RI harus hati-hati terhadap potensi default AS

Rabu, 16 Oktober 2013 - 20:56 WIB
RI harus hati-hati terhadap...
RI harus hati-hati terhadap potensi default AS
A A A
Sindonews.com - Menteri Keuangan (Menkeu), M Chatib Basri memprediksi permasalahan potensi Amerika Serikat (AS) mengalami gagal bayar utang (default) akan membawa dampak luas bagi negara berkembang termasuk Indonesia.

Chatib mengimbau agar Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya tetap berhati-hati dengan potensi tersebut. Karena selain potensi default, situasi ekonomi global terkini merupakan penyesuaian terhadap keseimbangan baru.

"Proses adjustment ini tentu harus dijaga dengan baik," ujar Chatib di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (16/10/2013).

Chatib juga melihat permasalahan potensi gagal bayar utang ini sudah mulai bisa dipecahkan dengan baik. Terbukti, dari kompromi antara Partai Demokrat dengan Partai Republik yang berdampak positif bagi pasar.

"Kalau kita lihat di market responnya sudah relatif calm ya di tiga hari terakhir. Kalau lihat rupiah diperdagangkan di batas bawah Rp11 ribu sampai batas atas Rp10 ribu kan. Kalau lihat bond yield-nya kita juga sudah 7,96 persen di bawah 8 persen. IHSG juga relatif stabil. Itu artinya market sudah tahu bahwa isu debt ceiling ini sudah diangkat," jelasnya.

Dia juga menyambut baik peran negara berkembang akan lebih diperdengarkan dalam kebijakan-kebijakan ekonomi negara maju terutama dalam menunda tapering off yang dilakukan Bank Sentral AS.

"Jadi saya kira pembicaraan cukup produktif dan baik untuk bicara mengenai pentingnya konsultasi dan koordinasi. Saya kira bukan hanya Indonesia, tapi negara maju seperti Italia dan AS juga mendukung," pungkas Chatib.

Seperti diketahui, total utang AS saat ini mencapai USD16,7 triliun yang akan jatuh tempo pada 17 Oktober 2013. Sementara itu, pemerintah dan Kongres AS belum memiliki titik temu mengenai penyelesaian masalah tersebut.

Akibat hal ini, China dan Jepang ikut khawatir. Pasalnya, China merupakan pemegang obligasi pemerintah AS terbesar yang mencapai USD1,28 triliun, diikuti Jepang senilai USD1,14 triliun.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Membaca Ketahanan Ekonomi...
Membaca Ketahanan Ekonomi RI dalam Dinamika Global Kuartal III 2025
Indonesia Butuh Rp47.587,3...
Indonesia Butuh Rp47.587,3 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi 8%
Bahaya! Deflasi Hantam...
Bahaya! Deflasi Hantam Ekonomi RI 5 Bulan Beruntun
Prabowo Sering Diejek...
Prabowo Sering Diejek karena Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 8%
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Selatan Kuartal I Tahun 2024
Dorong Industri Event...
Dorong Industri Event untuk Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Berita Terkini
Borong 20 Pesawat Boeing...
Borong 20 Pesawat Boeing Rp126 T, Taipan Filipina Selamatkan Maskapai Nasional dari Kebangkrutan
52 menit yang lalu
IHSG Senin Depan Diprediksi...
IHSG Senin Depan Diprediksi Lanjut Koreksi, Cermati Area 6.074-6.146
1 jam yang lalu
Ramalan Goldman Sachs...
Ramalan Goldman Sachs soal Harga Minyak Dunia Diwarnai Skenario Buruk Tembus USD145 per Barel
2 jam yang lalu
Ini Daftar Lengkap 60...
Ini Daftar Lengkap 60 Negara Terdampak Tarif Baru AS: Indonesia Kena 10%, Siapa Digetok 12,5%?
3 jam yang lalu
PLN EPI Perluas Kemitraan...
PLN EPI Perluas Kemitraan Global Bangun Rantai Pasok Hidrogen Hijau
14 jam yang lalu
Biaya Logistik Global...
Biaya Logistik Global Menggila, Ancaman Inflasi Tak Hanya dari Harga Minyak
14 jam yang lalu
Infografis
10 Negara Menaikkan...
10 Negara Menaikkan Harga BBM Akibat Perang AS-Iran, Banyak Tetangga RI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved