Bank Dunia: Ekonomi Asia terancam overheating

Senin, 15 April 2013 - 14:12 WIB
Bank Dunia: Ekonomi...
Bank Dunia: Ekonomi Asia terancam overheating
A A A
Sindonews.com - Bank Dunia mengungkapkan, ekonomi di Asia Timur dan Pasifik akan tumbuh sebesar 7,8 persen tahun ini, pada permintaan domestik. Tetapi mereka memperingatkan negara-negara di wilayah tersebut untuk menjaga overheating pada kredit dan harga aset.

Dilansir dari Global Post, Senin (15/4/2013), perkiraan pertumbuhan naik dari proyeksi tahun lalu sebesar 7,5 persen. Namun, Bank Dunia melihat data terbaru dari ekspansi Asia Timur dan Pasifik akan turun menjadi 7,6 persen pada tahun depan.

Permintaan domestik akan mendukung kenaikan setelah wilayah tersebut menyumbang 40 persen dari pertumbuhan global tahun lalu. Risiko global yang timbul dari krisis utang zona euro dan showdown fiskal AS telah mereda, dan tanda-tanda pemulihan ekonomi di negara maju menjadi sinyal baik bagi ekspor Asia.

Namun, satu masalah yang muncul adalah risiko overheating di kawasan tersebut lebih besar. Suku bunga mendekati nol dan kebijakan moneter yang mudah di AS, Uni Eropa dan Jepang, telah menyebabkan eksodus uang besar-besaran ke pasar negara berkembang, termasuk Asia. Mereka berharap mendapat keuntungan yang lebih tinggi.

Inflow telah meningkatkan properti dan harga saham tetapi ada kekhawatiran gelembung aset bisa runtuh setelah dana ditarik.

Dikombinasikan dengan masuknya dana, langkah-langkah stimulus domestik, termasuk suku bunga rendah yang dilaksanakan pemerintah untuk meningkatkan permintaan karena ekspor berkurang, telah menyebabkan tingkat utang yang lebih tinggi dan inflasi.

"Tindakan lanjutan permintaan meningkat mungkin menjadi kontra-produktif karena bisa menambah tekanan inflasi," kata Bert Hofman, pimpinan ekonom regional Bank Dunia.

Bank Dunia menyebutkan, arus modal bruto di wilayah tersebut sebesar USD46,8 miliar dalam tiga bulan pertama tahun ini, naik 86,3 persen dari tahun lalu. Sementara jumlah uang tunai di pasar saham Asia naik dua kali lipat lebih dari tahun sebelumnya menjadi USD13,2 miliar (dari USD5,6 miliar).
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
Asia Tenggara Berpotensi...
Asia Tenggara Berpotensi Besar Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Bank Dunia: Ketidakpastian...
Bank Dunia: Ketidakpastian Global Lebih Mengancam Ekonomi Asia Dibanding Tarif Trump
Menjaga Tren Pertumbuhan...
Menjaga Tren Pertumbuhan Ekonomi
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Jauh dari Resesi, Aktivitas...
Jauh dari Resesi, Aktivitas Ekonomi Indonesia Kuat dan Membaik
Berita Terkini
Saat Infrastruktur,...
Saat Infrastruktur, Fasilitas, dan Komunitas Tumbuh Bersama dalam Satu Kawasan
8 jam yang lalu
Cara PAMA Ikut Meningkatkan...
Cara PAMA Ikut Meningkatkan Kualitas Kesehatan Masyarakat
9 jam yang lalu
Prabowo: 66,4 Juta Warga...
Prabowo: 66,4 Juta Warga RI Dapat LPG Subsidi, Lebih Banyak dari Penduduk Singapura
9 jam yang lalu
Menanti Peran Besar...
Menanti Peran Besar Pertamina dalam Proyek LNG Kelas Dunia Blok Masela
9 jam yang lalu
Purbaya Segera Temui...
Purbaya Segera Temui Kepala BGN, Bahas Pemotongan Anggaran MBG
10 jam yang lalu
Soal Investor PFII Bebas...
Soal Investor PFII Bebas Pajak hingga 50 Tahun, Purbaya: Masih Belum Tentu
10 jam yang lalu
Infografis
Jadwal Perempat Final...
Jadwal Perempat Final Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved