Ekonom: Kenaikan UMK Jabar bisa timbulkan PHK massal

Senin, 18 November 2013 - 11:44 WIB
Ekonom: Kenaikan UMK...
Ekonom: Kenaikan UMK Jabar bisa timbulkan PHK massal
A A A
Sindonews.com - Tuntutan buruh atas kenaikan upah semakin mendesak keberlangsungan pengusaha industri. Awan gelap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun semakin nyata.

Untuk menjaga kestabilan, perusahaan perlu mengambil langkah rasionalisasi. Antara lain menaikan harga jual produk atau menekan biaya produksi termasuk jumlah karyawan. Apalagi, di Jawa Barat (Jabar) dengan predikat sebagai produsen tekstil terbesar nasional.

Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta mengatakan, di Jabar ada korelasi antara PHK dengan kenaikan upah. Karena industri yang ada bersifat padat karya. Salah satunya tekstil yang memporsikan tenaga kerja hingga 24 persen.

Industri ini sangat tergantung dengan pasar. Jika pasarnya positif, kemungkinan PHK bisa dikurangi. Namun jika negatif, pengurangan jumlah pegawai sulit dihindarkan.

Berbeda dengan industri padat modal, yang produksinya harus berlanjut walaupun biaya operasionalnya meningkat. "Di Jabar bisa jadi karena kolerasinya ada. Kalau UMK (Upah Minimum Kota/Kabupaten) ditolak pelaku usaha, karena memang keadaannya seperti itu," kata dia saat dihubungi Sindonews, Senin (18/11/13).

"Kalau industri padat modal seperti logam, bisa jadi tidak terjadi PHK. Karena bagaimana pun mereka harus beroperasi. Berbeda dengan padat karya yang bergantung dengan pasar," jelasnya.

Kondisi PHK massal, kata Acuviarta, sebenarnya sudah terlihat. Dari publikasi yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran di Jabar sebesar 9,22 persen.

"Kenaikan UMK ini tidak sendiri. Bisa berdampak pada suku bunga, BI-rate dan dampak lainnya. Termasuk pada pengurangan jumlah tenaga kerja yang bekerja," pungkasnya.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pengusaha Ancam Potong...
Pengusaha Ancam Potong Gaji Buruh, Jika Gubernur Naikkan UMP
Ini 6 Negara dengan...
Ini 6 Negara dengan Gaji Buruh Tertinggi di Dunia
BPS: Upah Nominal Buruh...
BPS: Upah Nominal Buruh Tani Meningkat 0,15%
Buruh Minta UMP 2022...
Buruh Minta UMP 2022 Naik 10%, KSPI Beberkan Alasannya
Sempat Alot, Upah Buruh...
Sempat Alot, Upah Buruh di Karawang Diusulkan Naik Jadi Rp5.797.000
Buruh Jawa Barat Tuntut...
Buruh Jawa Barat Tuntut Kenaikan Upah 8% pada 2021
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
6 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
7 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
8 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
8 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
8 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
8 jam yang lalu
Infografis
Waspada! 4 Makanan Ini...
Waspada! 4 Makanan Ini Bisa Picu Kesemutan di Tangan dan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved