Rupiah dibuka terdepresiasi ke Rp11.613/USD
Rabu, 20 November 2013 - 09:45 WIB
Rupiah dibuka terdepresiasi ke Rp11.613/USD
A
A
A
Sindonews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pagi hari ini terdepresiasi di tengah positifnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil kembali ke level 4.400an pada awal perdagangan.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pagi ini dibuka pada level Rp11.613/USD atau terdepresiasi 14 poin dari posisi penutupan perdagangan Selasa (19/11/2013) di level Rp11.599/USD.
Sementara data yahoofinance mencatat, mata uang domestik pagi hari ini di level Rp11.600/USD atau melemah tipis dibanding sore kemarin di level Rp11.598/USD.
Data Sindonews bersumber dari Limas mencatat bahwa rupiah hari ini pada level Rp11.603/USD atau masih sama dengan posisi rupiah pada penutupan hari kemarin.
Pengamat pasar valuta asing (valas) Bank Mandiri Reny Eka Putri melihat adanya peluang penguatan pada laju rupiah terhadap USD, meskipun sepanjang perdagangan Rabu ini lajunya masih akan fluktuatif pada rentang Rp11.360-Rp11.650/USD.
"Kalau kita lihat secara teknikal, rupiah ini sudah mengalami jenuh beli sehingga terbuka adanya peluang penguatan. Meskipun masih cenderung fluktuatif," kata Reny, Rabu (20/11/2013).
Peluang penguatan ini, Reny menjelaskan, didukung oleh sejumlah sentimen positif yang datang dari mitra dagang Indonesia, yakni China yang tengah melakukan reformasi ekonomi.
"Reformasi ekonomi di China mendorong meningkatnya ekspor yang berarti akan memberi dampak positif bagi mitra dagangnya termasuk Indonesia yang juga berpotensi ikut meningkatkan aktivitas ekspornya. Kalau ekspor Indonesia meningkat, itu akan bagus untuk rupiah," tutur dia.
Selain sentimen dari China, berita yang datang dari Amerika Serikat (AS) cukup memberi angin segar bagi laju rupiah. Hal ini lantaran semakin terang bederangnya komentar calon tunggal pemimpin The Fed yang baru Janet Yellen yang menyebutkan bahwa kebijakan stimulus ekonomi atau quantitif easing (QE) masih diperlukan setidaknya sampai Maret tahun depan.
Selain itu, dia menambahkan, pelaku pasar juga masih menunggu pernyataan dari Gubernur The Fed Ben Bernanke yang juga diproyeksi akan memutuskan untuk melanjutkan pemberian stimulus ekonomi.
"Penundaan pencabutan stimulus itu memberi sentimen positif bagi laju rupiah, sehingga membuka peluang penguatan meskipun hanya tipis," prediksi dia.
Nilai tukar rupiah terhadap USD berdasarkan data Bloomberg pagi ini dibuka pada level Rp11.613/USD atau terdepresiasi 14 poin dari posisi penutupan perdagangan Selasa (19/11/2013) di level Rp11.599/USD.
Sementara data yahoofinance mencatat, mata uang domestik pagi hari ini di level Rp11.600/USD atau melemah tipis dibanding sore kemarin di level Rp11.598/USD.
Data Sindonews bersumber dari Limas mencatat bahwa rupiah hari ini pada level Rp11.603/USD atau masih sama dengan posisi rupiah pada penutupan hari kemarin.
Pengamat pasar valuta asing (valas) Bank Mandiri Reny Eka Putri melihat adanya peluang penguatan pada laju rupiah terhadap USD, meskipun sepanjang perdagangan Rabu ini lajunya masih akan fluktuatif pada rentang Rp11.360-Rp11.650/USD.
"Kalau kita lihat secara teknikal, rupiah ini sudah mengalami jenuh beli sehingga terbuka adanya peluang penguatan. Meskipun masih cenderung fluktuatif," kata Reny, Rabu (20/11/2013).
Peluang penguatan ini, Reny menjelaskan, didukung oleh sejumlah sentimen positif yang datang dari mitra dagang Indonesia, yakni China yang tengah melakukan reformasi ekonomi.
"Reformasi ekonomi di China mendorong meningkatnya ekspor yang berarti akan memberi dampak positif bagi mitra dagangnya termasuk Indonesia yang juga berpotensi ikut meningkatkan aktivitas ekspornya. Kalau ekspor Indonesia meningkat, itu akan bagus untuk rupiah," tutur dia.
Selain sentimen dari China, berita yang datang dari Amerika Serikat (AS) cukup memberi angin segar bagi laju rupiah. Hal ini lantaran semakin terang bederangnya komentar calon tunggal pemimpin The Fed yang baru Janet Yellen yang menyebutkan bahwa kebijakan stimulus ekonomi atau quantitif easing (QE) masih diperlukan setidaknya sampai Maret tahun depan.
Selain itu, dia menambahkan, pelaku pasar juga masih menunggu pernyataan dari Gubernur The Fed Ben Bernanke yang juga diproyeksi akan memutuskan untuk melanjutkan pemberian stimulus ekonomi.
"Penundaan pencabutan stimulus itu memberi sentimen positif bagi laju rupiah, sehingga membuka peluang penguatan meskipun hanya tipis," prediksi dia.
(rna)