Ini alasan BI merevisi angka pertumbuhan ekonomi
Kamis, 13 Juni 2013 - 15:50 WIB
Ini alasan BI merevisi angka pertumbuhan ekonomi
A
A
A
Sindonews.com - Bank Indonesia (BI) menjelaskan, angka perkiraan perekonomian Indonesia sebesar 5,9-6,1 persen pada kuartal II/2013 berbeda dari sebelumnya sebesar 6,2 persen.
Terkait hal in, Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo beralasan, bahwa perkiraan 6,2 persen sebelum melihat revisi ke bawah dari ekonomi dunia. Di mana pertumbuhan ekonomi dunia 2013 akan mencapai 3,9 persen.
"Ternyata pertumbuhan ekonomi dunia 2013 hanya akan mengarah 3,2 persen. Asumsinya turun menjadi 3,2 persen. Ada indikasi seperti itu," ujarnya di gedung BI, Jakarta, Kamis (13/6/2013).
Karena itu, Perry memantau indikator domestik sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dan secara khusus, termasuk sektor-sektor yang menguat dan melemah.
"Kita pantau, terutama untuk indikator domestiknya. Untuk indikator domestik konsumsi swasta dan investasi bangunan menguat. Sedangkan ekspor dan non bangunan melemah," katanya.
Meski demikian, dia tidak memungkiri bahwa kondisi global yang terjadi sat ini, akan ada revisi ke batas bawah dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Faktor kondisi terkini khususnya global yang mengalami revisi ke bawah, akan menyebabkan tendensi dan indikasi untuk keseluruhan tahun pertumbuhan kita mengarah ke 6,1 persen. Ada kecenderungan bahwa pertumbuhan ekonomi kita mengarah ke batas bawah," tandas Perry.
Terkait hal in, Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo beralasan, bahwa perkiraan 6,2 persen sebelum melihat revisi ke bawah dari ekonomi dunia. Di mana pertumbuhan ekonomi dunia 2013 akan mencapai 3,9 persen.
"Ternyata pertumbuhan ekonomi dunia 2013 hanya akan mengarah 3,2 persen. Asumsinya turun menjadi 3,2 persen. Ada indikasi seperti itu," ujarnya di gedung BI, Jakarta, Kamis (13/6/2013).
Karena itu, Perry memantau indikator domestik sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi dan secara khusus, termasuk sektor-sektor yang menguat dan melemah.
"Kita pantau, terutama untuk indikator domestiknya. Untuk indikator domestik konsumsi swasta dan investasi bangunan menguat. Sedangkan ekspor dan non bangunan melemah," katanya.
Meski demikian, dia tidak memungkiri bahwa kondisi global yang terjadi sat ini, akan ada revisi ke batas bawah dari pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Faktor kondisi terkini khususnya global yang mengalami revisi ke bawah, akan menyebabkan tendensi dan indikasi untuk keseluruhan tahun pertumbuhan kita mengarah ke 6,1 persen. Ada kecenderungan bahwa pertumbuhan ekonomi kita mengarah ke batas bawah," tandas Perry.
(izz)
Lihat Juga :