Omzet pedagang tahu eceran di Banjarnegara anjlok 50%
Selasa, 27 Agustus 2013 - 10:44 WIB
Omzet pedagang tahu eceran di Banjarnegara anjlok 50%
A
A
A
Sindonews.com - Dampak kenaikan harga kedelai impor yang terus melambung tidak hanya di rasakan para perajin tahu dan tempe. Namun, sejumlah penjual eceran tempe dan tahu di pasar tradisional Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng), juga terkena imbas kenaikan kedelai.
Para penjual tempe dan tahu mengaku telah mengalami penurunan omzet hingga 50 persen, pedagang pun memilih mengurangi stok dagangannya. Puluhan pedagang eceran tahu dan tempe di daerah tersebut sejak lima hari terakhir mengaku mengalami penurunan omzet hingga 50 persen.
Banyak pembeli yang enggan membali tahu dan tempe yang saat ini ukurannya di perkecil antara 2 hingga 5 centimeter. Meski para pedagang tahu dan tempe ini tidak menaikan harga, namun jumlah pembeli mengalami penurunan drastis.
Siti, pedagang tahu eceran mengaku, jika biasanya sehari mampu menjual hingga 1.000 biji, saat ini mereka hanya mampu menjual 500 biji tahu dan tempe. Saat ini para pedagang memilih mengurangi stok dagangannya hingga 50 persen.
Mereka mengaku khawtir tahu dan tempe yang mereka jajakan tidak laku. "Ukuran tahu dan tempe yang di perkecil banyak di protes para pembeli," katanya, Selasa (27/8/2013).
Para pedagang berharap pemerintah bisa segera turun tangan agar harga kedelai impor di pasaran bisa kembali normal. Shingga para pedagang bisa berjualan dengan ukuran dan harga yang normal.
Para penjual tempe dan tahu mengaku telah mengalami penurunan omzet hingga 50 persen, pedagang pun memilih mengurangi stok dagangannya. Puluhan pedagang eceran tahu dan tempe di daerah tersebut sejak lima hari terakhir mengaku mengalami penurunan omzet hingga 50 persen.
Banyak pembeli yang enggan membali tahu dan tempe yang saat ini ukurannya di perkecil antara 2 hingga 5 centimeter. Meski para pedagang tahu dan tempe ini tidak menaikan harga, namun jumlah pembeli mengalami penurunan drastis.
Siti, pedagang tahu eceran mengaku, jika biasanya sehari mampu menjual hingga 1.000 biji, saat ini mereka hanya mampu menjual 500 biji tahu dan tempe. Saat ini para pedagang memilih mengurangi stok dagangannya hingga 50 persen.
Mereka mengaku khawtir tahu dan tempe yang mereka jajakan tidak laku. "Ukuran tahu dan tempe yang di perkecil banyak di protes para pembeli," katanya, Selasa (27/8/2013).
Para pedagang berharap pemerintah bisa segera turun tangan agar harga kedelai impor di pasaran bisa kembali normal. Shingga para pedagang bisa berjualan dengan ukuran dan harga yang normal.
(izz)
Lihat Juga :