Pertamina disarankan batalkan rencana akuisisi PGN
Kamis, 21 November 2013 - 20:43 WIB
Pertamina disarankan batalkan rencana akuisisi PGN
A
A
A
Sindonews.com - Isu mengenai rencana Pertamina untuk melakukan akuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) direspon negatif dari para investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Melihat reaksi negatif tersebut, kalangan analis menyarankan agar pemerintah membatalkan niat tersebut.
"Disamping tidak menguntungkan secara bisnis, akuisisi ini juga akan membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang panjang," ujar Analis Samuel Sekuritas, Adrianus Bias Prasetyo di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/11/2013).
Menurutnya, jika emiten energi yang sahamnya diperdagangkan dengan kode emiten PGAS ini dikonsolidasikan ke dalam Pertamina maka dikhawatirkan akan menghambat bisnis PGN lantaran kondisi keuangan PGN bisa dibilang jauh lebih sehat ketimbang Pertamina.
Selain itu, jika PGN di bawah Pertamina, maka PGN akan mengikuti kebijakan Pertamina untuk melakukan open access. Dimana kebijakan tersebut justru merugikan PGN, sebab potensi margin yang diperoleh menjadi lebih kecil.
Dirinya menuturkan, saat ini, dana cash yang dimiliki PGN lebih besar ketimbang utangnya. Berbeda dengan Pertamina yang justru lebih banyak utang daripada kas. Buruknya reputasi pertamina tersebut tentu akan berimbas pada rating utang perseroan yang pada akhirnya akan berimbas pada kepercayaan pemilik modal terhadap perseroan.
"Misalnya saja kalau PGN mau cari utang baru untuk ekspansi akan jadi lebih sulit sebab nilai bukunya menjadi lebih jelek karena tertular utang Pertamina," ujar Adrianus.
Kembali menyoal respon investor perihal isu akuisisi tersebut, dapat terlihat dari pergerakan harga saham PGN yang terus menurun setelah isu tersebut muncul ke publik. Dari papan bursa terlihat, sejak awal pekan ini, harga saham PGN sudah turun hingga 5 persen dari Rp4.925 (18/11) menjadi Rp4.675 per saham (21/11).
"Disamping tidak menguntungkan secara bisnis, akuisisi ini juga akan membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang panjang," ujar Analis Samuel Sekuritas, Adrianus Bias Prasetyo di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (21/11/2013).
Menurutnya, jika emiten energi yang sahamnya diperdagangkan dengan kode emiten PGAS ini dikonsolidasikan ke dalam Pertamina maka dikhawatirkan akan menghambat bisnis PGN lantaran kondisi keuangan PGN bisa dibilang jauh lebih sehat ketimbang Pertamina.
Selain itu, jika PGN di bawah Pertamina, maka PGN akan mengikuti kebijakan Pertamina untuk melakukan open access. Dimana kebijakan tersebut justru merugikan PGN, sebab potensi margin yang diperoleh menjadi lebih kecil.
Dirinya menuturkan, saat ini, dana cash yang dimiliki PGN lebih besar ketimbang utangnya. Berbeda dengan Pertamina yang justru lebih banyak utang daripada kas. Buruknya reputasi pertamina tersebut tentu akan berimbas pada rating utang perseroan yang pada akhirnya akan berimbas pada kepercayaan pemilik modal terhadap perseroan.
"Misalnya saja kalau PGN mau cari utang baru untuk ekspansi akan jadi lebih sulit sebab nilai bukunya menjadi lebih jelek karena tertular utang Pertamina," ujar Adrianus.
Kembali menyoal respon investor perihal isu akuisisi tersebut, dapat terlihat dari pergerakan harga saham PGN yang terus menurun setelah isu tersebut muncul ke publik. Dari papan bursa terlihat, sejak awal pekan ini, harga saham PGN sudah turun hingga 5 persen dari Rp4.925 (18/11) menjadi Rp4.675 per saham (21/11).
(gpr)
Lihat Juga :