G20 fokus bicarakan pertumbuhan ekonomi negara

Sabtu, 20 Juli 2013 - 19:23 WIB
G20 fokus bicarakan...
G20 fokus bicarakan pertumbuhan ekonomi negara
A A A
Sindonews.com - Kepala keuangan negara-negara G20 hari ini berusaha mempersempit perbedaan tentang cara menjaga defisit anggaran, tanpa merugikan pertumbuhan. Ini karena perekonomian dunia muncul di tengah perlambatan.

Para menteri keuangan serta kepala bank sentral dari 20 negara maju dan berkembang, akan mencari kesepakatan dalam komunike akhir untuk menunjukkan persatuan pada isu yang memecah belah, bagaimana mempromosikan pertumbuhan tanpa merugikan situasi fiskal.

Pertemuan di pusat pameran, tembok Kremlin, Moskow itu bertujuan mengatur kebijakan kepala negara pada pertemuan final KTT G20 di Saint Petersburg, September mendatang.

Menteri Keuangan Perancis, Pierre Moscovici mengatakan, perundingan diperlukan untuk menemukan suara yang sama tentang bagaimana merangsang pertumbuhan dengan mengurangi defisit.

Dia mengatakan bahwa komunike akhir tidak akan berisi target khusus untuk mengurangi utang publik dan defisit, seperti yang terjadi pada KTT di Toronto pada 2010.

"Pengurangan defisit merupakan tujuan jangka menengah. Tapi, pada saat yang sama prioritas jangka pendek adalah pertumbuhan, pertumbuhan, dan pertumbuhan," tegas Moscovici, seperti dilansir dari AFP, Sabtu (20/7/2013).

Sementara Amerika Serikat menegaskan, menjelang pertemuan perang melawan pengangguran harus menjadi pusat agenda. Di mana Menteri Keuangan AS Jacob Lew menyerukan negara-negara di Uni Eropa agar berbuat lebih banyak dalam meningkatkan permintaan dan pertumbuhan.

Namun beberapa negara, khususnya Jerman, telah berulang kali berdebat pentingnya kehati-hatian fiskal dan tidak merugikan anggaran demi stimulus.

Pertemuan itu, terjadi di tengah tuntutan kejelasan, setelah Federal Reserve AS mengatakan pihaknya bisa mulai memotong program pelonggaran kuantitatif, yang menyuntikkan sekitar USD85 miliar per bulan ke dalam ekonomi melalui pembelian obligasi pada akhir tahun ini, serta mengakhiri program pada pertengahan 2014.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Concord Industry Tegaskan...
Concord Industry Tegaskan Komitmen Perkuat Industri Keramik di Keramika 2026
40 menit yang lalu
Kurs Tembus Rp18 Ribu,...
Kurs Tembus Rp18 Ribu, Gubernur BI Siapkan 2 Jurus Jaga Nilai Tukar Rupiah
1 jam yang lalu
Menangkap Pangsa Terbesar...
Menangkap Pangsa Terbesar Wisata Medis, Malaysia Fair 2026 Hadir di Jakarta
2 jam yang lalu
Petani Sawit: Margin...
Petani Sawit: Margin dan Kewenangan BUMN Tentukan Harga Jadi Beban Berat Ekosistem Sawit
2 jam yang lalu
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
5 jam yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
8 jam yang lalu
Infografis
Tanpa Italia, Ini Daftar...
Tanpa Italia, Ini Daftar Lengkap 48 Negara Kontestan Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved