Eropa desak Perancis setujui perdagangan bebas

Jum'at, 14 Juni 2013 - 20:58 WIB
Eropa desak Perancis...
Eropa desak Perancis setujui perdagangan bebas
A A A
Sindonews.com - Uni Eropa (UE) berusaha meyakinkan Perancis, bahwa sektor budaya dan audiovisual akan aman dalam mandat pembicaraan pakta perdagangan bebas (FTA) dengan Amerika Serikat (AS). Hal itu menyusul sikap keras Paris yang menolak rencana keterbukaan hubungan dagang.

"Perancis akan menolak mandat apapun yang tidak datang dengan perlindungan sektor budaya dan pengecualian yang jelas pada sektor audiovisual," kata Menteri Perdagangan Perancis, Nicole Bricq, seperti dilansir dari AFP, Jumat (14/6/2013).

Namun, pada saat yang sama Perancis berada di bawah tekanan besar untuk menyetujui pedoman Komisi Eropa dalam negosiasi Uni Eropa-AS Transatlantic Trade and Investment Partnership (TTIP), sehingga pembicaraan secara resmi dapat diluncurkan pada pertemuan G8, pekan depan.

Washington dan Brussels berharap FTA akan memberikan dorongan besar bagi pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan, terutama di Eropa. Di mana krisis utang telah menyebabkan ekonomi terjebak dalam kelesuan.

Kesepakatan dari perjanjian perdagangan bebas ini, meliputi perdagangan barang senilai 500 miliar euro (USD670 miliar), sektor layanan 280 miliar euro dan triliunan euro dalam arus investasi. Perdagangan ini diyakini akan menambah pendapatan 119 miliar euro per tahun bagi perekonomian Uni Eropa, dan 95 miliar euro bagi Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Irlandia Richard Bruton, yang memegang jabatan presiden Uni Eropa mengatakan, setelah pembukaan diskusi para menteri, pihaknya akan kembali ke mandat pembicaraan perdagangan bebas dengan AS.

Bruton mengaku prihatin dengan sikap Perancis. "Kami telah membuat banyak perubahan untuk memberikan keyakinan, bahwa sektor audiovisual akan dilindungi," ujarnya.

Dalam upaya meyakinkan Perancis, Komisi Eropa telah menawarkan Paris hak peninjauan dan persetujuan dari setiap keputusan yang diambil pada sektor budaya.

Perancis menjaga sektor budaya, di mana stasiun TV harus menayangkan minimal 40 persen konten produksi dalam negeri, 20 persen produksi Eropa, sisanya dari produksi Amerika.Retribusi pada setiap tiket dalam membantu mendanai industri film Perancis dipercaya banyak orang tidak bisa bertahan tanpa dukungan dalam menghadapi dominasi Hollywood.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
2 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
2 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
2 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
3 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
4 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
4 jam yang lalu
Infografis
Indonesia Demam Pajak,...
Indonesia Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved