Akhir pekan, investor perlu waspada pelemahan IHSG
Jum'at, 08 Maret 2013 - 08:12 WIB
Akhir pekan, investor perlu waspada pelemahan IHSG
A
A
A
Sindonews.com - Kendati masih berada pada zona hijau, pada perdagangan akhir pekan ini investor tetap diminta waspada akan adanya pelemahan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menuturkan, dengan segala sentimen yang ada pada perdagangan Jumat (7/3), diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.800-4.820 dan resistance 4.855-4.862.
Berpola menyerupai hammer dekati upper bollinger bands (UBB). MACD kembali naik dengan histogram positif yang meningkat. RSI, William's %R, dan Stochastic melanjutkan kenaikan mendekati area overbought.
"Kembali target resisten kami terlampui. Memang secara teknikal masih dimungkinkan untuk melanjutkan kenaikan. Apalagi, batas UBB belum sepenuhnya terlewati. Akan tetapi, perlu kiranya waspada dengan penurunan volume tersebut yang memungkinkan terjadinya peluang downreversal," kata Reza, Jumat (8/3/2013).
Pada perdagangan sebelumnya tampak IHSG memanfaatkan berita positif dari rilis ADP Nonfarm Employment Change dan factory orders bulanan AS serta berita stimulus dari perbankan sentral global untuk membuat tetap bertahan positif.
Rilis BI rate yang tetap di 5,75 persen dan turunnya neraca defisit perdagangan Indonesia terlihat sedikit dihiraukan pelaku pasar.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.848,55 (level tertingginya) di pertengahan sesi 1 dan menyentuh level 4.818,97 (level terendahnya) di pertengahan sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.848,30," papar Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah naik tipis ditengah sentimen penurunan cadangan devisa (cadev) Indonesia di Februari yang turun sebesar USD3,6 miliar menjadi USD105,2. miliar. Kondisi ini melanjutkan penurunan pada Januari 2013 yang turun USD4 miliar menjadi USD 108,8 miliar.
Selain itu, kabar dari turunnya neraca perdagangan Australia dan Perancis membuat euro dan mata uang Asia sedikit melemah. Akan tetapi, komentar BI bahwa di Februari 2013 tekanan depresiasi terhadap rupiah cenderung mereda hingga mencapai rata-rata Rp9.680/USD membuat rupiah sedikit alami rebound.
Kebijakan stabilisasi nilai tukar yang ditempuh BI, termasuk penguatan mekanisme intervensi valas dan pembentukan referensi nilai tukar rupiah di pasar domestik mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Selain itu, stabilitas nilai tukar juga didukung dengan masuknya aliran dana nonresiden ke instrumen rupiah yang mencapai Rp27,6 triliun.
Bursa saham Asia non Jepang mulai melemah dengan kabar negatif dari Australia yang merilis kenaikan defisit perdagangannya dan berita pemangkasan pekerja.
"Di sisi lain, berita regulator pasar modal China yang akan melakukan peninjauan kembali proses IPO dan ekspektasi negatif terhadap rilis neraca perdagangan China yang akan dirilis pada akhir pekan turut berikan sentimen negatif," tutur Reza.
Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada menuturkan, dengan segala sentimen yang ada pada perdagangan Jumat (7/3), diperkirakan IHSG akan berada pada support 4.800-4.820 dan resistance 4.855-4.862.
Berpola menyerupai hammer dekati upper bollinger bands (UBB). MACD kembali naik dengan histogram positif yang meningkat. RSI, William's %R, dan Stochastic melanjutkan kenaikan mendekati area overbought.
"Kembali target resisten kami terlampui. Memang secara teknikal masih dimungkinkan untuk melanjutkan kenaikan. Apalagi, batas UBB belum sepenuhnya terlewati. Akan tetapi, perlu kiranya waspada dengan penurunan volume tersebut yang memungkinkan terjadinya peluang downreversal," kata Reza, Jumat (8/3/2013).
Pada perdagangan sebelumnya tampak IHSG memanfaatkan berita positif dari rilis ADP Nonfarm Employment Change dan factory orders bulanan AS serta berita stimulus dari perbankan sentral global untuk membuat tetap bertahan positif.
Rilis BI rate yang tetap di 5,75 persen dan turunnya neraca defisit perdagangan Indonesia terlihat sedikit dihiraukan pelaku pasar.
"Sepanjang perdagangan, IHSG menyentuh level 4.848,55 (level tertingginya) di pertengahan sesi 1 dan menyentuh level 4.818,97 (level terendahnya) di pertengahan sesi 1 dan akhirnya berhasil bertengger di level 4.848,30," papar Reza.
Volume perdagangan dan nilai total transaksi turun. Investor asing mencatatkan nett buy dengan penurunan nilai transaksi beli dan transaksi jual. Investor domestik mencatatkan nett sell.
Pergerakan nilai tukar rupiah naik tipis ditengah sentimen penurunan cadangan devisa (cadev) Indonesia di Februari yang turun sebesar USD3,6 miliar menjadi USD105,2. miliar. Kondisi ini melanjutkan penurunan pada Januari 2013 yang turun USD4 miliar menjadi USD 108,8 miliar.
Selain itu, kabar dari turunnya neraca perdagangan Australia dan Perancis membuat euro dan mata uang Asia sedikit melemah. Akan tetapi, komentar BI bahwa di Februari 2013 tekanan depresiasi terhadap rupiah cenderung mereda hingga mencapai rata-rata Rp9.680/USD membuat rupiah sedikit alami rebound.
Kebijakan stabilisasi nilai tukar yang ditempuh BI, termasuk penguatan mekanisme intervensi valas dan pembentukan referensi nilai tukar rupiah di pasar domestik mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Selain itu, stabilitas nilai tukar juga didukung dengan masuknya aliran dana nonresiden ke instrumen rupiah yang mencapai Rp27,6 triliun.
Bursa saham Asia non Jepang mulai melemah dengan kabar negatif dari Australia yang merilis kenaikan defisit perdagangannya dan berita pemangkasan pekerja.
"Di sisi lain, berita regulator pasar modal China yang akan melakukan peninjauan kembali proses IPO dan ekspektasi negatif terhadap rilis neraca perdagangan China yang akan dirilis pada akhir pekan turut berikan sentimen negatif," tutur Reza.
(rna)
Lihat Juga :