Pertumbuhan pasar properti di DKI mulai melambat

Kamis, 17 Oktober 2013 - 14:43 WIB
Pertumbuhan pasar properti...
Pertumbuhan pasar properti di DKI mulai melambat
A A A
Sindonews.com - Konsultan Properti Internasional Jones Lang LaSalle menuturkan, akselerasi pertumbuhan pasar properti Indonesia, khususnya di DKI Jakarta mulai melambat memasuki paruh kedua 2013.

Pelambatan ini diakibatkan dampak fluktuasi ekonomi yang terimbas oleh gejolak bursa saham dan potensi kenaikan inflasi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan keputusan Bank Indonesia menaikan BI Rate turut menjadi faktor pemicu menurunnya tingkat permintaan pasar. Karena daya belinya terpengaruh.

"Pelambatan yang terjadi di pasar properti dalam triwulan III ini tercermin dari menurunnya volume penjualan dan kenaikan harga yang tidak setinggi periode-periode sebelumnya," kata Head of Research Jones Lang LaSalle, Anton Sitorus dalam rilisnya, Kamis (17/10/2013).

Menurutnya, untuk mengantisipasi pelambatan ekonomi dan prospek iklim investasi ke depan, perusahaan-perusahaan pengguna gedung kantor komersial (tenant) juga terlihat menahan rencana ekspansi mereka. Ini tercermin dari menurunnya volume transaksi penyewaan ruang kantor di daerah CBD.

Walaupun terjadi pelambatan, lanjut Anton, volume permintaan pasar dan tren kenaikan harga yang terjadi masih terbilang positif bagi kinerja pelaku pasar khususnya developer dan investor.

Sementara, terkait sektor perkantoran komersial, Head of Markets Jones Lang LaSalle, Angela Wibawa mengatakan, bahwa penyerapan ruang kantor di daerah CBD dalam triwulan III mengalami penurunan dari sekitar 93,000 m2 di triwulan sebelumnya menjadi sekitar 61,000 m2.

"Namun, tingkat hunian masih tetap tinggi, bahkan naik tipis ke 93 persen karena tidak adanya penambahan pasok baru di periode ini," ujar Angela.

Dia menuturkan, permintaan di daerah Non-CBD tetap stabil. Di mana penyerapan dalam triwulan ini mencapai sekitar 39,000 m2 dengan tingkat hunian di kisaran 92 perse.

Seiring penurunan tingkat penyerapan, harga sewa pun bergerak lebih lambat dan cenderung stabil. Di mana kenaikan nilai rata-rata sewa yang terjadi lebih disebabkan melonjaknya nilai tukar rupiah yang memengaruhi tenant-tenant di gedung yang sewanya menggunakan rate dolar.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kontribusi Industri...
Kontribusi Industri Properti Terhadap PDB
Re/Max Solusi Ajak Generasi...
Re/Max Solusi Ajak Generasi Muda Terlibat dan Investasi Properti
Pasar Properti Membaik,...
Pasar Properti Membaik, Industri Pendukung Properti Lakukan Ekspansi
Sektor Properti Bangkit...
Sektor Properti Bangkit di 2025, Program 3 Juta Rumah Jadi Pendorong
Industri Properti Berikan...
Industri Properti Berikan Dampak Positif ke Pasar Gipsum
Dana Kurang, Tak Ada...
Dana Kurang, Tak Ada Salahnya Pakai Konsep Rumah Tumbuh
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
6 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
7 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
7 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
8 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
8 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
8 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved