Operasional bengkak, BST terancam merugi

Minggu, 18 Agustus 2013 - 16:03 WIB
Operasional bengkak,...
Operasional bengkak, BST terancam merugi
A A A
Sindonews.com - Perusahaan Umum (Perum) Damri sebagai operator Batik Solo Trans (BST) terancam merugi. Pasalnya biaya operasional BST tersebut sangatlah besar.

Kepala Perum Damri Solo, Sutaryadi menyebutkan, saat ini pihaknya mendesak Pemerintah Pusat untuk meremajakan 25 BST yang ada. Menurutnya peremajaan tersebut harus dilakukan sebelum Perum Damri merugi akibat pengoperasian bus itu.

Ia mengatakan, laba bersih yang diterima Perum Damri saat mengelola BST hanyalah 70 persen dari total pendapatan. Padahal laba itu masih bisa ditingkatkan lagi jika pengoperasian bus itu berjalan normal tanpa adanya perawatan yang berarti.

Menurutnya faktor utama yang mengancam ruginya BST tersebut adalah dari armada atau bus yang ada. Ia mengatakan setiap bulannya biaya yang dikeluarkan untuk perawatan bus tersebut berkisar di antara Rp300.000 hingga Rp800.000. Biaya tersebut bisa membengkak jika ada armada yang mengalami kerusakan parah.

"Armada yang kita pakai itu dari Pabrikan Hyundai, biaya perawatannya sangat mahal. Padahal daya tampungnya hanya 25 kursi, harusnya diganti untuk menekan biaya operasional," ucapnya, kepada wartawan Minggu (18/8/2013).

Ia menambahkan, desakan penggantian itu sudah dikirimkan kepada pemerintah pusat. Jika nantinya ajuan itu disetujui, pihaknya mengaku akan mengganti armada itu dengan merek Hino. Menurutnya dengan bus pabrikan Hino akan memudahkan perawatan dan pembenahan.

"Selain operasionalnya mahal bus Hyundai itu kurang nyaman dan banyak getaran. Sehingga lebih baik diganti dengan armada baru," ucapnya.

Sementara itu, para penumpang setia BST mengaku senang dengan rencana penggantian bus tersebut. Mereka mengakui bahwa BST tersebut kurang nyaman dan terlalu kecil. Sehingga para penumpang kurang leluasa saat menaiki bus tersebut.

Salah satu penumpang, Ariyanto Nugroho, menyebutkan kelemahan BST yang dioperasionalkan saat ini hanya getaran mesin. Menurutnya untuk bus-bus tertentu, getaran itu sangat terasa bahkan membuat penumpang tidak nyaman.

"Kalau merugi lebih baik diganti saja dengan yang lebih bagus dan lebih nyaman. Kalau nyaman penumpang pasti banyak dan pasti operator akan laba," ucapnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Selamat, Jakarta Terpilih...
Selamat, Jakarta Terpilih sebagai Kota Transportasi Terbaik di Dunia
Kepala UPAS Beberkan...
Kepala UPAS Beberkan Manfaat Menggunakan Transportasi Publik Semenjak Dini
Audiensi Pimpinan DPR...
Audiensi Pimpinan DPR dengan Serikat Pekerja Angkutan Bahas Pelindungan Transportasi Online
Kendaraan Tanpa Pengemudi...
Kendaraan Tanpa Pengemudi Jadi Kebutuhan Transportasi Masa Depan
Seaplane: Solusi Mengatasi...
Seaplane: Solusi Mengatasi Keterbatasan Transportasi Darat dan Laut di Indonesia
Pembangunan Perumahan...
Pembangunan Perumahan di RI Disebut Tak Sinkron dengan Layanan Transportasi
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
9 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
9 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
10 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
10 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
10 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
11 jam yang lalu
Infografis
Marwah Piala Dunia 2026...
Marwah Piala Dunia 2026 Terancam, 5 Negara Berpotensi Absen
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved