Indef: APBN-P cerminan pemerintah-DPR tak konsisten

Senin, 10 Juni 2013 - 12:30 WIB
Indef: APBN-P cerminan...
Indef: APBN-P cerminan pemerintah-DPR tak konsisten
A A A
Sindonews.com - Ekonom dari Institute for Develompment of Economic and Finance (Indef), Fadhil Hasan menilai, adanya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) sebagai ciri sebuah negara yang tidak konsisten dalam menjalankan kebijakan ekonomi.

Pasalnya, kata Fadhil, APBN sendiri telah disusun berdasarkan kesepatakan antara pemerintah dengan DPR. Dengan demikian, adanya APBN-P mencerminkan penyelenggara tidak konsisten atas kesepakatan yang dibuat sendiri.

"APBN kehilangan esensi dan mengalami disorientasi sebagai stimulus fiskal. Seharusnya kembali kepada pemerintah apakah APBN-Perubahan benar-benar diperlukan atau tidak. Hal tersebut yang harus dipertanyakan," ungkap Fadhil di Apartemen Park Royal, Jakarta, Senin (10/6/2013).

Menurutnya, yang terjadi di Tanah Air tersebut, tampaknya membuat bangsa ini semakin tertinggal. Di sejumlah negara besar, kata dia, perubahan terhadap APBN merupakan suatu yang haram dilakukan.

Karena, lanjut Fadhil, dalam sebuah negara yang sehat, penetapan APBN didasarkan pada argumen dan perhitungan yang akurat dan bukan atas azas popularitas penguasa dan lobi politik.

"Tidak ada kesempatan melakukan perubahan atas APBN. Adanya kebijakan tersebut memaksa pemerintah dan legislator negara-negara bersangkutan untuk menetapkan APBN secara akurat dan rasional," katanya.

Direktur Indef, Enny Sri Hartati mengatakan, idealnya perencanaan pembangunan tidak berubah-ubah dan mampu memproyeksikan dinamika perekonomian internal maupun eksternal yang akan terjadi dalam satu tahun anggaran berjalan.

"Namun, hampir semua asumsi DPR selalu direvisi hanya beberapa bulan setelah ditetapkan," pungkas Enny.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Subaru XV 2.0i 2013,...
Subaru XV 2.0i 2013, SUV AWD Mewah dan Ganteng, Harga Anjlok
APBN per November 2024...
APBN per November 2024 Tekor Rp401,8 triliun
APBN Februari 2025 Defisit...
APBN Februari 2025 Defisit 0,13 Persen atau Rp31,2 Triliun
APBN Defisit Rp104,2...
APBN Defisit Rp104,2 Triliun per Maret 2025
APBN Kuartal I 2025...
APBN Kuartal I 2025 Tetap Terjaga
Simak! Kinerja APBN...
Simak! Kinerja APBN Mei 2022
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
9 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
10 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
10 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
11 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
11 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
11 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved