Uni Eropa dan Google dekati kesepakatan anti trust

Selasa, 01 Oktober 2013 - 20:52 WIB
Uni Eropa dan Google...
Uni Eropa dan Google dekati kesepakatan anti trust
A A A
Sindonews.com - Komisaris Komisi Persaingan Perdagangan Uni Eropa (UE), Joaquin Almunia menyatakan, pihaknya berharap dapat menyelesaikan sengketa anti-trust atau persaingan usaha (kartel) dengan raksasa internet Google pada musim semi mendatang.

Komisi Eropa menuduh raksasa internet AS itu memberikan preferensi tidak adil dalam hasil pencarian untuk layanan sendiri, seperti survei restoran dan hotel terhadap pesaingnya. Google sendiri telah berusaha meredakan kekhawatiran pada awal tahun lalu, tetapi UE mengatakan, raksasa internet itu belum memuaskan keluhan para penggugat.

"Usulan baru telah disampaikan pada awal September, dan sejak bekerja dengan Komisi telah menunjukkan perbaikan yang signifikan," ujar Almunia kepada anggota parlemen, seperti dilansir dari AFP, Selasa (1/10/2013)

Jika disetujui, usulan baru secara substansial dapat mengubah tampilan dan operasi mesin pencari yang paling banyak digunakan di dunia.

Dalam pernyataan singkatnya, Eksekutif Google, Kent Walker menjelaskan, perusahaan secara substansial telah meninjau proposal pertama walaupun yang 'berkembang' adalah persaingan online. "Ini telah menjadi penyelidikan yang sangat panjang dan teliti," kata Walker, sambil menambahkan Google telah membuat keputusan sulit untuk menyetujui persyaratan Uni Eropa.

Di sisi lain, Almunia menyebutkan, pertanyaan muncul apakah penggugat dan pelaku pasar menyimpulkan usulan baru ini memuaskan dari sudut pandang persaingan atau tidak? "Jika memuaskan, komisi akan melanjutkan jalur penyelesaian yang dinegosiasikan dan berakhir dengan keputusan resmi pada musim semi berikutnya," katanya.

Jika tidak, lanjut Almunia, komisi akan dipaksa mengirim keberatan ke Google dalam beberapa bulan mendatang. Dimulai dengan sebuah proses yang bisa menghukum Google denda hingga 10 persen dari total penjualan tahunan.

Berdasarkan rencana baru, link dari saingan non-Google secara signifikan akan lebih terlihat, banyak ruang dan kemungkinan dapat menampilkan logo mereka di samping link (Google - generated).

Brussels meluncurkan penyelidikan terhadap Google sejak November 2010, menyusul keluhan oleh beberapa perusahaan, termasuk Microsoft. Google memegang sekitar 70 persen dari lalu lintas mesin pencari di AS, dan 90 persen di Eropa.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Pertamina EP Cepu Catat...
Pertamina EP Cepu Catat Kinerja Positif, Siap Percepat Transisi Energi
18 menit yang lalu
Penyaluran Pindar Tembus...
Penyaluran Pindar Tembus Rp1.388 Triliun, 40% Mengalir ke UMKM
31 menit yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Tipis, Segram Jadi Rp2,71 Juta
1 jam yang lalu
Free Float Sentuh 25,7%,...
Free Float Sentuh 25,7%, Saham TPIA Kian Menarik Investor Global
1 jam yang lalu
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000
2 jam yang lalu
Inovasi Petrokimia Gresik...
Inovasi Petrokimia Gresik Ciptakan Nilai Tambah Rp154 Miliar
2 jam yang lalu
Infografis
AS Bisa Tarik Pasukannya...
AS Bisa Tarik Pasukannya dari Eropa Tengah dan Timur
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved