Tidak ada teknologi, hasil panen gadu minim
Senin, 14 Oktober 2013 - 16:05 WIB
Tidak ada teknologi, hasil panen gadu minim
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Entang Sastraatmadja mengatakan, walaupun petani di Jawa Barat (Jabar) dihadapkan pada curah hujan yang tinggi, petani diminta tetap melakukan penanganan pascapanen dengan maksimal.
Petani mestinya bisa mengambil waktu yang tepat ketika menjemur padi. Selain itu, hujan yang akhir-akhir ini terjadi juga tidak terjadi merata di semua wilayah di Jabar.
“Kami masih punya harapan, kemarau akan muncul, di tengah hujan yang akhir-akhir ini terus terjadi. Ini sudah siklus tahunan,” jelas dia, Senin (14/10/2013).
Petani, lanjut Entang, mesti melakukan antisipasi apabila terjadi puso. Antisipasi tersebut diharapkan meminimalisir rendahnya produksi padi pada panen gadu.
Diakui dia, kontribusi padi pada panen gadu terhadap total produski padi di Jabar hanya sekitar 20-30 persen. Kontribusi terbesar dihasilkan pada musim panen raya antara bulan Februari-April. Kondisi ini menunjukkan faktor cuaca masih menjadi persoalan serius pada pertanian di Indonesia.
Berbeda dengan Thailand, dua musim panen di awal dan akhir tahun rata-rata menghasilkan produksi padi yang identik sama. Hal itu dikarenakan, pertanian di Thailand telah menggunakan teknologi.
Tindakan serupa, lanjut Entang, mestinya mulai diterapkan di Indonesia. Apabila panen raya dan panen gadu menghasilkan colume produksi padi sama, produksi padi Jawa Barat akan cukup besar.
“Pemerintah mestinya harus mulai memikirkan ini. Paling tidak, pemerintah bisa membuat regulasi agar swasta tertarik menggarap sektor pertanian di Indonesia. Yang terjadi saat ini kan sedikit sekali pengusaha yang mau menggarap sektor pertanian,” imbuh dia.
Petani mestinya bisa mengambil waktu yang tepat ketika menjemur padi. Selain itu, hujan yang akhir-akhir ini terjadi juga tidak terjadi merata di semua wilayah di Jabar.
“Kami masih punya harapan, kemarau akan muncul, di tengah hujan yang akhir-akhir ini terus terjadi. Ini sudah siklus tahunan,” jelas dia, Senin (14/10/2013).
Petani, lanjut Entang, mesti melakukan antisipasi apabila terjadi puso. Antisipasi tersebut diharapkan meminimalisir rendahnya produksi padi pada panen gadu.
Diakui dia, kontribusi padi pada panen gadu terhadap total produski padi di Jabar hanya sekitar 20-30 persen. Kontribusi terbesar dihasilkan pada musim panen raya antara bulan Februari-April. Kondisi ini menunjukkan faktor cuaca masih menjadi persoalan serius pada pertanian di Indonesia.
Berbeda dengan Thailand, dua musim panen di awal dan akhir tahun rata-rata menghasilkan produksi padi yang identik sama. Hal itu dikarenakan, pertanian di Thailand telah menggunakan teknologi.
Tindakan serupa, lanjut Entang, mestinya mulai diterapkan di Indonesia. Apabila panen raya dan panen gadu menghasilkan colume produksi padi sama, produksi padi Jawa Barat akan cukup besar.
“Pemerintah mestinya harus mulai memikirkan ini. Paling tidak, pemerintah bisa membuat regulasi agar swasta tertarik menggarap sektor pertanian di Indonesia. Yang terjadi saat ini kan sedikit sekali pengusaha yang mau menggarap sektor pertanian,” imbuh dia.
(gpr)
Lihat Juga :