IEA soroti biaya mahal pergeseran energi Jerman
Jum'at, 24 Mei 2013 - 20:14 WIB
IEA soroti biaya mahal pergeseran energi Jerman
A
A
A
Sindonews.com - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan Jerman untuk melindungi konsumen dari biaya terlalu mahal atas upaya peralihan dari tenaga nuklir dan bahan bakar fosil menuju energi terbarukan.
Dilansir dari Economic Times, Jumat (24/5/2013), IEA juga mengatakan ekonomi terbesar di Eropa itu harus membuat penggunaan lebih besar gas alam pada masa transisi dan mengurangi penggunaan batubara, sehingga dapat memenuhi target pengurangan karbon dalam memerangi perubahan iklim.
Mengingat skala "Energiewende" atau pergeseran energi, ukuran perekonomian Jerman dan lokasinya di jantung Eropa, menurut badan itu, langkah-langkah lebih lanjut diperlukan "untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan, keterjangkauan dan daya saing".
Kanselir Angela Merkel memutuskan setelah kecelakaan nuklir di Fukushima, Jepang pada 2011, keluar dari fase tenaga nuklir pada 2022, dimulai dengan penutupan langsung delapan pabrik tertua.
Sejak saat itu Jerman telah mempercepat pembangunan tenaga angin, tenaga surya dan biofuel, yang dipromosikan lewat subsidi dan reformasi hukum, dengan tujuan menghasilkan setengah dari listrik dari energi terbarukan pada 2030.
Reformasi hukum pada 2000 "telah terbukti sangat efektif dalam memperkenalkan energi terbarukan, terutama pembangkit listrik dari biomassa, energi angin dan photovoltaics surya.
Badan berbasis di Paris itu menunjuk perdebatan politik di Jerman tentang diskon yang diberikan kepada industri, yang telah dibiayai sebagian oleh tagihan listrik yang lebih tinggi bagi konsumen dan biaya tambahan pajak.
Mereka menyarankan biaya dan manfaat perlu dialokasikan secara adil dan transparan antara semua pelaku pasar, khususnya rumah tangga.
"Fakta bahwa harga listrik Jerman termasuk yang tertinggi di Eropa, meskipun harga grosir relatif rendah, harus berfungsi sebagai sinyal peringatan," kata direktur eksekutif IEA, Maria van der Hoeven saat menyampaikan laporan di Berlin.
Tahun ini, pajak akan menambah total sekitar 60 euro (USD77) untuk rata-rata tagihan listrik rumah tangga Jerman, kata IEA, memperingatkan bahwa transisi ke sektor energi rendah karbon memerlukan penerimaan publik.
Laporan itu juga menyoroti penyebaran geografis antara penawaran dan permintaan energi terbarukan. Sementara ladang tenaga angin kebanyakan di pesisir utara Jerman, sedangkan permintaan tertinggi berada di industri selatan dan barat.
Dilansir dari Economic Times, Jumat (24/5/2013), IEA juga mengatakan ekonomi terbesar di Eropa itu harus membuat penggunaan lebih besar gas alam pada masa transisi dan mengurangi penggunaan batubara, sehingga dapat memenuhi target pengurangan karbon dalam memerangi perubahan iklim.
Mengingat skala "Energiewende" atau pergeseran energi, ukuran perekonomian Jerman dan lokasinya di jantung Eropa, menurut badan itu, langkah-langkah lebih lanjut diperlukan "untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan, keterjangkauan dan daya saing".
Kanselir Angela Merkel memutuskan setelah kecelakaan nuklir di Fukushima, Jepang pada 2011, keluar dari fase tenaga nuklir pada 2022, dimulai dengan penutupan langsung delapan pabrik tertua.
Sejak saat itu Jerman telah mempercepat pembangunan tenaga angin, tenaga surya dan biofuel, yang dipromosikan lewat subsidi dan reformasi hukum, dengan tujuan menghasilkan setengah dari listrik dari energi terbarukan pada 2030.
Reformasi hukum pada 2000 "telah terbukti sangat efektif dalam memperkenalkan energi terbarukan, terutama pembangkit listrik dari biomassa, energi angin dan photovoltaics surya.
Badan berbasis di Paris itu menunjuk perdebatan politik di Jerman tentang diskon yang diberikan kepada industri, yang telah dibiayai sebagian oleh tagihan listrik yang lebih tinggi bagi konsumen dan biaya tambahan pajak.
Mereka menyarankan biaya dan manfaat perlu dialokasikan secara adil dan transparan antara semua pelaku pasar, khususnya rumah tangga.
"Fakta bahwa harga listrik Jerman termasuk yang tertinggi di Eropa, meskipun harga grosir relatif rendah, harus berfungsi sebagai sinyal peringatan," kata direktur eksekutif IEA, Maria van der Hoeven saat menyampaikan laporan di Berlin.
Tahun ini, pajak akan menambah total sekitar 60 euro (USD77) untuk rata-rata tagihan listrik rumah tangga Jerman, kata IEA, memperingatkan bahwa transisi ke sektor energi rendah karbon memerlukan penerimaan publik.
Laporan itu juga menyoroti penyebaran geografis antara penawaran dan permintaan energi terbarukan. Sementara ladang tenaga angin kebanyakan di pesisir utara Jerman, sedangkan permintaan tertinggi berada di industri selatan dan barat.
(dmd)
Lihat Juga :