Yield obligasi naik, Wall Street terkoreksi

Kamis, 30 Mei 2013 - 08:37 WIB
Yield obligasi naik,...
Yield obligasi naik, Wall Street terkoreksi
A A A
Sindonews.com - Saham-saham di bursa Wall Street pada perdagangan Rabu waktu setempat ditutup terkoreksi dipicu kenaikan imbal hasil (yiled) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) baru-baru ini.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS semalam naik 2,235 persen dan merupakan imbal hasil tertinggi dalam periode lebih dari setahun. Yield obligasi ini telah meningkat sejak pekan lalu ketika Gubernur The Fed Ben Bernanke menyatakan akan menghentikan program stimulus penghentian obligasi lebih cepat dari yang diprediksi.

"Kenaikan terbaru suku bunga pada obligasi 10 tahun selama beberapa sesi terakhir akhirnya menjadi acuan pasar pada tahun ini. Investor mengambil keuntungan dari hal itu," kata Kepala Strategi Pasar RDM Financial, Michael Sheldon seperti dilansir Reuters, Kamis (30/5/2013).

Sektor-sektor defensif memimpin keuntungan di pasar saham pada tahun ini karena investor lebih menyukai saham yang memberikan dividen tinggi atas efek pendapatan tetap.

Indeks sektor konsumer, kesehatan, telekomunikasi dan utilitas di indeks S&P 500 termasuk saham yang memberikan dividen tinggi, menurun lebih dari 1 persen. Indeks telekomunikasi dan utilitas di indeks S&P 500 masing-masing turun 1,5 persen. Sedangkan sektor konsumer anjlok 1,9 persen dan kesehatan menurun 1,5 persen.

Saham Johnson & Johnson (JNJ.N) turun 2,2 persen ke USD85,65, menjadi saham yang menghambat penguatan indeks S&P 500. Dividen indeks S&P 500 memberikan dividen sekitar 2,39 persen mendekati penutupan semalam.

Pada perdagangan semalam, indeks Dow Jones turun 106,59 poin atau 0,69 persen menjadi 15.302,80; S&P 500 merosot 11,70 poin atau 0,70 persen menjadi 1.648,36dan indeks komposit Nasdaq turun 21,37 poin atau 0,61 persen menjadi 3.467,52.
(rna)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Kontrak Batu Bara Baru...
Kontrak Batu Bara Baru 144 Juta Ton, ESDM Minta PLN Percepat Pengiriman ke PLTU
16 menit yang lalu
Harga Emas Antam dan...
Harga Emas Antam dan Buyback Kompak Turun Rp20.000 per Gram, Ini Rinciannya
1 jam yang lalu
Perkuat Tata Kelola...
Perkuat Tata Kelola Keamanan Informasi, MNC Sekuritas Perpanjang Sertifikasi ISO/IEC 27001:2022
2 jam yang lalu
IHSG Hari Ini Dibuka...
IHSG Hari Ini Dibuka Menguat 0,17% ke 5.934
3 jam yang lalu
MSIG Life Kolaborasi...
MSIG Life Kolaborasi dengan Bank Sinarmas Meluncurkan Smile Critical Prime
3 jam yang lalu
Takeda Investasi Rp542...
Takeda Investasi Rp542 Miliar Bangun Ekosistem Plasma di Indonesia
4 jam yang lalu
Infografis
Mulai Januari 2025 Gaji...
Mulai Januari 2025 Gaji Guru Non-ASN Bakal Naik Rp2 Juta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved