Ragam makanan lokal geser ketergantungan beras
Jum'at, 04 Oktober 2013 - 15:17 WIB
Ragam makanan lokal geser ketergantungan beras
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah mendorong konsumsi bahan makanan pokok dari umbi-umbian untuk mengatasi ketergantungan terhadap beras. Diversifikasi makanan pokok asal lokal menjadi upaya mengantisipasi krisis pangan dunia.
Menteri Pertanian (Mentan), Suswono mengatakan, ketergantungan konsumsi beras bisa menjadi bumerang, mengingat terus meningkatnya permintaan bahan makanan pokok itu tanpa diimbangi penyediaan yang cukup.
Impor beras terpaksa dilakukan dari negara penghasil, yang seharusnya bisa diantisipasi melalui pergeseran konsumsinya dengan makanan penghasil karbohidrat nonberas. Ironisnya, cara pandang masyarakat terhadap jenis makanan tersebut cenderung kurang bagus.
Selama ini, makanan dari umbi-umbian sebatas hanya pelengkap nasi. "Lahan di Indonesia seluas 13 juta hektare, akan sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Kita masih bergantung di Thailand yang hanya memiliki 13,5 juta hektare," ujarnya dalam pencanangan diversifikasi pangan lokal di Taman Balekambang, Jumat (4/10/2013).
Urgensi diversifikasi pangan dilatarbelakangi pesatnya pertumbuhan penduduk dunia yang diprediksi mencapai sembilan miliar jiwa pada 2045. Pada level tersebut, kebutuhan pangan akan meningkat menjadi 70 persen.
Sementara, kondisi alam potensial kurang mendukung produktivitas pangan. Dalam program diversifikasi, aneka pangan asal umbi-umbian kian dikemas apik demi mendorong selera masyarakat ihwal konsumsi makanan pokok.
Salah satunya beras mutiara, yakni kombinasi jagung dan singkong yang dikemas mirip nasi. "Menciptakan sawah di lahan baru sangat sulit. Maka dari itu, variasi makanan diperlukan," ujarnya.
Suswono mendesak pemerintah daerah untuk memperluas lahan tanam sejumlah komoditas tanpa mengurangi kuantitas jenis pangan tertentu.
Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko memastikan wilayahnya mampu menyediakan aneka macam kebutuhan pangan selain beras. Tujuan program budidaya pangan ini adalah mengembangkan diversifikasi berbasis bahan pangan lokal.
"Kami optimistis menjadi pelopor program diversifikasi pangan lokal yang digagas Kementan. Sebab, kami memiliki ketersediaan pangan yang melimpah dan bisa mencukupi bagi kebutuhan masyarakat setempat," terangnya.
Dia menyebutkan, sejumlah komoditas pangan di Jateng mengalami surplus. Misalnya jagung sebanyak 2,6 juta ton dari produksi 2.767.883 ton. Tanaman ubi kayu mencapai 3.271.193 ton dengan tingkat surplus 2,9 juta ton.
Program ini mulai digalakkan melalui gerakan kelompok aktif di daerah menyangkut pelatihan bahan baku alternatif sebagai pengganti bahan pokok.
Menteri Pertanian (Mentan), Suswono mengatakan, ketergantungan konsumsi beras bisa menjadi bumerang, mengingat terus meningkatnya permintaan bahan makanan pokok itu tanpa diimbangi penyediaan yang cukup.
Impor beras terpaksa dilakukan dari negara penghasil, yang seharusnya bisa diantisipasi melalui pergeseran konsumsinya dengan makanan penghasil karbohidrat nonberas. Ironisnya, cara pandang masyarakat terhadap jenis makanan tersebut cenderung kurang bagus.
Selama ini, makanan dari umbi-umbian sebatas hanya pelengkap nasi. "Lahan di Indonesia seluas 13 juta hektare, akan sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan beras dalam negeri. Kita masih bergantung di Thailand yang hanya memiliki 13,5 juta hektare," ujarnya dalam pencanangan diversifikasi pangan lokal di Taman Balekambang, Jumat (4/10/2013).
Urgensi diversifikasi pangan dilatarbelakangi pesatnya pertumbuhan penduduk dunia yang diprediksi mencapai sembilan miliar jiwa pada 2045. Pada level tersebut, kebutuhan pangan akan meningkat menjadi 70 persen.
Sementara, kondisi alam potensial kurang mendukung produktivitas pangan. Dalam program diversifikasi, aneka pangan asal umbi-umbian kian dikemas apik demi mendorong selera masyarakat ihwal konsumsi makanan pokok.
Salah satunya beras mutiara, yakni kombinasi jagung dan singkong yang dikemas mirip nasi. "Menciptakan sawah di lahan baru sangat sulit. Maka dari itu, variasi makanan diperlukan," ujarnya.
Suswono mendesak pemerintah daerah untuk memperluas lahan tanam sejumlah komoditas tanpa mengurangi kuantitas jenis pangan tertentu.
Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko memastikan wilayahnya mampu menyediakan aneka macam kebutuhan pangan selain beras. Tujuan program budidaya pangan ini adalah mengembangkan diversifikasi berbasis bahan pangan lokal.
"Kami optimistis menjadi pelopor program diversifikasi pangan lokal yang digagas Kementan. Sebab, kami memiliki ketersediaan pangan yang melimpah dan bisa mencukupi bagi kebutuhan masyarakat setempat," terangnya.
Dia menyebutkan, sejumlah komoditas pangan di Jateng mengalami surplus. Misalnya jagung sebanyak 2,6 juta ton dari produksi 2.767.883 ton. Tanaman ubi kayu mencapai 3.271.193 ton dengan tingkat surplus 2,9 juta ton.
Program ini mulai digalakkan melalui gerakan kelompok aktif di daerah menyangkut pelatihan bahan baku alternatif sebagai pengganti bahan pokok.
(izz)
Lihat Juga :