Rupiah berpotensi terapresiasi di awal pekan
Senin, 28 Oktober 2013 - 08:32 WIB
Rupiah berpotensi terapresiasi di awal pekan
A
A
A
Sindonews.com - Sejalan dengan proyeksi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) diproyeksi akan turut menunjukkan laju positifnya didukung sejumlah pemberitaan dan data ekonomi.
"Rupiah berada di atas target resisten Rp11.240. Rentang rupiah berada pada kisaran Rp11.189-Rp11.123 per USD mengacu kurs tengah BI)," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Senin (28/10/2013).
Penguatan rupiah ini menyusul laju positifnya pada perdagangan akhir pekan kemarin setelah sehari sebelumnya laju nilai tukar rupiah terkoreksi, di akhir pekan kemarin laju rupiah kembali mengalami kenaikan.
Menurut Reza, terapresiasinya rupiah terimbas dari kenaikan sejumlah mata uang Asia dengan sentimen kenaikan indeks manufaktur China yang dibarengi dengan beredarnya spekulasi The Fed masih akan mempertahankan kebijakan stimulusnya setelah rilis data-data ketenagakerjaan AS masih di bawah ekspektasi.
"Selain itu, adanya pemberitaan kembali masuknya global funds ke pasar saham Indonesia turut membuat rupiah terapresiasi," pungkas dia.
Pada akhir pekan lalu, posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada di level Rp11.015/USD atau menguat 135 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp11.150/USD.
Adapun, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada di level Rp11.142/USD atau menguat 126 poin dibanding hari sebelumnya di level Rp11.268/USD.
"Rupiah berada di atas target resisten Rp11.240. Rentang rupiah berada pada kisaran Rp11.189-Rp11.123 per USD mengacu kurs tengah BI)," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada, Senin (28/10/2013).
Penguatan rupiah ini menyusul laju positifnya pada perdagangan akhir pekan kemarin setelah sehari sebelumnya laju nilai tukar rupiah terkoreksi, di akhir pekan kemarin laju rupiah kembali mengalami kenaikan.
Menurut Reza, terapresiasinya rupiah terimbas dari kenaikan sejumlah mata uang Asia dengan sentimen kenaikan indeks manufaktur China yang dibarengi dengan beredarnya spekulasi The Fed masih akan mempertahankan kebijakan stimulusnya setelah rilis data-data ketenagakerjaan AS masih di bawah ekspektasi.
"Selain itu, adanya pemberitaan kembali masuknya global funds ke pasar saham Indonesia turut membuat rupiah terapresiasi," pungkas dia.
Pada akhir pekan lalu, posisi nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg berada di level Rp11.015/USD atau menguat 135 poin dibanding penutupan sebelumnya di level Rp11.150/USD.
Adapun, posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI pada di level Rp11.142/USD atau menguat 126 poin dibanding hari sebelumnya di level Rp11.268/USD.
(rna)