Shutdown AS tak berimbas signifikan terhadap pasar reksa dana
Minggu, 06 Oktober 2013 - 18:18 WIB
Shutdown AS tak berimbas signifikan terhadap pasar reksa dana
A
A
A
Sindonews.com - Shutdown pemerintah Amerika Serikat (AS) diprediksi tidak akan memberi imbas signifikan terhadap pasar saham maupun reksa dana di Tanah Air. Namun, kondisi tersebut perlu diwaspadai dalam jangka panjang.
"Menurut kami, shutdown pemerintah AS lebih akan berdampak pada perekonomian AS dan diperkirakan tidak akan berlangsung lama, sehingga dampaknya terhadap pasar saham dan industri reksa dana diperkirakan tidak terlalu signifikan," kata Analis riset PT Infovesta Utama Vilia Wati kepada Sindonews, Minggu (6/10/2013).
Menurut dia, sentimen yang memiliki potensi mempengaruhi pergerakan bursa dan perlu dicermati oleh investor adalah isu batas utang AS serta kepastian mengenai pemangkasan (tapering) stimulus moneter oleh The Fed. Pasalnya, Bank Sentral AS itu pada bulan lalu memutuskan tetap mempertahankan pembelian obligasi sebesar USD85 miliar/bulan hingga ekonomi dinilai stabil.
Sementara sentimen dari domestik yang mempengaruhi pasar saham dan reksa dana berasal dari rilis data indikator ekonomi, laporan keuangan emiten kuartal III tahun ini, neraca perdangangan, cadangan devisa dan pergerakan nilai tukar.
Pada akhir pekan ini, IHSG ditutup tergelincir 29,3 poin atau 0,66 persen ke level 4.389,35 ditekan aksi jual investor asing. Sedangkan, nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (4/10/2013) berada di level Rp11.318/USD atau menguat 149 poin dibanding penutupan Kamis (3/10/2013) di level Rp11.530/USD.
Adapun, kinerja IHSG hingga akhir September 2013 berdasarkan data Infovesta tercatat minus 0,01 persen. Sedangkan kinerja reksa dana saham negatif 2,05 persen, campuran 0,51 persen dan pendapatan tetap terkoreksi 4,95 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa sebelumnya mengatakan, jika shutdown pemerintahan AS berlangsung lama, maka akan memengaruhi negara lain terutama Indonesia.
"AS itu kalau dia batuk, negara lain juga kena. Jadi, tentu kalau jangka pendek ya tidak kena, tapi kalau makan waktu yang lama tentu akan ada pengaruhnya," tandas dia.
"Menurut kami, shutdown pemerintah AS lebih akan berdampak pada perekonomian AS dan diperkirakan tidak akan berlangsung lama, sehingga dampaknya terhadap pasar saham dan industri reksa dana diperkirakan tidak terlalu signifikan," kata Analis riset PT Infovesta Utama Vilia Wati kepada Sindonews, Minggu (6/10/2013).
Menurut dia, sentimen yang memiliki potensi mempengaruhi pergerakan bursa dan perlu dicermati oleh investor adalah isu batas utang AS serta kepastian mengenai pemangkasan (tapering) stimulus moneter oleh The Fed. Pasalnya, Bank Sentral AS itu pada bulan lalu memutuskan tetap mempertahankan pembelian obligasi sebesar USD85 miliar/bulan hingga ekonomi dinilai stabil.
Sementara sentimen dari domestik yang mempengaruhi pasar saham dan reksa dana berasal dari rilis data indikator ekonomi, laporan keuangan emiten kuartal III tahun ini, neraca perdangangan, cadangan devisa dan pergerakan nilai tukar.
Pada akhir pekan ini, IHSG ditutup tergelincir 29,3 poin atau 0,66 persen ke level 4.389,35 ditekan aksi jual investor asing. Sedangkan, nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (4/10/2013) berada di level Rp11.318/USD atau menguat 149 poin dibanding penutupan Kamis (3/10/2013) di level Rp11.530/USD.
Adapun, kinerja IHSG hingga akhir September 2013 berdasarkan data Infovesta tercatat minus 0,01 persen. Sedangkan kinerja reksa dana saham negatif 2,05 persen, campuran 0,51 persen dan pendapatan tetap terkoreksi 4,95 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa sebelumnya mengatakan, jika shutdown pemerintahan AS berlangsung lama, maka akan memengaruhi negara lain terutama Indonesia.
"AS itu kalau dia batuk, negara lain juga kena. Jadi, tentu kalau jangka pendek ya tidak kena, tapi kalau makan waktu yang lama tentu akan ada pengaruhnya," tandas dia.
(rna)
Lihat Juga :