Pedagang BBM eceran di Kefamenanu makin menjamur
Kamis, 12 September 2013 - 10:43 WIB
Pedagang BBM eceran di Kefamenanu makin menjamur
A
A
A
Sindonews.com - Penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran di Kefamenanu dan sekitarnya semakin marak. Di sepanjang jalan utama, pedagang eceran memanfaatkan marka jalan dan trotoar sebagai tempat berjualan.
Bahkan, di depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pun dijadikan tempat berjualan. Menjamnurnya pengecer BBM sering memicu antrean panjang, baik kendaraan maupun pengisian melalui jeriken.
Padahal, pengisian BBM untuk jeriken telah dilarang dalam Perpres No 15/2012, namun tidak dihiraukan. Pantauan di salah satu SPBU di Jalan Sonbai, Kamis (12/9/2013), terjadi antrean panjang karena banyak kendaraan yang menunggu pengisian.
Maraknya penjualan BBM menyebabkan BBM sering mengalami kelangkaan. Hal ini diakui penegelolah SPBU 01 Vinsen Teneka. Menurutnya, setiap hari dia mendapat pasokan 40 ton BBM dari Kupang, namun hanya bertahan untuk empat hari.
Mengenai layanan pengisian untuk jeriken, Vinsen mengaku tidak berdaya, karena takut. "Kita tidak bisa tolak, sebab kebanyakan yang menggunakan jeriken itu preman," katanya.
Sementara, Stefanus Fatin, salah satu konsumen yang menggunakan jeriken mengaku mengeluarkan uang sebesar Rp5.000 untuk pengisian jeriken berukuran 35 liter. "Kalau tidak bayar tidak akan dilayani," ujarnya.
Warga Insana ini mengaku menjual bensin di desa dengan harga Rp8.000 per liter. Maraknya pengecer BBM tidak saja menimbulkan kelangkaan tetapi bisa berpeluang untuk diselundupkan ke negara tetangga, Timor Leste.
Sementara, Dandim 1618 TTU, Letkol Arm Eusebia Hornai Rebelo menyatakan siap membantu pihak kepolisian untuk memperketat perbatasan agar mencegah penyelundupan BBM. "Kita selalu siap untuk mengawasi penyelundupan BBM," pungkasnya.
Bahkan, di depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) pun dijadikan tempat berjualan. Menjamnurnya pengecer BBM sering memicu antrean panjang, baik kendaraan maupun pengisian melalui jeriken.
Padahal, pengisian BBM untuk jeriken telah dilarang dalam Perpres No 15/2012, namun tidak dihiraukan. Pantauan di salah satu SPBU di Jalan Sonbai, Kamis (12/9/2013), terjadi antrean panjang karena banyak kendaraan yang menunggu pengisian.
Maraknya penjualan BBM menyebabkan BBM sering mengalami kelangkaan. Hal ini diakui penegelolah SPBU 01 Vinsen Teneka. Menurutnya, setiap hari dia mendapat pasokan 40 ton BBM dari Kupang, namun hanya bertahan untuk empat hari.
Mengenai layanan pengisian untuk jeriken, Vinsen mengaku tidak berdaya, karena takut. "Kita tidak bisa tolak, sebab kebanyakan yang menggunakan jeriken itu preman," katanya.
Sementara, Stefanus Fatin, salah satu konsumen yang menggunakan jeriken mengaku mengeluarkan uang sebesar Rp5.000 untuk pengisian jeriken berukuran 35 liter. "Kalau tidak bayar tidak akan dilayani," ujarnya.
Warga Insana ini mengaku menjual bensin di desa dengan harga Rp8.000 per liter. Maraknya pengecer BBM tidak saja menimbulkan kelangkaan tetapi bisa berpeluang untuk diselundupkan ke negara tetangga, Timor Leste.
Sementara, Dandim 1618 TTU, Letkol Arm Eusebia Hornai Rebelo menyatakan siap membantu pihak kepolisian untuk memperketat perbatasan agar mencegah penyelundupan BBM. "Kita selalu siap untuk mengawasi penyelundupan BBM," pungkasnya.
(izz)
Lihat Juga :