Inflasi Agustus di Depok turun jadi 1,05%
Jum'at, 06 September 2013 - 13:40 WIB
Inflasi Agustus di Depok turun jadi 1,05%
A
A
A
Sindonews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Depok mencatat harga-harga bahan pokok yang cenderung stabil membuat besaran inflasi turun dari 4,58 persen pada Juli 2013, menjadi 1,05 persen pada Agustus 2013.
Kenaikan harga di atas 10 persen terjadi pada komoditas angkutan antar kota, yakni kentang, ikan gabus, buah pisang, dan petai. Kenaikan rata-rata tarif angkutan antar kota sebesar 20 persen dibandingkan rata-rata tarif Juli 2013. Karena efek lanjutan dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta adanya tuslah yang berlaku saat Lebaran.
"Sedangkan kenaikan harga komoditas kentang, ikan gabus, buah pisang, dan petai, lebih dipengaruhi faktor meningkatnya jumlah permintaan menjelang dan setelah Lebaran," ujar Kasie Neraca Wilayah dan Analisis BPS Kota Depok, Bambang Pamungkas, Jumat (6/9/2013).
Menurutnya, komoditas yang mengalami penurunan harga diantaranya adalah sawi hijau yang mengalami penurunan harga sebesar 16 persen, wortel (15 persen), labu siam (14 persen), bawang putih dan cabai rawit (12 persen).
Jika dilihat andil dari masing-masing komoditas terhadap inflasi Agustus 2013, tiga komoditas yang mempunyai andil terbesar adalah angkutan kota (0,1982 persen), daging ayam ras (0,1101 persen), dan jeruk (0,1009 persen).
"Daging ayam ras meskipun hanya mengalami rata-rata kenaikan harga 3 persen, namun mempunyai andil sebesar 0,1101 persen. Hal ini menunjukan jika bobot konsumsi daging ayam ras di Depok cukup tinggi. Kenaikan harga jeruk sebesar 9 persen menyebabkan inflasi sebesar 0,1009 persen. Penduduk Depok lebih suka mengonsumsi buah jeruk daripada buah lainnya," ungkapnya.
Bambang menuturkan, inflasi Agustus 2013 untuk wilayah Jakarta, yakni 0,95 persen. Sementara Jawa Barat sebesar 1,28 persen dan nasional 1,12 persen. DKI Jakarta terlihat masih jauh lebih baik dari provinsi Jabar dan nasional. Bahkan Bekasi meraih predikat inflasi tertinggi melebihi nasional yakni 1,73 persen.
Namun, wilayah Depok ini mengalami inflasi cukup mengkhawatirkan. Hal ini imbas dari kenaikan harga BBM yang ternyata berdampak negatif ke wilayah penyangga.
"Pergerakan harga di wilayah penyangga jauh lebih tidak stabil, fenomena ini perlu disikapi lebih lanjut terkait hubungan yang erat secara ekonomi dan demografi antara ibukota dengan penyangga. Jangan sampai ekonomi di Jakarta stabil namun wilayah sekitarnya mengalami hal yang berbeda," terang dia.
Kenaikan harga di atas 10 persen terjadi pada komoditas angkutan antar kota, yakni kentang, ikan gabus, buah pisang, dan petai. Kenaikan rata-rata tarif angkutan antar kota sebesar 20 persen dibandingkan rata-rata tarif Juli 2013. Karena efek lanjutan dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta adanya tuslah yang berlaku saat Lebaran.
"Sedangkan kenaikan harga komoditas kentang, ikan gabus, buah pisang, dan petai, lebih dipengaruhi faktor meningkatnya jumlah permintaan menjelang dan setelah Lebaran," ujar Kasie Neraca Wilayah dan Analisis BPS Kota Depok, Bambang Pamungkas, Jumat (6/9/2013).
Menurutnya, komoditas yang mengalami penurunan harga diantaranya adalah sawi hijau yang mengalami penurunan harga sebesar 16 persen, wortel (15 persen), labu siam (14 persen), bawang putih dan cabai rawit (12 persen).
Jika dilihat andil dari masing-masing komoditas terhadap inflasi Agustus 2013, tiga komoditas yang mempunyai andil terbesar adalah angkutan kota (0,1982 persen), daging ayam ras (0,1101 persen), dan jeruk (0,1009 persen).
"Daging ayam ras meskipun hanya mengalami rata-rata kenaikan harga 3 persen, namun mempunyai andil sebesar 0,1101 persen. Hal ini menunjukan jika bobot konsumsi daging ayam ras di Depok cukup tinggi. Kenaikan harga jeruk sebesar 9 persen menyebabkan inflasi sebesar 0,1009 persen. Penduduk Depok lebih suka mengonsumsi buah jeruk daripada buah lainnya," ungkapnya.
Bambang menuturkan, inflasi Agustus 2013 untuk wilayah Jakarta, yakni 0,95 persen. Sementara Jawa Barat sebesar 1,28 persen dan nasional 1,12 persen. DKI Jakarta terlihat masih jauh lebih baik dari provinsi Jabar dan nasional. Bahkan Bekasi meraih predikat inflasi tertinggi melebihi nasional yakni 1,73 persen.
Namun, wilayah Depok ini mengalami inflasi cukup mengkhawatirkan. Hal ini imbas dari kenaikan harga BBM yang ternyata berdampak negatif ke wilayah penyangga.
"Pergerakan harga di wilayah penyangga jauh lebih tidak stabil, fenomena ini perlu disikapi lebih lanjut terkait hubungan yang erat secara ekonomi dan demografi antara ibukota dengan penyangga. Jangan sampai ekonomi di Jakarta stabil namun wilayah sekitarnya mengalami hal yang berbeda," terang dia.
(izz)
Lihat Juga :