DPR curiga penambahan KRL upaya kurangi kereta ekonomi

Rabu, 03 April 2013 - 12:03 WIB
DPR curiga penambahan...
DPR curiga penambahan KRL upaya kurangi kereta ekonomi
A A A
Sindonews.com - Anggota Komisi V DPR RI, Sigit Sosiantomo mencurigai upaya PT Kereta Api Indonesia (KAI) melalui anak usahanya PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) menambah perjalanan kereta rel listrik (KRL) untuk mengurangi jumlah kereta ekonomi.

"Jika maksudnya untuk meningkatkan pelayanan, saya dukung 100 persen, asalkan hal ini bukan strategi untuk menghapus KRL ekonomi atau menghapus subsidi penumpang KRL," kata Sigit dalam rilisnya di Jakarta, Rabu (3/4/2013).

Seperti diketahui, PT KCJ telah memulai jadwal baru pengoperasian KRL Jabodetabek. Perubahan masa pengoperasian menjadi 22 jam per hari. Konon pelayanan KRL yang nyaris nonstop tersebut sebagai wujud apresiasi KAI terhadap besarnya animo masyarakat Jabodetabek.

Atas jadwal baru, maka jumlah perjalanan KRL bertambah dari 514 perjalanan menjadi 575 perjalanan. Sayang, jumlah perjalanan KRL ekonomi justru turun menjadi 23 perjalanan dari semula 26 perjalanan.

Dia mengklarifikasi besaran subsidi (public service obligation/PSO) yang digelontorkan pemerintah selama ini. Pada 2013, dana PSO justru turun menjadi sekitar Rp704 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp770 miliar.

"Sejatinya dana PSO itu tidak ada artinya dibandingkan subsidi untuk BBM yang mencapai ratusan triliun rupiah, tapi tidak tepat sasaran," ujarnya.

Sigit mengakui, secara fisik kondisi KRL ekonomi sangat memprihatinkan dan membahayakan penumpang. Mulai dari kondisi pintu yang tidak bisa ditutup hingga penumpang berjubel di atas atap.

Berdasarkan data KAI, KRL ekonomi sebanyak 1.226 kali mogok sepanjang 2012. Dampak mogok KRL tersebut adalah mengganggu 4.200 perjalanan kereta.

"Ada dua hal penting yang tak bisa ditawar dalam pelayanan kereta api yang harus berlaku sama bagi semua penumpang, yaitu keselamatan dan waktu. Masalah KRL ekonomi adalah gerbong yang sudah tua dan kurang layak digunakan lagi," tuturnya.

"Bayangkan saja ada gerbong yang beroperasi sejak 1974 dan suku cadangnya sudah tidak diproduksi lagi, hal ini berpengaruh pada tingkat keselamatan. Namun seharusnya gerbong KRL ekonomi yang sudah tidak layak tersebut diperbaiki atau diganti dengan gerbong baru, bukan malah dihilangkan," imbuh Sigit.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Harga Tiket Kereta Api...
Harga Tiket Kereta Api Jarak Jauh Naik 40%
KAI Tambah Kereta Jarak...
KAI Tambah Kereta Jarak Jauh, Ini Rincian Rute dan Jadwalnya
KA Lokal Daop I Jakarta...
KA Lokal Daop I Jakarta Masih Belum Operasi hingga 31 Juli 2020
5 KA Jarak Jauh Beroperasi...
5 KA Jarak Jauh Beroperasi dari Daop 1 Jakarta Mulai 3 Juli 2020, Ini Daftarnya
KAI Siapkan Protokol...
KAI Siapkan Protokol Khusus Hadapi Skenario New Normal
Waktu Perjalanan KA...
Waktu Perjalanan KA Akan Singkat dan Jadwal Keberangkatan Berubah, Awas Telat!
Berita Terkini
IHSG Sesi I Tergelincir...
IHSG Sesi I Tergelincir ke 5.864, Nilai Transaksi Cetak Rp4,7 Triliun
12 menit yang lalu
Ketimpangan Makin Lebar,...
Ketimpangan Makin Lebar, 1,5% Populasi Menguasai hampir 50 Persen Total Kekayaan Dunia
2 jam yang lalu
Pemerintah Pastikan...
Pemerintah Pastikan Streamlining BUMN Transparan, Libatkan Kejaksaan Agung hingga BPK
3 jam yang lalu
IHSG Masih Berlari di...
IHSG Masih Berlari di Zona Hijau, Pagi Ini Bertengger pada Level 5.893
3 jam yang lalu
Daftar Lengkap Harga...
Daftar Lengkap Harga Emas Antam Hari Ini usai Malas Bergerak di Rp2,6 Juta per Gram
4 jam yang lalu
Dulu Termiskin, Negara...
Dulu Termiskin, Negara Kecil Ini Mendadak Jadi Raja Minyak Baru Akibat Perang Iran!
4 jam yang lalu
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved