Uni Eropa-AS kembali bahas perdagangan bebas

Senin, 11 November 2013 - 19:16 WIB
Uni Eropa-AS kembali...
Uni Eropa-AS kembali bahas perdagangan bebas
A A A
Sindonews.com - Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat memulai pembicaraan putaran kedua atas rencana kerja sama perdagangan bebas terbesar di dunia, di tengah skandal penyadapan yang merusak hubungan mereka.

Juru runding Uni Eropa Ignacio Garcia Bercero bersama Dan Mullaney dari Amerika Serikat, tampak melangkah di depan kamera untuk berjabat tangan, tetapi tidak mengeluarkan pernyataan atas negosiasi Kemitraan Perdagangan dan Investasi Transatlantik (TTIP).

Ini adalah pertemuan kedua setelah Oktober lalu, yang sempat tertunda akibat shutdown pemerintah AS.

Bocoran penyadapan dari mantan intelijen AS, Edward Snowden telah membuat marah negara-negara Eropa, yang memicu desakan dari beberapa kalangan agar pembicaraan TTIP dihentikan.

Perlindungan data pribadi merupakan isu yang sangat sensitif di Eropa mengingat sejarah kediktatoran brutal kiri dan kanan serta kekhawatiran lama bahwa raksasa perusahaan teknologi AS melihatnya lebih dari sebuah komoditas komersial daripada hak asasi manusia (HAM).

Seorang pejabat di Uni Eropa untuk pembicaraan perdagangan mengakui akan ada masalah kepercayaan. Mereka menekankan bahwa Eropa tidak akan berkompromi atas standar perlindungan data pribadi, bahkan ketika harus membahas masalah yang lebih luas transfer informasi.

"Transfer data ... adalah komponen kunci dari ekonomi modern," kata pejabat itu, seperti dilansir dari AFP, Senin (11/11/2013).

Menteri Luar Negeri AS John Kerry, pekan lalu, mendesak para pemimpin Eropa untuk mengabaikan isu penyadapan yang mengganggu jalannya diskusi TTIP, yang akan menciptakan ekonomi paling kuat di planet ini.

Pertemuan putaran ketiga dijadwalkan akan digelar di Washington, pada 16-20 Desember, dan kedua belah pihak menargetkan mencapai kesepakatan final pada akhir 2014. Dimana hubungan tersebut mencakup sekitar 40 persen dari output ekonomi global dan 50 persen dari perdagangan .

Uni Eropa memperkirakan kesepakatan akan membawa manfaat tahunan sebesar 119 miliar euro (USD160 miliar) untuk 28 negara dan 500 juta masyarakat di blok itu, kurang sedikit dari Amerika Serikat.
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Waspada Gejolak Ekonomi...
Waspada Gejolak Ekonomi Dunia
PBB Prediksi Ekonomi...
PBB Prediksi Ekonomi Dunia Stagnan di 2,8 Persen pada 2025
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor...
Utang Luar Negeri IndonesiaNomor 7 Terbesar di Dunia
Ekonomi China Pulih,...
Ekonomi China Pulih, Tumbuh 4,9 Persen Kuartal III 2020
Seram! Ketua OJK Beberkan...
Seram! Ketua OJK Beberkan Ancaman Ekonomi Dunia Tahun Depan
Prabowo: Ekonomi Indonesia...
Prabowo: Ekonomi Indonesia Diramal Masuk 5 Besar di Dunia
Berita Terkini
Gaduh Pengangkatan Komisaris...
Gaduh Pengangkatan Komisaris BUMN, Qodari: Penting untuk Kawal Agenda Negara
12 menit yang lalu
Vietnam dan Filipina...
Vietnam dan Filipina Bersaing Jadi Raja ASEAN, Mengapa Indonesia Tertinggal?
3 jam yang lalu
Guru Besar IPB: Klaim...
Guru Besar IPB: Klaim Kerugian Rp600 Triliun Akibat Under Invoicing Sawit Harus Diaudit Secara Independen
4 jam yang lalu
Komut Pertamina Salurkan...
Komut Pertamina Salurkan Seragam Sekolah bagi 200 Anak Prasejahtera di Banyuwangi
4 jam yang lalu
Jababeka Infrastruktur...
Jababeka Infrastruktur Raih 6 Penghargaan TJSLP/CSR Awards 2026 dari Pemkab Bekasi
5 jam yang lalu
IHSG Lesu dalam Sepekan,...
IHSG Lesu dalam Sepekan, Cermati Saham-saham yang Cuan dan Boncos
5 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved