Ekonomi China Q1 2013 melambat 7,7%

Senin, 15 April 2013 - 12:39 WIB
Ekonomi China Q1 2013...
Ekonomi China Q1 2013 melambat 7,7%
A A A
Sindonews.com - Pertumbuhan ekonomi China dalam tiga bulan pertama tahun ini (Q1) melambat. Ekonomi kedua terbesar di dunia tersebut hanya tumbuh sebesar 7,7 persen dari tahun sebelumnya atau turun 7,9 persen dari kuartal tahun lalu.

Angka tersebut lebih rendah dari perkiran di banyak sektor swasta, bahwa pertumbuhan akan naik sedikit menjadi 8 persen. "Pemulihan masih berlangsung tetapi benar-benar sangat lambat dan bertahap," kata ekonom Societe Generale, Wei Yao, seperti dikutip dari Economics Times, Senin (15/4/2013).

Analis telah memperingatkan bahwa pemulihan China dari kemerosotan terdalam sejak krisis global 2008 adalah lemah dan sedang didukung oleh pinjaman bank dan investasi yang diimpin pemerintah. Sementara, pertumbuhan belanja konsumen ditundukkan.

Kemunduran pertumbuhan yang tak terduga ini bisa menjadi tantangan bagi para pemimpin Partai Komunis yang berkuasa selama enam bulan terakhir. Mereka mencoba untuk menghindari kehilangan pekerjaan, sementara mereka mengejar pertumbuhan lebih mandiri berdasarkan konsumsi domestik, bukan ekspor dan investasi.

Pada tahun lalu perlambatan disebabkan upaya Beijing untuk mendinginkan inflasi dan mengarahkan pertumbuhan dua digit ke tingkat yang lebih berkelanjutan. Beijing membalas dengan upaya stimulus lebih lanjut termasuk kredit longgar tapi para analis mengatakan, para pemimpin China tidak mungkin mengulangi bahwa strategi, yang menyebabkan kenaikan tajam dalam utang.

Pertumbuhan triwulanan di atas target resmi Beijing sebesar 7,5 persen untuk tahun ini. Itu jauh di atas perkiraan untuk ekonomi Barat dan Jepang tetapi jauh dari pertumbuhan China pada dekade terakhir.

Sebuah perlambatan pertumbuhan China dan permintaan untuk barang-barang mulai dari bijih besi untuk pabrik teknologi dan barang-barang konsumen bisa mengirimkan dalam ekonomi global.

Inflasi pun turun pada Maret 2013, ini menunjukkan permintaan konsumen tidak sekuat yang diharapkan. Pertumbuhan impor dipercepat, menunjukkan perusahaan dan konsumen yang membeli lebih banyak, tetapi beberapa analis mengatakan angka-angka tersebut mungkin terdistorsi dan tidak bisa diandalkan.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
29 menit yang lalu
Kepala BGN Baru Sebut...
Kepala BGN Baru Sebut MBG Tender Politik Prabowo: Tak Bisa Dibubarkan
45 menit yang lalu
Potensi Tokenisasi Aset...
Potensi Tokenisasi Aset Capai USD2 Triliun di 2030, Keamanan Investor Jadi Kunci
1 jam yang lalu
Airlangga Sangkal PFII...
Airlangga Sangkal PFII Jadi Surga Pencucian Uang: Bukan untuk Dana-dana Gelap
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
2 jam yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
2 jam yang lalu
Infografis
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved