Kuartal III/2013, BTPN bukukan laba bersih Rp1,8 T
Kamis, 24 Oktober 2013 - 14:54 WIB
Kuartal III/2013, BTPN bukukan laba bersih Rp1,8 T
A
A
A
Sindonews.com - Direktur Keuangan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN), Arief Harris mengungkapkan, perseroan berhasil membukukan laba bersih per 30 September 2013 menjadi Rp1,8 triliun atau meningkat 24 persen dari Rp1,4 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) berhasil dicatatkan perseroan sebesar 23 persen, atau lebih tinggi dari posisi CAR September 2012 sebesar 21,6 persen.
Arief mengungkap, dengan CAR sebesar 23 persen, pihaknya meyakini akan memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh, sekaligus mendukung inisiatif keuangan inklusif dengan melakukan inovasi-inovasi berkelanjutan agar dapat menjangkau masyarakat di pelosok yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan.
“Aset kami juga naik 17 persen dari Rp56,5 triliun pada 30 September 2012 menjadi Rp66,2 triliun,” ujar dia dalam public expose paparan kinerja kuartal III di Jakarta, Kamis (24/10/2013).
Tercatat, hingga akhir September 2013, penyaluran kredit perseroan juga mengalami pertumbuhan 22 persen dari Rp37,08 triliun pada 30 September 2012 menjadi Rp45,3 triliun.
Dia mengungkap, kenaikan pada sisi intermediasi ini tetap diimbangi dengan penerapan asas kehati-hatian yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) net sebesar 0,37 persen pada akhir September 2013, lebih rendah dari NPL net akhir September 2012 yang tercatat 0,39 persen.
Fokus BTPN dalam melayani segmen mass market kian mendapatkan perhatian dan kepercayaan dari masyarakat, yang tercermin dari naiknya dana pihak ketiga (DPK). Dikatakan Arief, melalui BTPN Sinaya nilai simpanan masyarakat tumbuh 15 persen dari Rp42,6 triliun per 30 September 2012 menjadi Rp49,03 triliun per 30 September 2013.
Menurutnya, masyarakat percaya, dengan menyimpan dana di BTPN Sinaya, selain mendapatkan tingkat pengembalian optimal, mereka juga memiliki kesempatan berkontribusi dalam memberdayakan masyarakat berpenghasilan rendah serta usaha mikro & kecil.
“Melalui BTPN Sinaya, BTPN menawarkan kesempatan kepada seluruh penabung dan deposan berpartisipasi dalam misi memberdayakan jutaan mass market di Indonesia,” tutupnya.
Sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) berhasil dicatatkan perseroan sebesar 23 persen, atau lebih tinggi dari posisi CAR September 2012 sebesar 21,6 persen.
Arief mengungkap, dengan CAR sebesar 23 persen, pihaknya meyakini akan memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh, sekaligus mendukung inisiatif keuangan inklusif dengan melakukan inovasi-inovasi berkelanjutan agar dapat menjangkau masyarakat di pelosok yang selama ini belum tersentuh layanan perbankan.
“Aset kami juga naik 17 persen dari Rp56,5 triliun pada 30 September 2012 menjadi Rp66,2 triliun,” ujar dia dalam public expose paparan kinerja kuartal III di Jakarta, Kamis (24/10/2013).
Tercatat, hingga akhir September 2013, penyaluran kredit perseroan juga mengalami pertumbuhan 22 persen dari Rp37,08 triliun pada 30 September 2012 menjadi Rp45,3 triliun.
Dia mengungkap, kenaikan pada sisi intermediasi ini tetap diimbangi dengan penerapan asas kehati-hatian yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) net sebesar 0,37 persen pada akhir September 2013, lebih rendah dari NPL net akhir September 2012 yang tercatat 0,39 persen.
Fokus BTPN dalam melayani segmen mass market kian mendapatkan perhatian dan kepercayaan dari masyarakat, yang tercermin dari naiknya dana pihak ketiga (DPK). Dikatakan Arief, melalui BTPN Sinaya nilai simpanan masyarakat tumbuh 15 persen dari Rp42,6 triliun per 30 September 2012 menjadi Rp49,03 triliun per 30 September 2013.
Menurutnya, masyarakat percaya, dengan menyimpan dana di BTPN Sinaya, selain mendapatkan tingkat pengembalian optimal, mereka juga memiliki kesempatan berkontribusi dalam memberdayakan masyarakat berpenghasilan rendah serta usaha mikro & kecil.
“Melalui BTPN Sinaya, BTPN menawarkan kesempatan kepada seluruh penabung dan deposan berpartisipasi dalam misi memberdayakan jutaan mass market di Indonesia,” tutupnya.
(gpr)
Lihat Juga :