendek, namun harga rumah bisa naik dalam jangka panjang.

"Kebijakan tersebut selalu memiliki dampak sementara, berisik dan negatif," kata Liu Ligang, ekonom dari Banking Grup Australia dan Seladia Banking di Hong Kong.

Tidak jelas kapan pajak baru tersebut akan diberlakukan. Namun, para pemilik rumah sudah bergegas menjual propertinya sebelum peraturan itu berlaku.

Lu Ting, ekonom dari Bank of America Merrill Lynch, Hongkong mengatakan, tindakan keras di pasar skunder bisa menggeser permintaan untuk rumah baru.

"Langkah-langkah baru mungkin secara tidak sengaja menggeser permintaan rumah, dan mendorong harga rumah baru naik lebih cepat," ujarnya.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Krisis Ekonomi China...
Krisis Ekonomi China Pengaruhi Ekspor Impor Dalam Negeri
Gelombang Covid-19 Kembali...
Gelombang Covid-19 Kembali Hantam Ekonomi Tiongkok
Menteri Keuangan Waspadai...
Menteri Keuangan Waspadai Situasi Kontraksi Ekonomi China
Momen Unik saat Presiden...
Momen Unik saat Presiden Prabowo Bicara Bahasa Tiongkok di Beijing
China Rebound, Bidik...
China Rebound, Bidik Pertumbuhan Ekonomi di Atas 6%
Berita Terkini
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
43 menit yang lalu
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
45 menit yang lalu
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
1 jam yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
2 jam yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
2 jam yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
2 jam yang lalu
Infografis
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Bakal Bangun 11 Rusun Baru, Ini Lokasinya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved