Rupiah melemah, harga buah impor melangit

Kamis, 22 Agustus 2013 - 17:31 WIB
Rupiah melemah, harga...
Rupiah melemah, harga buah impor melangit
A A A
Sindonews.com - Akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, harga buah-buahan impor di berbagai pasar swalayan melangit. Kenaikan harga tersebut terjadi hampir pada semua jenis buah-buahan impor.

Jeruk China jenis Clemenvila misalnya, dari harga semula Rp42.000 perkilogram, kini menembus angka Rp54.900. Selain itu, Lemon Australia juga mengalami kenaikan, dari semula Rp52.000 perkilogram, kini menembus angka Rp72.700 perkilogram.

Sementara itu, harga Apel, Anggur dan Kiwi juga mengalami kenaikan cukup besar. Apel Fuji dari Jepang saat ini dibandrol Rp46.000 perkilogram dari harga semula Rp30.000. Anggur Australia juga naik menjadi Rp89.000 dari harga awal Rp68.000. Sementara buah Kiwi naik dari harga Rp39.000 kini menembus angka Rp94.500 perkilo.

“Memang semua buah impor mengalami kenaikan, melemahnya nilai tukar rupiah menjadi salah satu penyebabnya,” ujar Asih, Asisten Manager swalayan Gelael Citraland Kota Semarang kepada wartawan, Kamis (22/8/2013).

Kenaikan harga, imbuh Asih, hingga saat ini belum begitu mempengaruhi penjualan. Menurutnya, penjualan buah sampai saat ini masih stabil. “Selama ini masih stabil, belum ada penurunan, tapi jika rupiah terus melemah dan harga buah impor semakin tinggi, saya juga khawatir akan mempengaruhi penjualan kami,” imbuhnya.

Naiknya harga buah juga sangat dirasakan para konsumen. Mereka mengaku terkejut dengan kenaikan buah yang terjadi saat ini. “Saya tidak tahu kalau ada kenaikan akibat melemahnya nilai tukar rupiah, saya kaget ketika mendengar harga buah sekarang, naiknya banyak sekali, ini jelas memberatkan konsumen seperti saya,” kata Tiara,34, salah satu pembeli buah asal Semarang Tengah Kota Semarang.

Hal senada juga diungkapkan Ny Hartono,66, pembeli buah lainnya. Meski mahal, Ny Hartono mengaku tetap memilih membeli buah impor dibanding buah lokal. Sebab, kualitas buah impor menurutnya lebih bagus. “Kualitasnya jauh, lebih bagus buah impor, meski mahal saya tetap beli buah impor, namun jumlahnya agak dikurangi,” ujarnya.

Ny Hartono berharap pemerintah segera mengambil tindakan mengenai permasalahan ini. Jika tidak, masyarakat akan semakin dirugikan karena naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

“Kalau barang impor naik, biasanya barang lokal juga akan ikut naik. Ini jelas mengkhawatirkan karena kami para konsumen yang dirugikan. Kami harap pemerintah segera mengambil langkah agar kondisi rupiah menjadi normal kembali,” pungkasnya.
(gpr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Aseibssindo Minta Pemerintah...
Aseibssindo Minta Pemerintah Tetapkan Kebijakan Relaksasi Impor Produk Buah dan Sayur
Persoalan Jatah Pengurusan...
Persoalan Jatah Pengurusan Impor Bukan Hal Baru, Terus Dikeluhkan Pengusaha
Ini 5 Manfaat Makan...
Ini 5 Manfaat Makan Banyak Buah dan Sayuran Berwarna Hijau
10 Buah dan Sayuran...
10 Buah dan Sayuran Rendah Gula, Baik untuk Penderita Diabetes
Buavita Gelar Kampanye...
Buavita Gelar Kampanye AyoMinumBuah
Anak Anda Enggak Doyan...
Anak Anda Enggak Doyan Sayuran? Jangan Khawatir, Cobalah Tips Berikut Ini
Berita Terkini
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Hijau Sesaat, Lalu Ambruk Lebih dari 1%
40 menit yang lalu
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
1 jam yang lalu
Kebijakan Tambang RI...
Kebijakan Tambang RI Berubah-ubah, Investor China Mulai Alihkan Investasi Nikel ke Afrika
2 jam yang lalu
Saatnya Bayar Tagihan...
Saatnya Bayar Tagihan PBB-P2, Ada Diskon 7,5% hingga 31 Juli 2026
2 jam yang lalu
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
3 jam yang lalu
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
6 jam yang lalu
Infografis
Para Miliarder Teknologi...
Para Miliarder Teknologi Hamburkan Triliunan Rupiah untuk Riset Kehidupan Abadi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved